Home / Budaya / Ulama Palembang Menolak Berpolitik Itu Bernama Ki Kgs H Mattjik Rosyad

Ulama Palembang Menolak Berpolitik Itu Bernama Ki Kgs H Mattjik Rosyad

BP/IST Ki Kgs H Mattjik Rosyad dari masa ke masa

SETIAP kali ada pergelaran politik, para ulama dan tokoh agama –termasuk ustad, pemimpin ormas keagamaan, penceramah, pimpinan institusi agama, dan akademisi– ikut sibuk menjadi “corong” atau “echo” para politisi dan kandidat atau pasangan calon (paslon) tertentu.

Bahkan tidak sedikit para tokoh agama dan ulama yang ikut terjun langsung menjadi “paslon” dan “cawan” (calon dewan) bersaing dengan tokoh-tokoh dari kubu lain.

Fenomena paslon dan cawan dari kelompok ulama dan tokoh agama ini sudah menjadi trend dan “menggurita” pasca rontoknya rezim Orde Baru tahun 1998 yang menandai dibukanya kembali kran demokrasi di Indonesia setelah sekian lama “mati suri”.

Sejak itu, lantaran ada peluang dan kesempatan untuk menjadi politisi atau birokrat, banyak para tokoh agama dan ulama yang kambuh “syahwat” politiknya. Sampai saat ini, banyak tokoh agama dan ulama yang “ereksi” terhadap politik-kekuasaan.

Salah satu contoh ulama Palembang yang menolak masuk dunia politik adalah Ki. Kgs. H. Mattjik Rosyad, seorang tokoh ulama Palembang dan ahli dalam bidang Ilmu fiqih yang tiada bandingnya di zamannya.

Lahir di Palembang, 17 Agustus 1915 dan meninggal dunia di Palembang 1 Januari 1987.
Dia dikenal sebagai ulama Palembang yang dekat dengan masyarakat Palembang dan menolak ikut berpolitik apalagi saat era zaman Orde Baru , Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Golkar serta PDI sempat ingin menarik Ki. Kgs. H. Mattjik Rosyad aktip di dunia politik.

“Karena aku ini ulama, kalau kalian mau suruh dulur aku saja, Husin Umrie (PPP) , KH Zen Syukri (Golkar), walaupun demikian abah aku tuh fleksibel, kalau pejabat mau jadi cari dio bukan beliau cari pejabat, sekarang tebalik,” kata cucu Ki Kgs. H. Mattjik Rosyad, Kgs Mahmud (Cek Mud) menirukan ucapan kakeknya tersebut semasa hidup, Minggu (13/10).

Kemampuan yang dimiliki oleh Ki. Kgs. H. Mattjik Rosyad diakui Ketua DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) periode 1982-1987 (alm) H Zainal Abidin Ning, Zainal Abidin Ning sempat membandingkan jika UIN Raden Fatah bisa menghasilkan 200 sarjana tidak sama dengan kemampuan seorang Ki. Kgs. H. Mattjik Rosyad.

Menurut Cek Mud, kakeknya tersebut nama lengkapnya Ki. Kgs. H. Mattjik Rosyad bin Ki Kgs. H. Mahmud Rosyad bin Kgs. H. Mahidin bin Ki Kgs. H. Chotib Mahmud.Sedangkan ibunya bernama Nyayu Hj Maimunah.

Kelak ibunya ini yang memantapkan langkah Ki. Kgs. H. Mattjik Rosyad untuk menjadi ulama hingga akhir hayatnya meniru pilihan hidup kakeknya Ki Kgs. H. Mahmud Rosyad.

“Beliau salah satu pelaku perang lima hari lima yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 5 Januari 1947 dari unsur laskar , beliau berjuang bersama-sama RHA. A. Rifai Tjek Yan yang terakhir berpangkal kolonel dan sempat menjadi Walikota Palembang,” kata Cek Mud yang berprofesi sebagai ASN di Bekangdam II Sriwijaya ini.

Selain tak gentar dalam berperang, beliau ahli bela diri kuntaw dengan spesialis senjata besi cabang dan tembung (toya).

“Kawan beliau dulu pak Alamsjah Ratoe Perwiranegara , RHA. A. Rifai Tjek Yan, banyak itu, sudah almarhum,” katanya.

