Home / Headline / Sriwijaya, Legitimasi Perjuangan Anti Kolonial di Indonesia

Sriwijaya, Legitimasi Perjuangan Anti Kolonial di Indonesia

SEWAKTU Kerajaan Sriwijaya dipopulerkan oleh para ahli sejarah pada tahun 1920-an, pergerakan-pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia sedang menggebu-gebu. Sejarah masa silam acapkali digunakan oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional sebagai salah satu legitimasi perjuangan anti kolonial.

Para pemimpin Jong Java, misalnya, sering membesar-besarkan Kerajaan Majapahit yang dianggap sebagai ”negara nasional yang mempersatukan Indonesia”.

Rupa-rupanya para pemimpin long Sumateranen Bond pun tak mau ketinggalan. Maka Kerajaan Sriwijaya yang baru ditemukan itu segera ditonjolkan sebagai ”negara nasional yang juga mempersatukan Indonesia”.

Meskipun anggapan di atas hanya mitos belaka, kenyataannya nama Sriwijaya sangat popular di kalangan bangsa kita. Seperti pernah dikatakan oleh Prof. Dr. Sukmono, salah seorang ahli kesriwijayaan:

”Nama Sriwijaya untuk telinga kita bukanlah sesuatu yang asing. Perkataan itu telah menjadi sebagian dari perbendaharaan kata-kata Indonesia .

Kalau kita mengingat, bahwa kenyataan-kenyataan tersebut baru dikenal dalam tahun 1918, yaitu sebagai hasil telaah yang menjadi sangat masyhur dari Coedes, maka sungguh mangagumkan bahwa suatu teori sejarah sampai dapat demikian meresapnya.

 

SEBELUM adanya penelitian dari George Coedes, sarjana Perancis yang saat itu memimpin Perpustakaan Bangkok, banyak sarjana yang telah meneliti tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Seperti Renaudot di tahun 1718 menerjemahkan naskah Arab yang berjudul Akhbaru ’s-Shin wa ’l-Hind (Kabar-kabar Cina dan India), ditulis oleh seorang musafir bernama Sulaiman tahun 851.

Naskah itu menceritakan adanya sebuah kerajaan besar di daerah Zabaj.‘ Istilah Zabaj berarti Jawa. Perlu diketahui bahwa yang dimaksudkan dengan ”Jawa” oleh orang Arab adalah seluruh Kepulauan Indonesia sekarang. Lalu pada tahun 1845 J.T. Reinaud menerjemahkan catatan Abu Zaid Hasan yang mengunjungi Asia Tenggara tahun 916. Dari catatan Abu Zaid Hasan itu diketahui bahwa maharaja Zabaj bertahta di negeri Syarbazah, yang disalin Reinaud menjadi Sribuza.

Sementara itu kronik-kronik Cina yang berasal dan’ abad ketujuh dan abad kedelapan banyak menyebutkan sebuah negeri atau kerajaan di Nan-hai (Laut Selatan) yang bernama Shih-li-fo-shih.

Baca:  Siska Marleni Kembali Calonkan Di DPD RI

Seorang ahli transliterasi Cina-Sansekerta, Stanislas Julien, pada tahun 1861 mengemukakan bahwa nama Shih-li-fo-shih adalah transliterasi dari nama Sansekerta Sribhoja.

Berpuluh tahun lamanya anggapan Julien ini sempat menjadi panutan para sarjana. Sewaktu Junjiro Takakusu tahun 1896 menerjemahkan karya pendeta I-tsing dari abad ketujuh, Nan-hai Chi-kuei Nei-fa Chuan (Catatan Ajaran Buddha yang dikirimkan dari Laut Selatan), Takakusu pun menerjemahkan nama Shih-li-fo-shih dengan Sribhoja.‘

Demikian pula Edouard Chavannes sewaktu menerjemahkan karya I-tsing yang lain, Ta-Tang Hsi-yu Chiu-fa Kao-seng Chuan (Catatan Pendeta-pendeta yang menuntut ilmu di India zaman Dinasti Tang), pada tahun 1894.

