Home / Headline / “Kini Desa Gajah Mati, Tidak Hanya Mati Namanya, Orangnya Hidup”

“Kini Desa Gajah Mati, Tidak Hanya Mati Namanya, Orangnya Hidup”

Produk herbal yang dihasilkan dari kelompok Toga Herbal Kenanga kecamatan Babat Supat kabupaten Musi Banyuasin.

Palembang, BP
Desa Gajah Mati kecamatan Babat Supat kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan (Sumsel) , perlahan kini mulai dikenal namanya dengan tanaman herbalnya setelah di bina oleh PT Medco E&P Indonesia. Saat ini Desa Gajah Mati bukan sekadar hanya mati namanya , namun kini orangnya hidup dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat melalui tanaman herbal yang diolah dalam berbagai jenis produk.

Awal menginjakkan kaki di Desa Gajah mati suasana sepi terasa ditambah debu dan asap kendaraan yang lewat berterbangan dimana. Sepanjang mata memandang hanya tanaman karet dan sawit yang nampak seakan tak terputus . Dari desa yang dilewati jalur jalan lintas Sumatera ini, siapa yang menyangka, sejumlah ibu rumah tangga yang kreatif mampu mengukir prestasi hingga tingkat nasional melalui tanaman herbalnya.
“Dengan tanaman herbal ini , kami bisa menolong keuangan dari kami dan memberikan kegiatan kepada ibu-ibu yang memang pendidikannya tidak tinggi , tidak ada yang namanya sarjana, ada yang tamat SD, ada yang SDnya enggak selesai , ada tamat SMP dengan adanya, pelatihan ini saya ajak mereka, alhamdulilah mereka bisa dan tahu memahami arti yang namanya obat dan yang namanya tanaman, tanaman disini tadinya rumput, tidak kita kenal tapi alhamdulilah dengan adanya pelatihan , pelajaran yang sudah kita pelajari, sudah kita ikuti mereka lebih tahu yang namanya rumput bisa di buat obat,” katanya Ketua kelompok Toga Herbal Kenanga, Yeni Lusmita kepada wartawan di sela-sela kegiatan Field Trip di wilayah PT Pertamina Asset 2 (Limau) dan PT Medco E&P Indonesia (Rimau/Kaji) kegiatan ini berkerjasama dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Sumbagsel berkerjasama dengan Wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas (FJM), Selasa (1/10).
Selain itu menurutnya, Kenanga adalah salah satu Kelompok Tanaman Obat Keluarga hadir sejak tahun 2011 namun mulai aktif sejak 2012 hingga saat ini sudah ada 200 jenis tanaman herbal yang sudah dibudidayakan baik yang memang berasal dari Desa Gajah Mati maupun dari luar.
Kelompok ini juga memiliki fasilitas seperti Pondok Herbal yang melayani theraphy konsultasi serta menyediakan obat dan jamu herbal, berbagai macam snack dan makanan herbal serta minuman herbal.
“Kita juga ada Koperasi Wanita Herbal Bersatu yang dikelola oleh ibu-ibu KWT Kenanga. Kemudian fasilitas saung kenanga yang dipergunakan ibu-ibu untuk melakukan kegiatan keterampilan membuat kerajinan dari barang-barang bekas hingga belajar terapis kesehatan,” katanya.
Saat ini menurutnya, jumlah kelompok kerja di Desa Gajah Mati ada satu , tapi ditempatnya sudah ada 5 karyawan. Selain itu, pihaknya juga aktif mengikuti perlombaan tanaman herbal, adapun prestasi yang sudah dicapai Juara 1 lomba tingkat Provinsi Sumsel dan Juara 2 tingkat Nasional.
“Alhamdulilah .. tuhan memberkati kita , tuhan melindungi kita, tuhan menunjukkan kita, bahwa Desa Gajah Mati ini, tidak hanya mati, namanya aja mati, orangnya hidup,” katanya.
