Home / Headline / Mantapkan Desa Upang Ceria Sebagai Desa Berbasis Sejarah Dan Budaya

Mantapkan Desa Upang Ceria Sebagai Desa Berbasis Sejarah Dan Budaya

Palembang, BP

Budayawan Sumatera Selatan  (Sumsel) dari Kobar 9 Alintani mengatakan , Pulau Selebar Daun yang terletak di Desa Upang Ceria di Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, yang dulunya adalam pemukiman masyarakat  zaman dulu dan diduga kuat pernah ada kerajaan disana perlu dikembangkan menjadi objek wisata di Sumsel.

“Kita mantapkan dulu Desa Upang Ceria sebagai desa berbasis sejarah dan budaya, ada bagian arkeologi kita minta bantuan arkeologi, ada bagian dari efigrafi kita ajak , “ katanya sembari mengatakan masyarakat juga dilibatkan dalam pengembangan Desa Wisata Upang Ceria ini saat melakukan kunjungan ke Desa Upang Ceria, Rabu (2/10).

Kedatangan mereka menurut Vebri, ke Desa Upang Ceria menindaklanjuti pertemuan dengan Kades Upang Ceria Abdul Hamid beberapa waktu yang lalu saat bertemu di Palembang.

“Yang kita angkat ulu melayu, cikal bakal melayu atau pasca Kerajaan Sriwijaya muncul raja-raja kecil salah satunya Lebar Daun ini di uluan itu muncul Kerajaan Basemah dan lain-lain, kaitannya itu dengan Parameswara tadi, Parameswara adalah nenek moyang raja-raja di semenanjung melayu, orang-orang melayu datang ke Palembang wajib  mereka datang ke Bukit Siguntang  karena menurut mereka Bukit Siguntang itu asal mula dari nenek moyang mereka, dalam kitab Sulalatus Salatin disebutkan Wan Sundariyah, Wan Sundariyah itu anak dari Demang Lebar Daun yang dinikahkan dengan Parameswara (Sangsa Purba), Sangsa Purba ditabalkan di Minangkabau, di Tabalkan di Johor di sembah disana, siapa yang bisa bercerita sejarah itu pada mereka kita tidak susah lagi karena orang melayu membaca itu,” katanya.

Baca:  Walikota Palembang Buka Program TMMD Ke 104 Kodim 0418 Palembang

Kaitan dengan Kerajaan Sriwijaya di prasasti Kedukan Bukit disebutkan Upang,  bahwa Dapunta Hyang Srijayanasa bertolak dari Minanga Tawma melalui muka upang.

“Masuklah ke sana prasasti itu dikedukan bukit , dikaki bukit Siguntang , jadi upang itu sejarah tercatat di prasasti kedukan bukit, lebar daun tercatat di Sulalatus Salatin, “ katanya.

Hal senada dikemukakan Ali Goik dari Yayasan Depati mengatakan,  kedatangan mereka ke Desa Upang Ceria ini dalam rangka mendukung cerita-cerita tersebut.

“Biar mendukung cita-cita kades Upang Ceria, Abdul Hamid  agar desa ini bisa menjadi desa wisata dan harus dibuat langkah-langkahnya,” katanya.

Ali Goik sepakat dengan promosi wisata desa melalui internet bisa dikembangkan guna menggaet wisata baik dalam dan luar negeri.

Tokoh Masyarakat Desa Upang Ceria, Alibidin mendukung kalau desanya dikembangkan menjadi desa wisata berbasis sejarah dan budaya.

Beberapa waktu lalu ada warga bertanya kepadanya soal akan dijadikan lokasi wisata Pulau Selebar Daun tersebut dan nasib sawah warga.

“Sawah tetap jalan, wisata jalan, bagus itu , justru dengan sawah itu orang asing bisa lihat cara menanam di sawah, areal Pulau Selebar Daun itu  luasnya 240 hektar, semuanya di jadikan sawah, yang tidak nian sekitar 15 hektar  yang baru dibuka tahun ini,” katanya sembari mengatakan warga bisa mengembangkan wisata di Pulau Selebar Daun dengan bisa membuka sejumlah usaha –usaha apakah usaha kelapa muda dan sebagainya dengan konsep tradisional.

Baca:  Delegasi International Conference On Social Studies And Humanities Susuri Jejak Parameswara di Palembang

Sekarang menurutnya tidak ada warga mendiami pulau Selebar Daun sudah pindah semua, tapi sekarang lokasinya menjadi persawahan semua, “Tapi kalau yang menginap semalam, dua malam ada, karena sekarang sudah terang, pokoknya kalau ada disana sudah teruji dan sudah aku alami  secara pribadi Pulau Selebar Daun ,” katanya.

Sedangkan Arief dari Penabulu menjelaskan kemajuan pariwisata di Yogyakarta  yang kreatif operatornya.

“Salah satu terobosan yang bisa di bikin di Dinas pariwisata kalau mau buat semacam unit layanan dimungkinkan untuk pelopor karena selama operator seperti jasa transportasi saja, di Yogya tidak, dia benar-benar  mengumpulkan jejak-jejak  informasi , membungkusnya dan menyampaikan dengan cara yang bisa di nikmati, nah komunitas itu yang harus muncul di Palembang, karena semuanya termasuk barang kumuh adalah cerita, tapi siapa yang bisa bercerita , ini problem,” katanya.

Sedangkan Litbang Bapeda Banyuasin, Sadiman melihat  pengembangan pariwisata di Desa Upang Ceria sangat potensial apalagi  perjalanan dari Palembang ke Desa Upang Ceria hanya satu jam saja.

Baca:  Kisah Pasukan Dari Negeri Palembang Yang Hebat

“Saya kira tidak terlalu jauh dan sangat potensial, tidak langsung menuju kesitu bisa pakai sepeda, konsepnya gitu, “ katanya.

Memang menurutnya, dalam satu kecamatan memang harus ada satu desa wisata dan salah satunya daerah Desa Upang Ceria.

“ Kita khan Banyuasin  itu identik dengan dataran rendah tetapi di Sumsel dimana kita nemui pantai, semua  orang nyebut ke laut tapi tidak ada pantainya, itu mau kita konsep, kita mau buat konsep pantai buatan, sungai musi kita ambil pasirnya kita hamparkan dipinggirnya jadi  dibuat landai, konsepnya seperti itu,” katanya.

Menurutnya sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang PADnya akan digenjot pada tahun 2020 dimana tahun ini infrastrukturnya di bangun.

“Saya baru seminggu di Bapeda , sebelumnya saya di Dinas Pendidikan dan Pariwisata ,” katanya sembari mengatakan, kalau cerita daerah tersebut bisa dijual menjadi objek wisata.

Apalagi promosi melalui internet menurutnya sangat dibutuhkan terutama dalam menjual cerita daerah tersebut.

“ Masyarakat harus di sadarkan karena salah satu akses kedalam itu adalah keamanan bagi para turis, “ katanya sembari mengatakan pemasaran online sudah dibuat di Dinas Pariwisata Banyuasin.

Dan dana desa menurutnya bisa di optimalkan dalam pengembangan wisata desa.#osk

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pengurus IKA FKIP Unsri Periode 2019-2023 Resmi Dilantik

Palembang, BP  Puluhan alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sriwijaya (Unsri)  yang menjadi pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) ...