Home / Budaya / Dipengaruhi Hindu-Budha, Tata Kota Palembang Masa Islam di Abad 16- 19 Tonjolkan Kearifan Lokal

Dipengaruhi Hindu-Budha, Tata Kota Palembang Masa Islam di Abad 16- 19 Tonjolkan Kearifan Lokal

BP/DUDY OSKANDAR Suasana ujian disertasi program Doktor Program Studi Peradaban Islam Pascasarjana di UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (9/10), yang diikuti arkeolog senior dari Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumatera Selatan.

Palembang, BP–Perkembangan permukiman dari kampung (vanua) di Palembang sampai akhirnya menjadi kota dapat ditelusuri dari masa Kerajaan Sriwijaya sampai masa kesultanan. Perkembangan permukiman ini disebabkan oleh ekologi geografis dan ekologi sosial-budaya masyarakat pendukungnya yang sangat toleran dan sangat menonjolkan kearifan lokal.
Dalam perkembangannya ternyata pola penataan kota Palembang yang awalnya dipengaruhi Hindu-Budha di Palembang dan terakhir dikembangkan Islam di Palembang bisa berjalan damai dan aman tanpa adanya bentrok etnis dan agama di Palembang saaat itu pada abad ke 16-19.
Hal tersebut terungkap dalam Ujian disertasi program Doktor Program Studi Peradaban Islam Pascasarjana di UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (9/10) yang diikuti arkeolog senior dari Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Retno Purwanti.
Ujian disertasi program Doktor Program Studi Peradaban Islam oleh Retno tersebut mengambil judul Disertasi Pengaruh Hindu Budha Pada Tata Kota Palembang Masa Islam Abad ke 16-19 dengan Ketua tim penguji adalah Dr. Abdurrahman dan Sekretaris Dr. M. Adil. Retno sendiri berhasil mempertahankan disertasinya didepan tim penguji.
“Tata Kota di Palembang yang awalnya mengandung unsur Hindu dan Budha tetap bertahan walaupun Islam telah masuk di kota Palembang. Meskipun di sini masih berlaku unsur melayu segala macam tapi tetap unsur Hindu –Budha bertahan dan tidak di hapuskan oleh Islam, inilah bentuk nyata dari kearifan lokal dulu yang telah dibangun nenek moyang kita,” kata Retno.
Retno mencontohkan makam Ki Gede Ingsuro di Palembang yang merupakan pendiri kerajaan Palembang yang di berada di tengah Candi Hindu yang merupakan bukti keharmonisan antara Hindu-Budha dan Islam.
“ Dimana fungsi Candi di Makam Ki Gede Ingsuro beralih menjadi makam, itulah bentuk kearifan lokal yang telah dibangun nenek monyang kita dulu, bisa hidup berdampingan dengan agama berbeda. Kita membangun sesuatu yang baru butuh bahan, butuh tenaga, kenapa kita tidak memanfaatkan bahan yang sudah ada, tapi dikasing yang berbeda itu lebih murah, lebih praktis daripada mulai dari nol,” katanya.
Dan itulah bentuk nyata bagaimana leluhur Palembang dulu menghargai apa yang telah dibangun dengan susah payah dan itu harus dihargai dengan memanfaatkan lokasi yang sama walaupun dengan memanfaatan yang berbeda.
“Di catatan sejarah pembangunan tata kota Palembang dari karakter Hindu Budha ke Islam tidak ada bentrok antar warga, bahkan di Nusantara juga tidak ada bentrok terkait pembangunan tata kota dari karakter Hindu-Budha ke Islam, malah saling menghargai dan saling menghormati sebagai warga Palembang saat itu yang berbeda agama, “ katanya.
Apalagi menurutnya, pada masa Kerajaan Sriwijaya luas kota dan tingkat kepadatan permukiman dapat dilihat melalui persebaran situs-situs arkeologi di Palembang. Heterogenitas penduduk dapat diketahui dari prasasti Telaga Batu dan tinggalan arkeologi yang bersifat sosiofak. kehidupan kota yang kompleks dan majémuk semacam itu dapat dibuktikan dari data arkeologi, data tekstual, dan piktorial.
“Pola permukiman masa Kerajaan Sriwijaya tidak berbeda dengan masa kesultanan. Bahkan, banyak situs-situs dari masa Kerajaan Sriwijaya digunakan kembali (reused) pada masa kesultanan. Pada masa Kerajaan Sriwijaya kota dilengkapi dengan keraton yang diduga berada di Situs Karanganar. Adapun pusat peribadatan terletak di Situs Bukit Siguntang,” katanya.
Selain, Bukit Siguntang terdapat tempat peribadatan lainnya, yaitu di Situs Candi Angsoka, Situs Lemabang, Situs Pagaralam, Situs Telaga Batu dan Situs Gedingsuro. Seluruh tempat peribadatan tersebut terletak di sebelah utara keraton dan di sebelah utara Sungai Musi.
Pada masa Sriwijaya belum dikenal adanya benteng pertahanan dalam bentuk dinding pagar keliling (kuto) seperti pada masa Islam.
Namun, parit keliling dalam bentuk parit-parit buatan sudah diterapkan pada waktu itu. Pemilihan lokasi kekraton, yang tidak tepat berada di tepi Sungai Musi, didasarkan pada pertimbangan pertahanan dan keamanan. permukiman pada masa Sriwijaya sudah dikelompokkan. Kota pada masa Kerajaan Sriwijaya masih merupakan kota awal.