Dampak postifnya masyarakat yang tergabung dalam pengelolaan tanaman obat ini menurut Yeni mulai mengalami perbaikan ekonomi, dimana rata-rata pendapatan perorang yang mereka terima senilai 5 juta perbulan dengam model penjualan dari mulut ke mulut.
Saat ini menurutnya, tanaman obat untuk penyakit Diabetes, Kolestrol dan Asam Urat paling banyak diminati, dimana pembeli berasal dari Ogan Ilir, Pagaralam, OKU dan Lombok.
Selain itu, kurang lebih ada 200 tanaman obat keluarga herbal ditanamnya dan juga dipupuk . Tanaman herbal itu sudah dikemas menjadi obat siap dikonsumsi bagi orang yang membutuhkan semua berbagai keluhan penyakit. Kemasan itu bisa berbentuk kapsul maupun serbuk untuk berbagai obat jenis penyakit.
Yeni tidak lupa mengucapkan berterima kasih dengan PT Medco yang merupakan salah satu binaan kelompok tanaman obat keluarga (TOGA) Kenanga. PT Medco sudah membantu pembibitan, pupuk, pelatihan cara merawat tanaman toga yang langsung belajar dari Jakarta untuk terapkan di Desa Gajah Mati dan juga sebulan sekali ada penyuluhan dan pelatihan di tempat Kenanga.
” Dengan Adanya kegiatan Binaan oleh PT Medco, kami dapat tambahan penghasilan perbulannya kurang lebih Rp 5 juta. Soal pemasaran, obat herbal produksi kami ada yang datang langsung dan sebagian juga dijual secara online,” katanya.
Namun bagi Kades Gajah Mati Suryanak tidak bisa membayangkan kondisi desanya jika pihak PT Medco E & P Indonesia tidak masuk dan melakukan membina warga kepada warganya sehingga bisa menghasilkan produk-produk dari tanaman herbal.
Kini kelompok Toga Kenanga yang merupakan salah satu binaan oleh PT Medco E& P Indonesia Rimau / Kaji terbukti telah membantu penambahan pemasukan warganya dalam menjual obat herbal.
Selain itu juga PT Medco memberikan bantuan berupa sebuah gedung perpustakaan di Embung Senja .Untuk anak-anak yang mau belajar dihari minggu Gratis dan komputer dibantu oleh Perpustakan Nasional.
” Kurang lebih 1,130 kepala keluarga warga Desa Gajah Mati dan 3500 kurang lebih Jiwa penduduk mayoritas pencahariannya berkebun,” kata Suryanak.
Suryanak sangat mengapresiai PT Medco E & P Indonesia yang telah membina warga sekitar sehingga bisa menghasilkan produk-produk dari tanaman.
“Sebelumnya tanaman ini tidak berguna tapi setelah adanya proses pembelajaran dari PT Medco E & P Indonesia ternyata banyak sekali tanaman di desa kami yang dapat digunakan sebagai obat obatan,” katanya .
Suryanak menambahkan kendala saat ini adalah biaya, namun dengan bantuan dari Pemerintah melalui pengajuan Alokasi Dana Desa Tahun 2019, dirinya mendapatkan kucuran dana senilai 15 juta guna pengembangan tanaman obat, pembelian pencetakan kue dan lain sebagainya.
“Kedepan kami akan melakukan relokasi dari dusun 4 ke dusun 2 dengan luas tanah 1 hektar dimana lokasi tersebut akan dilengkapi dengan embung sehingga penataan tanaman lebih rapi dan dilengkapi rumah produksi”, katanya.
Ditempat terpisah Hendri Payana selaku Teknisi Program Pemberdayaan Masyarakat PT Medco E & P Indonesia menambahkan bahwa program pemberdayaan yang sudah dilakukan PT Medco E & P Indonesia dari tahun 2011 adalah Program Tanaman Obat keluarga, mulai dari pengenal jenis, proses pemanfaatan dan pengelolaan. Saat ini sudah 15 jenis produk yang sudah legal dan sudah di jual belikan secara resmi, diantaranya 3 produk sudah mendapatkan serifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia.
