Home / Headline / Sejumlah Mahasiswa Masih di Rawat di Rumah Sakit di Palembang, Alami Pecah Kepala Hingga Tulang Patah

Sejumlah Mahasiswa Masih di Rawat di Rumah Sakit di Palembang, Alami Pecah Kepala Hingga Tulang Patah

BP/DUDY OSKANDAR
Perwakilan element mahasiswa di kota Palembang dan dari HMI Palembang saat jumpa pers di kantor Walhi Sumsel, Kamis (25/9).

#Pasca  Ricuh Demo di Gedung DPRD Sumsel

Palembang, BP

Pasca ricuh aksi demo mahasiswa di saat pelantikan anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Periode 2019-2024 di Gedung DPRD Provinsi Sumsel  yang menolak Revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), Revisi UU KPK dan lainnya hingga kini para korban dari kalangan mahasiswa masih banyak di rawat di sejumlah rumah sakit di kota Palembang.

Menurut koordinator aksi Radian  Ramadhani mengatakan, kondisi korban banyak luka di bagian kepala, ada patah tulang.

“ Teman kita bahu kirinya  terpijak ketika dorongan dengan aparat, ada yang patah tangan, pegelangan kaki juga patah dan sekarang masih terbaring di rumah sakit dan untuk biaya rumah sakit awalnya kita tanggung sendiri dari kawan-kawan kita solidaritas kemudian malamnya kita komfirmasi dari pihak Walikota  di komfirmasikan akan mengganti semua biaya dari korban aksi tanggal 24 , dari Dinas Kesehatan kota Palembang,” kata Radian bersama sejumlah perwakilan element mahasiswa di kota Palembang dan dari HMI Palembang saat jumpa pers di kantor Walhi Sumsel, Kamis (25/9).

Menurutnya dari 62 orang korban, memang ada beberapa masih di rumah sakit,” Termasuk salah satu adik tingkat saya sendiri Desta terbaring di rumah sakit belum bisa pulang karena patah di pergelangan kaki, belum dapat rumah sakit, harus operasi,” katanya.

Selain itu ada korban lain masih di rawat di rumah sakit lain seperti di Rumah Sakit Dr Ak Gani,  Rumah Sakit Siloam.

“ Kita memang sangat mengecam keras sebenarnya terhadap aparat kepolisian dan kita sudah berkoordinasi dengan  teman-teman LBH dan Walhi  untuk melakukan advokasi, ini salah satu bentuk penanganan massa aksi yang tidak profesional daripada aparat,” katanya.

Sedangkan perwakilan  LBH Palembang, Ridwan Samosir terkait demo tanggal 24 September di DPRD Sumsel yang mengalami kekerasan dari aparat dan LBH Palembang siap mendampingi mahasiswa-mahasiswa yang terkena kekerasan dari aparat.

“ Kami siap untuk membantu , kami siap mendampingi mahasiswa yang mengalami kekerasan dari aparat, kami akan stay di posko pengaduan kekerasan aparat di Walhi Sumsel, siapapun jadi korban , kami siap mendampingi,” katanya.

Ketua Walhi Sumsel Hairul Sobri mengakui ada beberapa ancaman yang dialami rekan mahasiswa pasca demo pasca 24 September di DPRD Sumsel lalu.

“ Ini penting menurut kami, Kompolnas, Komnas HAM segera turun menindaklanjuti situasi dan kondisi yang mencekam bagi kawan-kawan mahasiswa  karena tujuan kami disini untuk kebaikan negara ini kedepan, kalau cara-cara refresif yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu maupun kelembagaan kedepan kami yakin bahwa rakyat ini akan bergerak untuk melakukan perlawanan menuntut keadilan terhadap hak-hak dasar yang telah dirampas,” katanya.

Hampir Di Culik

Sementara itu dalam kesempatan yang sama Ketua BEM KM Unsri (Universitas Sriwijaya) atau Presiden Mahasiswa (Presma) Unsri Nikmatul Hakiki mengaku hampir diculik oleh 10 Orang Tak Dikenal (OTD).

Peristiwa tersebut terjadi pada zuhur areal kampus Unsri, Bukit Palembang sekitar pukul 12.30 habis makan siang diperkirakan 10 OTD tersebut gagal membawanya karena dapat dicegah dan ketahui oleh dosennya.

“Kronologinya saya barusaja habis makan siang, dimana tadinya saya berjalan bareng bersama teman namun mereka duluan, lalu ada 1 orang yang nanya nama saya karena tidak menaruh curiga, saya menjawab dan memberitahu namanya dengan santai. Lalu datang lagi kedua orang teman dari orang berpakaian bebas tersebut yang berusaha memegang tangan dan punggung Nikmatul dari arah belakang,” katanya, Ketua Bem KM Unsri Nikmatul Hakiki.

Aksi yang hampir saja dialami dirinya tersebut setelah mencurigai gerak gerik ketiga orang tersebut dan mereka menawarkan presiden mahasiswa KM Unsri tersebut ke mobil, dia (Nikmatul) mengurungkan niatnya karena merasa tidak aman.

“Setelah tidak mau, kemudian mereka memegang kedua tangannya bahkan ada salah satu orang yang ingin memegangkan kakinya. Beruntung cek cok antara kami diketahui masyarakat dan orang yang berlalu lalang di kampus ada dosen yang melerai, jadi saya tidak jadi dibawa,”  katanya.

Nikmatul juga mengakui, bahwa dalam percobaan membawa dirinya ada oknum yang ingin memegang kakinya untuk diangkat.

“Beruntung ditempat kejadian saat itu ramai alhasil saya tidak jadi dibawa,”  katanya.

Menurut Nikmatul, kejadian ini diindikasikan bermula dari cek cok dirinya di media sosial saat menyikapi video yang menyatakan aksi yang berlangsung di depan DPRD Sumsel pada lusa kemarin, berlangsung aman dan damai.

Padahal, aksi tersebut berujung puluhan mahasiswa terluka akibat pemukulan aparat.

“Saya lihat dari akun kepolisian lalu ada video yang isinya pencitraan semua. Lalu saya komen membalas komentar tersebut yang bertuliskan pencitraan semua, padahalkan rusuh,” kata Nikmatul.

Merasa pada proses penangkapannya tak wajar Nikmatul melaporkannya pada posko pengaduan masyarakat korban kekerasan aparat yang diinisiasikan lembaga Walhi Sumsel, LBH Palembang, dan jaringan advokasi.

“Jika permasalahan steatment saya di media sosial itu, maka harus ada pembahasan bersama. Jangan saya diciduk dan dibawa seperti ini, apalagi mereka tidak membawa surat dan lainnya,” katanya.

Sementara itu Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Supriadi kepada wartawan mengaku  belum mendapatkan kabar tersebut.

“Sampai saat ini belum dapat kabar terkait prihal tersebut,” katanya.#osk

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

BMKG Sosialisasi Cuaca Dan Iklim Bagi Kalangan Media

Palembang, BP   Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan sosialisasi tentang cuaca dan iklim bagi kalangan media di Hotel ...