Karena berkat usulan Ketua DPRD Sumsel adalah (Alm) Zainal Abidin Ning , nama Ki. Kgs. H. Mattjik Rosyad diabadikan menjadi jalan TKR Mattjik Rosyad yang letaknya di seberang Griya Agung Palembang.

“Kelebihan beliau itu juga waktu berperang dulu ditembak idak bemakan itu saat perang lima hari lima malam, anak murid beliau pernah cerito itu dengan aku,” katanya.

Pendidikan dasar Ki. Kgs. H. Mattjik Rosyad didapat dari ayahnya sendiri, dengan mempelajari berbagai disiplin ilmu agama. Selanjutnya ia juga menuntut ilmu agama kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu, seperti: KH. Abubakar Bastari, KH. Daud Rusydn, KHA Rasyid Suddiq, Mgs.H. Nanang Masri, dan lain-lain.

Kepada gurunya KH. Abubakar Bastari, ia mempelajari Ilmu Tafsir dan Nahwu-Shorof. Sedang dalam bidang fiqih dan al-Qur’an, ia berguru kepada KH. Daud Rusydi dan KHA. Rasyid Siddiq al-Hafiz.

“Beliau cinta dengan agama sejak kecil karena langsung dididik oleh datuknya Ki Kgs. H. Mahmud Rosyad tadi, karena datuknya ini kiyai, beliau belajar di bawah batang pisang istilah, karena dulu zaman dulu Belanda, Belanda itu membodohi kita,” katanya.

Pendidikan formal dilaluinya dengan memasuki ”Madrasah Ahliyah 27 Ilir” Palembang dari tingkat Ibtidaiyah sampai tingkat Tsanawiyah dalam bimbingan Ki.Mgs.H. Nanang Masri selaku mudir Madrasah Ahliyah Palembang.

Sahabat-sahabat dekatnya dalam menuntut ilmu pada waktu itu antara lain: Kms.M. Dahlan Umary, KHM. Zen Syukri, Ki.Kgs.H. Abdus Somad, Ki.Kgs.H.M. Zen Mukti, dan lain-lain.

Beliau juga memiliki empat orang anak, dan hingga ini hanya dua orang yang masih hidup.
Sempat menjadi pejuang di laskar dan sempat bergabung di tentara Keamanan Rakyat (TKR), akhirnya beliau mantap meneruskan pilihan hidup untuk menjadi ulama guna mensyiarkan serta dakwah Islamiyah di Sumatera Selatan pada umumnya dan di Kota Palembang pada khususnya.
Selain itu, semasa hayatnya ia pernah menjadi juru tulis di Kelurahan 30 Ilir.

“Lalu Kiyai Abubakar Bastari karena beliau adalah Kepala Kantor Depag Tingkat 1 Sumsel, diajak kerja di Depag,” katanya sembari mengatakan kalau kakeknya tersebut berkerja di Depaq Tingkat I Sumsel sekitar tahun 1960an sambil mengajar sebagai guru fiqih di sejumlah lembaga pendidikan di Quraniah, Nurul Huda, Nurul Falah.

Selain itu beliau aktif melakukan dakwah di masjid-masjid, mushalla, majelis ta’lim dan sering kali pula menerima undangan ceramah ke rumah warga masyarakat pada satu hajatan.

“ Kalau beliau ceramah ramai yang datang, termasuk tukang becak dengar juga, beliau bisa penesan (humor),” katanya sembari mengatakan, kalau kakeknya dikenal amanah dan tidak mau menerima pemberian yang ada maksud dibelakangnya.

Ia juga dikenal sebagai pengurus Masjid Mahmudiyah Suro dan juga sebagai penceramah di Masjid Agung Palembang dan juri MTQ.

“ Beliau sempat menunaikan ibadah haji dari tahun 1963 dan tahun 1965 pulang ke Palembang,” katanya.

Terakhir ia pensiun dari Kantor Peradilan Agama tingkat l Provinsi Sumsel dengan jabatan terakhir Wakil Pengadilan Agama Sumsel tahun 1973-1974.

“Beliau sangat mengusai kitab Al Umm (tentang ilmu fiqih) karya Imam Syafei dan rajin menulis menggunakan bahasa arab gundul,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Tim Futsal Putra Putri Muba Melenggang ke Semifinal

Sekayu, BP–Tim futsal putra dan putri Muba berhasil merebut tiket semifinal di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumsel ke-XII di ...