Home / Headline / Jejak Peradaban Kerajaan Sriwijaya, Ulu Melayu Dan  Tuah  Pulau Selebar Daun

Jejak Peradaban Kerajaan Sriwijaya, Ulu Melayu Dan  Tuah  Pulau Selebar Daun

Oleh: Dudy Oskandar (jurnalis) 

 

Apa hubungan antara Desa Upang dengan jejak peradaban Kerajaan Sriwijaya,  yang pasti , nama Upang tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit Prasasti yang merupakan akte kelahiran Kerajaan Sriwijaya yang tertulis

tlurātus sapulu dua vañakña dāta di mata jap (mukha upa) atau tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang).

      Namun nama Upang juga memiliki hubungan dengan Ulu melayu, dimana kitab Sulalatus Salatin disebutkan Wan Sundariyah, Wan Sundariyah itu anak dari Demang Lebar Daun yang dinikahkan dengan Parameswara (Sangsa Purba) yang merupakan nenek monyang raja-raja melayu.

Desa Upang Ceria yang terletak di Kecamatan Muara Telang, Banyuasin, berada sekitar 50 kilometer di sebelah timur Kota Palembang, bisa dijangkau menggunakan perahu ketek atau perahu cepat dalam jangka waktu kurang lebih satu jam.  Desa seluas 2.156 hektare ini diyakini pernah terdapat pemukiman kuno dan bahkan kerajaan kuno, berangkat dari hal tersebut kini warga Desa Upang Ceria  tengah mengembangkan wisata  berbasis sejarah dan budaya dan mengenalkannya bukan hanya tingkat nasional juga internasional.

Untuk  itu sejumlah pihak yang terdiri dari Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV, Djayo Wikramo, RM Fauwaz Diraja SH Mkn , Ali Goik dan Vebri Al Lintani dari  Yayasan Depati, Arief dari Penabulu,  Sejarawan Sumatera Selatan (Sumsel) daru UIN Raden Fatah Palembang, Kemas Ari Panji, Sadiman dari Litbang Bapeda, Banyuasin   bertemu dengan Kepala Desa Upang Ceria Abdul Hamid di kediamannya di Desa Upang Ceria,  Rabu (2/10).

 

VEBRI Al Lintani dari Kobar 9 yang juga budayawan Sumsel menjelaskan kedatangan mereka kesini setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan Kepala Desa Upang Ceria Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Abdul Hamid beberapa waktu lalu yang mengatakan di desanya akan membuat desa wisata dimana disini ada Pulau Selebar Daun , ada makam Lebar Daun.

“ Kami tertarik datang kesini karena kami orang-orang yang senang sejarah disini juga hadir  Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV, Djayo Wikramo, RM Fauwaz Diraja SH Mkn , Sultan juga  punya kewajiban untuk melestarikan kebudayaan karena Desa Upang ini ada dalam sejarah Kerajaan Sriwijaya  dan tertulis di Prasasti Kedukan Bukit,” katanya.

Demang Lebar Daun Demang itu raja kecil kata Vebri, Lebar Daun itu nama  negeri, setelah Kerajaan Sriwijaya runtuh muncul raja-raja kecil salah satunya Lebar Daun ini .

“Lebar Daun inilah yang beragama hindu bertemu sangsa purba di bukit Siguntang  Sangsa Purb atau parameswara yang beragama Islam ini cikal-bakal melahirkan raja-raja di semenanjung melayu, Parameswara diakui di Malaka sebagai  Iskandar Syah, lebar daun itu kuping gajah , selebar kuping gajah, itu simbol dari hewan yang disucikan oleh Hindu,” katanya.

Baca:  Satgas Karhutbunla Berhasil Padamkam Kebakaran Lahan Di Tujuh Kecamatan

Artinya menurut Vebri memang harus kedepan dibuat baru simbol-simbolnya dengan tapsiran dari basis cerita Demang Lebar Daun tadi.

“ Kita memperkuat itu , orang mencari, cuma yang di ceritakan di kitab sulalatus salatin itu bahwa sangsa purba ditemui oleh  Demang Lebar Daun, orang mencari dimana Demang Lebar Daun itu, kekuasaannya,  sekarang masih misteri, belum terungkap secara jelas, sekarang ada Pulau Selebar daun di Desa Upang Ceria, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Pulau Selebar Daun itu jangan-jangan kekuasaan Demang Lebar Daun, itu perlu di kaji lagi, sebab ketika mendengar Sangsa purba Krisna Pandita , Sang Nila Utama turun  ke Bukit Siguntang dengan mengendarai lembu putih ditemui Demang Lebar Daun , penguasa lokal, ini apakah agamanya Hindu atau Budha, melihat simbolnya hindu, melihat legendanya hindu dan di komfirmasi sejarah masuk,  kalau legenda bahasanya bahasa sastra,” katanya.

