Home / Budaya / Kisah Meledaknya Granat Tanjung Enim di Tangan Kanan Kolonel Bambang Utoyo

Kisah Meledaknya Granat Tanjung Enim di Tangan Kanan Kolonel Bambang Utoyo

BP/DUDY OSKANDAR Sejarawan Sumatera Selatan (Sumsel) Syafruddin Yusuf dan poto Kolonel Bambang Utoyo saat menggunakan tangan kirinya, dan sejarawan Sumsel Syafruddin Yusuf.

SUATU hari di tahun 1947, di Lubuk Linggau, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) . Di kota itu, Komandan Divisi Garuda II Kolonel Bambang Utoyo mengalami musibah.

Entah bagaimana kejadiannya, yang jelas tangan Bambang Utoyo penuh darah dan hancur disebabkan oleh ledakan granat.

Sejarawan Sumatera Selatan (Sumsel) Syafruddin Yusuf menjelaskan kejadian tersebut terjadi di Desa Mangunjaya, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) antara tahun 1947 hingga 1948.

“ Kejadiannya bukan di Kayu Agung, tidak pernah pak Bambang Utoyo masuk Kayu Agung,” katanya, Kamis (10/10).

Dijelaskannya, Sub Komando Sumatera Selatan (Subkoss) Panglimanya Kolonel Simbolon lalu di 10 Januari 1947 Subkoss berubah nama menjadi Divisi VIII Garuda yang membawahi 4 sub teritorial Palembang, Bengkulu, Lampung, Jambi.

“ Pak Bambang Utoyo itu Komandan Sub Teritorial Palembang (STP) jadi waktu Agresi Militer I oleh Belanda, pak Bambang markas STP di Prabumulih dan markas divisi VIII ada di Tanjung Enim, pak Bambang lalu mundur setelah Payakabung, Prabumulih dikuasai Belanda,” katanya.

Baca:  2 hari LCC Sejarah Peserta Tunjukkan Kemampuan Terbaik

Mundurnya Bambang ke arah Simpang Belimbing, Muaraenim sampai ke arah Sekayu, jadi tidak pernah masuk Kayu Agung dan pada waktu mundur itulah, kalau aku dapat cerito dari kawan Bambang Utoyo Kolonel Aziz Kidip yang saat itu pangkatnya masih Lettu.

“Cerito pak Aziz Kidip, waktu itu pasukan kita mau mencoba granat Tanjung Enim karena waktu zaman revolusi Tanjung Enim itu tempat pembuatan senjata, itulah ada meriam Landsmin yang pendek, itu produk Tanjung Enim, “ katanya.

Granat Tanjung Enim menurutntya berbeda dengan granat milik Belanda, kalau granat Belanda ada pengamannya (Ket), kalau produk Tanjung Enim ini kepala granat di benturkan dulu baru dibuang dalam sekian detik.

“ Anak buah pak Bambang ini mau mencoba granat Tanjung Enim dibenturkan dua kali tidak meledak, lalu di coba pak Bambang Utoyo langsung meledak , jadi meledak saat posisi tangan kanan pak Bambang memegang granat Tanjung Enim,” katanya.

Baca:  Pemimpin  Indonesia Tidak Lagi Suka Berbicara Sejarah

Selanjutnya Bambang Utoyo langsung dilarikan ke Rumah Sakit Lubuk Linggau yang membawa adalah Lettu Aziz Kidip.
“ Yang operasi dan merawat pak Bambang adalah Ibnu Sutowo, karena sesudah agresi I Belanda itu, markas divisi VIII dari Tanjung Enim pindah ke Lubuk Linggau dan markas STP untuk melindungi Lubuk Linggau ada di Muara Beliti,” katanya.

Sedangkan Letnan Kolonel Ibnu Sutowo, Kepala Staf Sub Komando Sumsel dalam bukunya Ibnu Sutowo, Saatnya Saya Bercerita juga mengisahkan Bambang kejadian meledaknya granat di tangan kanan Bambang Utoyo.

“Saya segera bertindak sebagai dokter dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang serba tidak memadai. Di sebuah klinik sederhana, disertai doa dan niat yang teguh, tangan Pak Bambang terpaksa saya potong dengan cara dan alat-alat darurat,” katanya.

Baca:  Pameran Sejarah Bertema Olahraga Akan Di Gelar Di Palembang

Ibnu Sutowo, yang berlatar belakang seorang dokter yang memimpin rumah sakit Plaju dan Rumah Sakit di Palembang ini mengaku setelah mengoperasi tangan Bambang Utoyo merapikan dengan jahitan.

“Saya merasa beruntung terlatih waktu di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) dulu. Alhamdullilah operasi selesai dengan baik. Saya berusaha mengoperasi sebaik mungkin, sesuai ketentuan-ketentuan dalam ilmu kedokteran. Tetapi entah bagi Pak Bambang, saya tidak dapat membayangkan penderitaan yang dialaminya.

Beberapa hari usai amputasi, Pak Bambang mulai belajar menulis dengan tangan kirinya, kemudian meneruskan perjuangannya,” tulis Ibnu Sutowo yang kelak menjadi Direktur Utama pertama dari BUMN yang kini bernama PT Pertamina (Persero).

Ibnu Sutowo juga sempat dongkol dengan Bambang Utoyo yang dinilainya tidak disiplin dalam makan. Dan jika ada sakit yang dirasanya, ia menyalahkan sakit gulanya.

“Bahwa hasil amputasi dan jahitan saya itu benar, saya ketahui setelah Pak Bambang-sekian tahun kemudian-berobat ke J erman. Kata Pak Bambang sendiri, hasil pekerjaan saya itu dipuji oleh dokter di Jerman. Tentu saja saya senang mendengarnya,” kata Ibnu Sutowo. #osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pengemudi Etios Silver yang Meledak Shock dan Lemas Usai Selamat

Inderalaya, BP--Yudi Ade Firdaus, pengemudi mobil sedan Etios Valco brand Toyota warga Komplek Griya Lematang 2 0blok DN rt 69/9 ...