“Toga di bawah binaan kami sudah ada 15 kelompok dari dua Kabupaten yaitu Banyuasin dan Musi Banyuasin.Kepada binaan kita berikan pemahaman mengenai fungsi tanaman obat dan proses pemanfatan serta pengelolaannya,” kata Hendri.
Di sisi lain, Community Develolopment PT Medco E&P Rimau Asset 2, Novita Ambarsari menilai suatu perusahaan memiliki kewajiban untuk melakukan pembinaan untuk mengembangkan perekonomin masyarakat. Bahkan bukan hanya soal minyak dan gas saja.
Karena itu pihak PT Medco E&P Rimau melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan pemerintah setempat terutama warga koperasi Toga (Tanaman obat Keluarga) Desa Gajah Mati Kecamatan Babat Supat Muba yang sudah memiliki merupakan desa yang dinilai potensial untuk dikembangkan
Karena itulah Perusahaan hulu Migas di Sumsel ini membantu pemberdayaan masyarakat Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin
“Membina masyarakat untuk menanam tanam-tanaman untuk bahan obat-obat herbal, untuk meningkatkan pendapatan keluarga.Di Desa Gajah Mati ada salah satu binaan yang sekarang ini sudah bisa dikatakan mandiri, yaitu Pondok Herbal yang diketuai oleh Ibu Yeni Lusmita,” katanya.
Novita menambahkan untuk pengolahan tanah semuanya organik karena tanaman obat adalah makanan yang dimasukkan ke tubuh jadi apa yang masuk ke tubuh juga harus baik.
“Kemudian kemampuan ibu-ibu ini ditingkatkan tidak hanya sekedar memanfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya, tapi juga hasil bisa diolah menjadi beragam produk makanan dan minuman yang berhasiat untuk tubuh dan juga mendatangkan nilai ekonomis bagi pelaku budidaya tanaman obat,” katanya.
Ia menambahkan, ibu-ibu yang tadinya masih tersebar dikumpulkan dalam satu kelembagaan koperasi herbal bersatu yang menjadi koperasi wanita pertama di kabupaten Musi Banyuasin.
“Dengan keberadaan koperasi ini sangat membantu dalam sisi pengajuan izin pangan rumah tangga sebagai koperasi. Dengan adanya izin maka diperkenankan untuk mengemas minuman herbal menjadi produk yang sudah memenuhi standar dari Dinas kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin, selain pembinaan dalam tanaman herbal, kami juga lengkapi kemampuan mereka dalam pijat refleksi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Forum Jurnalistik Migas (FKJM) Sumsel, Oktaf Riady menyambut baik kegiatan field trip dan media kompetisi ini.
Menurutnya, selama ini antara FKJM dan SKK Migas telah terjalin kerjasama. Dengan adanya kegiatan field trip ini tentunya apa yang telah dilakukan baik oleh SKK Migas ataupun para kontraktor kontrak kerjasama migas di wilayahnya terkait program pemberdayaan masyarakat akan terbantu tersosialiasikan ke khalayak luas. kegiatan FJM Sumsel ini sudah terjalin dengan baik, yang sudah dibangun lama. Kegiatan ini sangat bagus, selain mendapatkan edukasi juga ada resfresing.
“Terima kasih kepada PT Medco EP dan SKK Migas yang sudah memberikan kesempatan pada rekan-rekam jurnalis untuk menambah wawasan disini. Dengan adanya silaturahmi seperti ini maka saling kenal, sehingga mudah komunikasi,’’ katanya. #osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

BMKG Sosialisasi Cuaca Dan Iklim Bagi Kalangan Media

Palembang, BP   Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan sosialisasi tentang cuaca dan iklim bagi kalangan media di Hotel ...