“Penataan kota pada masa ini dilandasi oleh konsep Buddisme yang menjadi agama negara. Lokasi permukiman pada masa Kerajaan Sriwijaya berada di sepanjang daerah aliran Sungai Musi. Pada masa itu, pemukiman juga sudah dikelompokkan berdasarkan profesi dan status sosial masyarakatnya. Transportasi dan komunikasi antar kelompok pemukiman menggunakan jaringan sungai dengan sarana perahu,” katanya.
Selain, itu menurutnya, komponen-komponen di alas, pada masa Kerajaan Sriwijaya juga telah dibangun taman, yaitu Taman Sriksetra seperti yang disebutkan dalam prasasti Talangtuo. Lokasi taman ini terletak jauh dari pusat pemerintahan, yaitu berjarak sekitar 5 kilometer ke arah barat daya. Taman pada masa ini diperuntukkan bagi seluruh makhluk.
“Berdasarkan telaah atas faktor alam dan ekonomi dapat disimpulkan bahwa lokasi penempatan komponen-komponen kota pada masa Kerajaan Sriwijaya dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan: kemudahan sumber-sumber kehidupan, dan kemudahan untuk pertahanan-keamanan. Pemilihan lokasi seperti itu tampaknya dilanjutkan pada masa kesultanan Palembang Darussalam. Meskipun démikian, dalam penempatan tata ruang kota terhadap komponen-komponen kota tidak seluruhnya mengikuti tata ruang kota masa Kerajaan Sriwijaya. Hal ini disebabkan perbedaan ideologi dimana pada masa Kerajaan Sriwijaya berlandaskan agama Buddha, sedangkan pada masa kesultanan berlandaskan agama Islam,” katanya.
Apalagi menurutnya, kota-kota pusat pemerintahan bercorak Islam di Palembang dimulai pada abad ke-16 dan berkembang sampai abad ke-19. Keberadaan pusat pemerintahan bercorak Islam, ini menunjukkan, bahwa masyarakatnya memiliki pemikiran yang lslami. Konsep lslami ini kemudian dituangkan dalam bentuk perencanaan dan pembangunan tala ruang kotanya Meskipun, demikian tampak bahwa beberapa aspek budaya pra Islam tetap hidup dan diberi sentuhan keislaman.
“Rekonstruksi tata ruang komponen-komponen pokok kota-kota pusat pemerintahan Kerajaan Islam di Palembang secara horisontal adalah: keraton yang dibatasi oleh kuto (benteng) dan parit (sungai) berdiri di ruang paling tengah. Diduga wilayah yang berisi kedua komponen ini sama dengan pengertian pusat (kutagara) di dalam pembagian wilayah kerajaan. Komponen-komponen pokok lain berada di luar kuto, yaitu wilayah iliran (nagaragung), dengan masjid di sebelah timur laut (utara) dan kompleks pemakaman kerajaan berada di wilayah pinggir, di sisi timur.,” katanya.
Jika dibuat rekonstruksi menurut Retni, tata ruang tersebut membentuk pola segi empat kosentris, yang diwujudkan dalam denah benteng keliling (kuto) dan bastion-bastionnya. Pola geometris segi empat ini diduga berakar dari kepercayaan pra. Islam, yaitu Hindu-Budha ada masa Kerajaan Sriwijaya. Meskipun demikian, tata ruang pusat kota (civic center) justru berbeda dengan tata ruang kawasan yang sama pada masa Kerajaan Sriwijaya.
“Hal ini diduga karena hasil pemikiran para pemikir Islam pada waklu itu. Penataan ruang seperti itu tentu tidak lepas dari pandangan kosmologis bahwa raja-dan kratonnya-adalah pusat dari mikrokosmos, yaitu kota dan lebih luas lagi kerajaan, Pusat ini tidak hanya dalam pengertian fisik, tetapi juga dalam pengertian sosial-budaya, karena kawasan tersebut juga menjadi pusat kehidupan sosial-budaya yang sangat besar pengaruhnya pada daerah-daerah di sekitarnya,” katanya.
Terbukti pula bahwa kehidupan itu bukan hanya untuk menunjang keperluan batiah. Di dalam kemunculan dan perkembangannya, berbagai peristiwa politik ikut pula memberikan ciri-ciri yang khas. Di samping itu, kemajuan teknologi juga berpengaruh dalam mewujudkan konsep yang dimiliki pembuat dan penatanya.
“Posisi kota-kota pusat pemerintahan Kesultanan Palembang di dalam rangkaian “mata rantai” sejarah perkotaan di Sumatera adalah sebagai pengembang dan penegas pola kota, tata ruang kota, dan kehidupan masyarakat kota Sumatera yang Islami, yang embrionya muncul di Aceh,” katanya.
Atas keberhasilannya tersebut, Retno mengaku bersyukur kepada Allah SWT dan semua pihak yang mendukungnya dalam menyelesaikan pendidikannya tersebut.
“Alhamdulillah hari ini ujian berjalan lancar dan dinyatakan lulus oleh penguji,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Muba Beni Hernedi yang sempat hadir mengucapkan selamat atas capaian Retno Purwanti yang telah dinyatakan lulus ujian disertasi oleh tim penguji. “Selamat atas kelulusan ujian disertasi Ibu Retno,” kata Beni.
Ia berharap, agar ke depan Retno bisa turut andil menggalih lebih dalam lagi tentang kerajaan Sriwijaya. “Selain itu, Pemkab Muba juga mengajak Ibu Retno untuk turut memberikan sumbangsih untuk kemajuan penggalian sejarah di Muba,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pengemudi Etios Silver yang Meledak Shock dan Lemas Usai Selamat

Inderalaya, BP--Yudi Ade Firdaus, pengemudi mobil sedan Etios Valco brand Toyota warga Komplek Griya Lematang 2 0blok DN rt 69/9 ...