Home / Headline / Hendardi: Bangun Perlawanan Semesta Terhadap Terorisme

Hendardi: Bangun Perlawanan Semesta Terhadap Terorisme

Hendardi

Jakàrta, BP–Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Republik Indonesia, Wiranto, menjadi korban penusukan terduga teroris berinisial SA alias Abu Rara beserta istrinya, FA.
Kepolisian RI dan Badan Intelijen Negara (BIN) menyebut Abu Rara merupakan anggota Jamaah Ansharu Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Abu Rara merupakan jaringan Abu Zee yang ditangkap Polisi di Bekasi (23/9).

Menurut Hendardi, pola organisasi dan pendekatan amaliah JAD bentukan Aman Abdurrahman, yang divonis mati untuk sejumlah kasus terorisme (22/06), memang berbeda dari organisasi terorisme lain yang melakukan aksi skala besar.
“Jejaring organisasi JAD sangat cair dengan sleeping cell (sel tidur) tidak terstruktur tetapi menyebar dan mengadopsi pendekatan lone wolf (bergerak secara sendiri-sendiri) dalam melakukan amaliah. Gerakan sporadis dan sendiri-sendiri dilakukan oleh anggota JAD yang meskipun tindakan kecil tetapi memelihara efek keresahan berkepanjangan.,” kata Hendardi dalam siaran persnya, Jumat(11/10).

Baca:  Hendardi: MoU Antara KPU dan PPATK Cara Mengawal Integritas Pemilu

Dikatakan, serangan terhadap Menko Polhukam harus dibaca sebagai serangan terhadap negara, yang menimbulkan efek berlapis dan memperpanjang usia keresahan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, aparat keamanan mesti meningkatkan kewaspadaan dengan mengantisipasi konsolidasi sel-sel tidur dan aksi teror yang memanfaatkan berbagai momentum politik nasional. Tetapi, antisipasi ini dilakukan dengan tidak melakukan generalisasi termasuk penggunaan isu intoleransi dan radikalisme sebagai alat penundukkan gerakan sipil yang melakukan koreksi atas sejumlah kekeliruan kebijakan sejumlah elemen negara.

SETARA Institute lanjut Hendardi, mengutuk segala bentuk terorisme dan ekstremisme kekerasan (violent extremism) serta penggunaan doktrin ideologis apapun untuk mengganggu dan merusak tatanan hidup bersama bangsa dan negara. Terorisme merupakan ancaman nyata.
“Pemerintah harus selalu menyiagakan dan memobilisasi sumber daya yang memadai untuk mencegah dan menangani ekspresi puncak ekstremisme kekerasan tersebut, demi menjaga dan melindungi keselamatan seluruh warga negara, tuturnya.
Meskipun demikian, kata dia, pencegahan terorisme menuntut pemerintah harus memiliki formula yang presisi, holistik dan berkelanjutan dalam kerangka HAM dan demokrasi. Pemerintah harus fokus pada hulu terorisme dan mempersempit enabling environment yang mempercepat inkubasi terorisme.
Ditambahkan, terorisme dan segala bentuk ekstremisme kekerasan merupakan musuh bersama seluruh bangsa dan umat manusia. Pencegahan dan penanganannya tidak cukup mengandalkan kelembagaan dan sumber daya negara. Negara memang harus menjadi agensi utama dalam pencegahan ekstremisme kekerasan. Tapi dibutuhkan partisipasi dan keterlibatan warga, khususnya dalam pencegahannya, sehingga akan terbangun perlawanan semesta terhadap terorisme.
Agenda penguatan ketahanan warga dalah kebutuhan untuk membentengi warga dari paparan dan intrusi gerakan dan narasi antikebinekaan dan Pancasila.
Dalam konteks itu, sambungnya, pendidikan Kebinekaan dan tata kelola yang inklusif harus digalakkan, agar seluruh anak bangsa dapat hidup bersama secara damai di tengah aneka perbedaan. Di samping itu, promosi toleransi mesti menjadi agenda kolektif yang berkelanjutan. Oleh karena itu merebaknya intoleransi dan radikalisme harus ditangani sejak dini. SETARA Institute mengingatkan kembali bahwa intoleransi merupakan anak tangga pertama menuju terorisme.#duk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pengemudi Etios Silver yang Meledak Shock dan Lemas Usai Selamat

Inderalaya, BP--Yudi Ade Firdaus, pengemudi mobil sedan Etios Valco brand Toyota warga Komplek Griya Lematang 2 0blok DN rt 69/9 ...