Sedangkan Tokoh Masyarakat Desa Upang Ceria, Alibidin mengaku sejak tahun 1978 tinggal di Desa Upang Ceria ini .

” Tapi tahun 1965-1955 aku belum naik ke darat, masih di ketek, dulu galak ngetek, asal asli Ogan Ilir , Dusun Jagorajo, tadinya aku ikut nelayan lalu naik jadi petani, waktu itu tahun 1964-1965 itu disini masih belum ada manusia banyak, Trans belum masuk, masuk Trans tahun 1979 tahun 1978 aku naik ke darat,” kata bapak empat anak ini.

Dia mengakui kalau di Desa Upang Ceria ada namanya Pulau Selebar Daun dimana dulu sebelum di garap jadi lokasi pertanian adalah lokasi rawan karena masih banyak hewan buas, seperti macan sekarang tidak ada lagi gajah.

“ Tahun 1965-1966 sampai 1968 saya buka lahan pertanian di Pulau Selebar Daun tapi tidak berhasil lalu aku merantau ke Makarti lalu balik lagi ke sini, kata pak Sabar , tokoh masyarakat Desa Upang mengatakan, kalau sudah minum air lebar daun susah pisah dari situ, kata beliau, lalu aku jualan sayur dengan ketek disini dengan sistim barter,” katanya.

Dia mengaku sempat mengajak rekannya untuk hidup di Pulau Selebar Daun namun tidak kerasan karena masih banyak hewan buas seperti babi , jadi kita berburu dengan babi kalau nanam padi, malam-malam keliling dibuat pagar masih jebol.

“ Tahun 1978, aku ditawari berkerja di transmigrasi untuk membuat perumahan saat itu serba sulit, ketek pakai dayung, kita tidak mampu beli mesin kapal waktu itu, waktu itu cara mau hidup susah betul,” katanya.

Menurutnya, di  tahun 1978-1979 Pulau Selebar Daun masih merupakan sebuah hutan besar yang sangat bertuah.

Baca:  Pedagang Jalan Jenderal Sudirman Keluhkan Omzet Turun

“Kalau masuk disana ada penemuan penemuan kepala bidar, serabut tulang, kata pawang pembuka, aku dulu kurang yakin dengan hal-hal tersebut,  tapi aku angkat tangan sekarang karena sudah terbukti waktu itu seolah-olah aku anggap itu semua mitos, rupanya ada itu, waktu aku buka hutan di Pulau Selebar Daun dengan orang-orang, orangnya banyak kabur, aku minta tolong dengan pawang buka hutan itu tapi pawang bilang aku dianggap tidak percaya lalu aku tinggal sampai tahun 1980, 1982 belum aku bukan , sampai tahun 1991 baru teniat , lalu aku ngajak kawan ramai-ramai dari OKI dari mana-mana buka hutan di Pulau Selebar Daun buat persawahan, “ katanya.

Di Pulau Selebar Daun dulu banyak di temukan hewan liar seperti harimau, ular seperti ular seperti buah Mengkudu, babi hutan.

” Ular itu melawan air berbunyi sampai aku tenggelam beketek, takut , aneh, belum pernah ular seperti itu, badan ular itu terendam separuh tapi kelihatan karena airnya kecil, malamnya sampai tebawa mimpi , paginya aku kejar kesana, jadi adik aku Sudir namanya ngasih tahu aku, aku mimpi apa semalam karena ditemukan pusaka, kami kejar ada sarung keris , aku ambil , lama aku simpan sarung keris, “ katanya.

Selain itu adiknya pernah ke Pulau Selebar Daun dan anehnya menemukan pohon pisang yang sebelumnya tidak ada, di pohon pisang itu ada keris kecil yang tidak ada sarung  dan tidak ada gagang.

