Home / Pendidikan / Tantangan Lima Tahun Transformasi IAIN Menjadi UIN

Tantangan Lima Tahun Transformasi IAIN Menjadi UIN

Palembang, BP

 

Institut Agama Islam Negeri resmi bertaranformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang pada 17 Oktober  lalu.

Artinya 17 Oktober 2019 kemarin genap berusia 5 tahun. Intitusi ini cikal bakal lahirnya adalah 1957, tahun itu dalam arena kongres ulama se Indonesia di Palembang.

 

“Beberapa ulama mencetus gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi islam. Waktu mendapat dukungan dari peserta kongres dan pemerintah. Sehingga lansung dilakukan persiapan, akhirnya 13 November 1964 diresmikan Institur Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang,” kata Rektor UIN Raden Fatah, Prof HM Sirozi MA PhD,  saat Sidang Terbuka Dies Natalis, merayakan 5 tahun tranformasi dari IAIN menjadi UIN Raden Fatah Palembang, di Akademik Center, UIN Raden Fatah, Kamis (17/10).

 

Lanjut Sirozi, berjalan selama 50 tahun, pada 17 Oktober 2014 bertanformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. “Sebenarnya kita merayakan 55 tahun institusi ini,” ungkapnya.

 

Momen diesnatalis ini mengadung dua arti. Yang pertama sebagai bentuk tasyakuran. Momen bersyukur bagi seluruh civitas akademika UIN Raden Fatah Palembang. “Dalam usianya yang masih 5 tahun bersetatus UIN, alhamdulillah institusi ini sudah bisa bergandengan dengan UIN lain yang usianya lebih tua,” ungkapnya.

 

Begitu lahir UIN Raden Fatah  dengan tantangan yang luar biasa, ada penambahan program studi (prodi), ada 17 penambahan prodi baru, ada 8 perombakan prodi lama, serta ada penambahan 3 fakultas.

 

“Lahirnya, prodi dan fakultas baru ini, kita meyakinkan kemenristekdikti, bahwa begitu menjadi UIN, kampus B di Jakabaring siap digunakan serana belajar. Namun manusia berencana, namun Allah yang menentukan,” katanya.

 

Kampus B mulai dibangun Oktober 2018, sekitar Maret 2020 bisa selesai, diperkirakan Juni atau Juli 2020 bisa ditempati.

 

Dengan keterlambatan itu, konsekuensinya mahsisswa terpaksa berdesak-desak di Kampus A yang memang sempit. “Betapa tidak selesai penerimaan mahasiswa baru tahun ini saja, jumlah mahasiswa mencapai 25 ribu. InsyaAllah Desember 2019 wisuda berkurang 1.000-1.500 mahasiswa,” ungkapnya lagi.

 

Kedua adalah dies natalis ini juga menjadi momen intropeksi diri. Sebab tugas UIN ini cukup berat, tidak hanya diamanatkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga diamanatkan menjadi lembaga yang mengembangkan ilmu-ilmu agama Islam.

 

“Dalam 5 tahun ini, seluruh dosen dan pimpinan bagaimana membuat prodi-prodi yang baru lahir ini menjadi terakreditasi. Agar lulusanya nanti mampu bersaing di dunia kerja. Dan tetap berahlak dengan bekal agama yang baik,” imbuhnya.

 

Pada momen dies natalis itu, juga dilaunching terjemahan Alquran berbahasa Palembang. Karya itu hasil kerja keras para dosen dan tokoh UIN, serta dukugan banyak pihak. Ketua Senat UIN Raden Fatah Palembang Prof H Aflatun Muchtar mengatakan setelah sekian lama, terjemahan Alquran dalam bahasa Palembanh resmi telah selesai.

 

“Ide ini kami dapatkan, setelah saya diundang menjadi salah satu juri MTQ di Gorontalo, disana ada Alquran berbahasa Gorontalo, kami pikir bisa juga dibuat dalam bahasa Palembang. Semoga karya ini menjadi catatan sejarah,” pungkasnya. #sug

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Andi Wijaya Siapkan Reward Atlet Renang Peraih Medali Porprov

HPalembang, BP–Kontingen Palembang dalam membidik tahta juara umum Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Prabumulih diperkuat oleh para tim manager yang ...