Dari kronik-kronik Cina yang diterjemahkan W.P. Greeneveldt tahun 1876, diperoleh data bahwa semenjak abad kesembilan sampai abad keempat belas ada suatu negeri atau kerajaan di ”laut selatan” yang disebut San-fo-tsi. W.P.

Groeneveldt lalu menyamakan San-fo-tsi dengan Palembang, sebab kronik Ying-yai S/zeng-lan yang ditulis Ma Huan tahun 1416 menyatakan bahwa ”Palembang adalah negeri yang disebut San-fo-tsi”’.

Kemudian Samuel Beal pada tahun 1886 merumuskan teori: Kerajaan Sribhoja berlokasi di Palembang, dan kerajaan inilah yang disebut Syarbazah oleh kronik Arab, dan disebut Shih-li-fo-shih atau San-fo-tsi oleh kronik Cina.

Berita-berita mengenai Shih-li-fo-shih lebih banyak terungkap ketika Paul Pelliot, dalam karangannya tahun 1904, menerjemahkan kronik Hsin-Tang-shu (Sejarah Baru Dinasti Tang).9 Uraian tentang negeri San-fo-tsi juga lebih diperlengkap dengan diterjemahkannya kronik Chu-fan-chi (Catatan mengenai Negeri-negeri Asing) karya Chau J u-kua tahun 1225 oleh Friedrich Hirth dan W.W. Rockhill pada tahun 1911.

Sementara itu pada tahun 1892 ditemukan sebuah prasasti di daerah Kota Kapur, pantai barat pulau Bangka.

Dalam prasasti itu banyak tertulis nama Sriwijaya ketika prasasti Kota Kapur ditranskripsikan oleh Hendrik Kern tahun 1913,

Baca:  Banjir, Buktikan Buruknya Manajemen Lingkungan Kota Palembang

Kern menganggap bahwa nama itu adalah nama seorang raja, yaitu raja Wijaya, karena gelar Sri biasanya dipakai sebagai sebutan atau gelar raja.

Akhirnya, pada tahun 1918, George Coedes, sarjana Perancis yang saat itu memimpin Perpustakaan Bangkok, menulis karangannya yang monumental, Le Royaume de Crivijaya (Kerajaan Sriwijaya), dalam Bulletin de I’Ecole Francaise d’Extreme-Orient (Majalah Penelitian Perancis untuk Timur Jauh).

Di awal tulisannya Coedes menolak anggapan Kern bahwa Sriwijaya itu nama seorang raja. Coedes mengungkapkan bahwa Sriwiiaya adalah nama sebuah negeri atau kerajan, dengan alasan-alasan sebagai bcrikut:

  1. Dalam prasasti Kota Kapur baris kedua, keempat dan kesepuluh masing-masing tercantum kalimat kadatuan criwijaya (kerajaan Sriwijaya), dam criwijaya (raja Sriwijaya), dan wala criwijaya (tentara Sriwijaya).
  2. Dalam prasasti Ligor atau Vieng Sa tertulis ungkapan Crivijayendraraja (raja Sriwijaya).
  3. Prasasti yang dikeluarkan raja India, Rajaraja I, pada tahun 1006, yang dikenal dengan nama Piagam Leiden (karena tersimpan di Leiden), menyebutkan ”Marawijayatunggawarman, raja Crivijaya (Sriwijaya) dan Kataha (Kedah)”.
  4. Nama Crivijayam juga terdapat dalam daftar nama-nama negeri yang diserbu oleh raja Colamandala, Rajendracola I. pada tahun 1025, sebagaimana tercantum dalam prasasti yang ditemukan di Tanjore, India Selatan.

Selanjumya Coedes menolak anggapan umum yang dianut oleh para ahli sejarah waktu itu, bahwa kerajaan yang berlokasi di Palembang benama Sribhoja seperti yang disarankan oleh Stanislas Julien.