“Dia dapat firasat, dia pegang dan pelihara bagus-bagus, dia tunjukkan dengan aku keris itu, kelebihan keris itu  kalau hari mau hujan di kita cucuk di panggung aman tidak ada hujan , jadi disebut nama bahasa dia dalam mimpin waringin putih nama keris itu, kalau masuk dalam air dengan menggunakan keris itu  tidak basah, entah bagaimana, keris itu hilang  karena adik aku lebih dari nakal , masalah gawe dak karuan ini galak galo mungkin hilang,” katanya.

Kejadian aneh lainnya ditahun 1993-1994, menurutnya salah satu batu di makam Pulau Selebar Daun pernah diambil satu oleh warga dan dibawa kerumah namun dalam waktu semalam batu tersebut kembali sendiri ke makam tersebut.

“ Batunya itu sekarang tidak mau di tempel, dulu waktu di ambil batunya nempel dengan batu lain, sekarang sejak diambil batu itu tidak nempel lagi,” katanya.

Lalu saat akan membakar tanaman sekitar Pulau Selebar Daun , kata pawang pembakaran apinya nanti tidak merata, saat di bakar ternyata benar tidak merata, dari situ dia baru percaya  dengan legenda Pulau Selebar Daun ini.

Baca:  Gugur di Papua , Serda Rikson Naik Pangkat Menjadi Sertu

“ Dari situ , aku di kasih tahu pawang,  kalau ada kepala bidar, ini serambut tulang  dan ini demang, tapi semuanya tidak terlepas dari tuhan tapi ada hal-hal seperti itu, aku dulu banyak penemuan karena kito kerja dihutan ketemu macan, di atas kayu besar ada kain sampang putih, “ katanya.

Dari situ dia baru sadar dulu di Pulau Selebar Daun dulunya  adalah bekas perkampungan lama .

Selain itu ada sejumlah makam dalam Pulau Selebar Daun tersebut yang nisannya dari  batu.

“ Lalu di tunjukkan pak Mamat (juru kunci) ada tempat serambut tulang dimana kalau apapun lewat pasti mati ,  sekitar itu banyak tulang-tulang, aku sering manggil pak Mamat selaku juru kunci , aku agungkan dia, kalau ada apa-apa pak Mamat aku panggil untuk buka Pulau Selebar Daun, beliau datang , beliau lah tuo , idak gagah lagi, jalan tidak kuat lagi,” katanya sembari mengatakan sekitar Pulau Selebar Daun banyak ditemukan barang-barang kuno seperti kramik dan lain-lain.

Selain itu mengenai Kepala Bidar dan Pulau Selebar Daun menurutnya cuma ada tanda kayu nibung dan pentasan.

“ Pentasan itu dua kali tertutup karena ada program serasi dari PU, jebol tidak bisa ditutup, perencanaan kedepan buat pintu air , pintu air masih tergusur dibuat cor segi empat hilang, ditendang air, sangking hebat air, itu tidak masuk dalam pemikiran,” katanya.

Alibidin juga yakin di Pulau Selebar Daun dulu pernah ada sebuah kerajaan ,” Dasarnya mana yang awalnya aku tentang jadi  kenyataan jadi aku harus ikut irama, “ katanya.

Sedangkan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV, Djayo Wikramo, RMFauwaz Diraja SH Mkn berharap Pulau Selebar Daun ini bisa dijadikan objek wisata.

“Jadi bisa dibuat gerbang Sriwijaya dibesarkan, sehingga masyarakat disini mendapat insentifnya dari wisata, ibu-ibu yang tidak berkerja bisa berjualan,” katanya.

Sedangkan Kades Upang Jaya, Abdul Hamid mengaku di sekitar Pulau Selebar Daun  banyak temukan warga sekitar barang antik, ada warga yang tidak mau menunjukkan barang –barang tersebut dan ada beberapa warga mau memperlihat penemuan barang kuno tersebut.

“Yang dapat barang kuno ini biasonya mimpi dulu, kalau mencari harus di garis dulu baru dapat,” katanya.

Sejarawan Sumsel dari UIN Raden Fatah Palembang , Kemas Ari Panji memang harus ada satu komunitas yang mengurus barang antik itu.

“ Atau bisa lembaga adat yang mengumpulkan benda-benda kuno ini, dan menginventaris istilahnya , itu penting untuk menunjang pengembangan Desa Wisata di Desa Upang Ceria,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Ogan Ilir Puncaki Klasemen di Cabor Tenis Meja

Prabumulih, BP–Atlet kontingen Ogan Ilir berhasil tampil percaya diri dengan menyabet lima medali emas pada cabang olahraga tenis meja pada ...