Menurut Coedcs, nama negeri “Sribhoja” tidak pemah dijumpai dalam catatan sejarah manapun juga. Lalu Coedes mengemukakan bahwa kerajaan yang berlokasi di Palembang itu tiada lain adalah Kerajaan Sriwijaya, dan nama Sriwijaya itulah yang ditransliterasikan dalam kronik-kronik Cina dengan nama Shih-Ii-fo-shin atau San-fo-tsi. Alasan-alasan yang diberikan Coedes adalah:

 

  1. Tidak dapat disangkal bahwa negeri Wijayapura (Binh-Dinh) di daerah Campa (Vietnam sekarang) selalu disebut dalam kronik Cina dengan nama Fo-shih-pu-Io. Jadi Fo-shih jelas merupakan transliterasi dari Wijaya. Hal ini berarti nama Sriwiiaya memang sesuai sekali ditransliterasikan menjadi Shih-Ii-fo-shih.
  2. Nama-nama raja San-fo-tsi, Se-Ii~chu-la-wu-ni-fu-ma-tiauhwa dan Se-Ii-ma-Ia-pi, yang tercantum dalam Sejarah Dinasti Sung, ternyata sesuai dengan nama-nama raja Sriwijaya, Sri Cudamaniwarman dan Sri Marawijayatunggawarman, yang tercantum dalam Piagam Leiden. Jadi Kerajaan San-fo-tsi adalah Kerajaan Sriwijaya.
Baca:  Satgas TMMD Ke 104 Kodim 0418 Palembang Pasang Spanduk Penutupan TMMD

Argumentasi-argumentasi George Coedes sukar untuk dibantah. Itulah sebabnya artikel Le Royaume de Crivijaya itu mendapat sambutan yang hangat di kalangan ahli sejarah.

Pada tahun 1919 Johan Philippus Vogel segera menulis karangan Het Koninkriik Crivijaya untuk menyebarluaskan ”penemuan” Coedes ini.

Tahun itu juga Nicholaas Johannes Krom, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar Universitas Leiden yang berjudul De Sumatraansche Periode des Javaansche Geschiedenis, mengeluarkan pendapat bahwa raja-raja Sailendra di Jawa Tengah adalah raja-raja Sriwijaya, berdasarkan adanya prasasti berbahasa Melayu Kuno di JawaTengah.

Setahun kemudian (1920) Charles Otto Blagden lebih mempopulerkan Kerajaan Sriwijaya melalui kamngan. nya The Empire ofthe Maharaja. King of the Mountains and Lord of the Isles.

Lalu disusul oleh Gabriel Ferrand yang pada tahun I922 menyusun sejarah Sriwijaya secara sistematis dan kronologis dalam karyanya L ‘Empire Sumatranais de Crivijaya.

Demikianlah berkat pemikiran cemerlang dan kejelian mata George Coedes, Kerajaan Sriwijaya yang sudah terpendam berabad-abad tanpa diketahui orang, kembali muncul kembali dalam ilmu sejarah.

Bukti-bukti tentang adanya kerajaan itu makin diperkuat, dengan ditemukannya dua buah prasasti raja Sriwijaya di Palembang pada tahun 1920, masing-masing di daerah Kedukan Bukit dan Talang Tuwo. Kedua prasasti itu lalu diterjemahkan oleh Philippus Samuel van Ronkel pada tahun 1924.#

 

Sumber :

  1. Nia Kurnia Sholihat Irfan, Kerajaan Sriwijaya”, 1983, PT Giri Mukti Pasaka, Jakarta
  2. Cœdès, G.. 1964. The Indianized States of SoutheastAsia. Honolulu: East-West Center.

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Polda Sumsel Musnahkan Narkoba di Akhir Tahun 2019

Palembang, BP Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Sumatera Selatan (Sumsel) musnahkan narkoba jenis sabu seberat 5057,41 gram dan ekstasi warna ...