Home / Headline / Potret Degradasi Hutan di Bumi Pertiwi

Potret Degradasi Hutan di Bumi Pertiwi

Oleh:   Vixkri Mubaroq ([email protected])

HUTAN merupakan bagian penting dari lingkungan hidup. Menurut Emil Salim, lingkungan hidup diartikan sebagai benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruang yang kita tempati dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia. Lingkungan terdiri atas, lingkungan fisik (Physical Environment), kemudian lingkungan biologis (Biological Environment) dan lingkungan Sosial (Social Environment). Adanya proses saling mempengaruhi antara makhluk hidup dalam suatu lingkup kehidupan (lingkungan hidup) yang tersusun secara teratur disebut ekosistem (ecosystem).

Menurut Soemarwoto (1983), ekosistem yaitu suatu sistem ekologi yang terbentuk  oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Hubungan timbal balik terwujudkan dalam rantai makanan dan jaring makanan yang pada setiap proses nya terjadi aliran energi dan siklus materi. Pada ekositem terdapat komponen abiotik dan biotik. Ekosistem memiliki beragam tipe. Salah satu tipe ekosistem yaitu hutan hujan tropis, yang berada di bumi pertiwi. Keanekaragaman hayati nusantara merupakan keanekaragaman terbesar ketiga di dunia setelah Berazil dan Conga. Hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia dan jantung Indonesia.

Akan tetapi dalam dua dekade terakhir, Indonesia mengalami degradasi hutan yaitu menurunnya keragaman hayati, menurunnya  keseimbangan ekosistem, dan melemahnya lingkungan hidup. Pulau Kalimantan dan Sumatera menjadi penyumbang terbesar atas kerusakan hutan Indonesia.

Hal ini disebabkan titik api yang tak kunjung padam pada lahan gambut sehingga kabut asap berdampak buruk  dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti pada pencemaran udara yang menyebabkan  aliran energi pernapasan terganggu dan berdampak pada kesehatan.

Baca:  Indonesia Usulkan Berbak-Sembilang Jadi Cagar Biosfer

Kebakaran hutan tersebut disebabkan oleh pembakaran lahan secara ilegal  yang dilakukan oleh perusahaan yang memiliki investor besar. Salah satunya adalalah perusahaan kelapa sawit. Pembakaran hutan secara illegal merupakan kejahatan yang terorganisasi terkait pembukaan lahan perkebunan. Karena pembakaran hutan  merupakan solusi jitu untuk menekan ongkos produksi dan mempersingkat masa tanam. Sehingga lahan yang terbakar akan mempengaruhi unsur hara tanah. Seperti lahan gambut yang kehilangan fungsi sebagai penyedia karbon.

Kebakaran dibawah tanah pada lahan gambut terjadi akibat konversi lahan, dan pembuatan kanal yang tidak bertanggung jawab. Lahan gambut mengalami degradasi dan ditumbuhi semak belukar sehingga mempengaruhi ekologisnya.

Pada saat musim kemarau, kondisi lahan gambut yang terdegradasi akan sangat kering hingga mencapai kedalaman tertentu dan menyebabkan kebakaran. Sisa tumbuhan yang terkandung dibawah permukaan lahan gambut merupakan bahan bakar yang dapat menyebabkan api menjalar di bawah permukaan tanah yang letaknya beberapa meter dikedalaman tanah. Secara lambat dan sulit dideteksi, api akan menyebabkan lahan gambut berasap tebal yang sulit dipadamkan.

Data kebarakan hutan Berdasarkan hasil pengamatan BMKG pada Jumat (13/9/2019. Detiknuews.com) tercatat titik panas pada tanggal 12 September 2019 terjadi di beberapa wilayah antara lain: 1.865 titik di Kalimantan dan 1.231 titik di Sumatera. Sedangkan pantauan satelit NASA pada tanggal 12-14 September 2019 titik kabut asap makin banyak dan pekat di Kalimantan.

Baca:  DPD Pemuda Demokrat Indonesia Provinsi Sumsel Gelar Donor Darah

Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat konferensi pers Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan, di Jakarta, Jumat (14/9/19). Menyatakan  bahwa curah hujan nyaris tak ada menyebabkan  lahan gambut terbakar luas.

”Mencapai 89.563 hektar dari total 328.724 hektar terbakar hingga akhir Agustus 2019,” kemudian  luas kebakaran gambut paling luas di Riau (40.553 hektar), Kalimantan Tengah (24.883 hektar), Kalimantan Barat (10.025 hektar). Karhutla juga terjadi di Jambi, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Aceh, Bangka Belitung, Kalimantan Utara dan Maluku Utara.

Oleh sebab itu pencegahan lebih baik dari pada pemadaman, mengingat peristiwa kabut asap merupakan bencana permanen pada musim kemarau, sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya terjadi juga kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan lahan gambut.

Untuk itu kreatifitas masyarakat Indonesia sangat dibutuhkan  dalam mengelola lahan gambut yang terdegradasi ketika musim kemarau, seperti pembangunan berwawasan lingkungan yang dapat menyeimbangkan ekosistem.

Selain itu Pemerintah perlu memfasilitasi terhadap kekeratifitas dan kearifan lokal masayarakat untuk pelestarian lingkungan hidup, agar Indonesia dapat menjadi negara yang memiliki kemakmuran dibidang Sumber Daya Alam (SDA) dan kesehatan lingkungan yang terjamin. Faktanya Indonesia yang katanya negeri makmur dengan SDA berupa hutan yang luas, akan tetapi dirusak oleh perusahaan-perusahaan yang tak bertanggung jawab, bahkan memberikan polusi udara yang berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat.

Baca:  Dibawah Kepemimpinan H Alex Noerdin 10 Tahun, Sumsel Zero Konflik

Kualitas Lingkungan merupakan salah satu faktor penting bagi kesehatan, sehingga butuh peran dari pemerintah dan lembaga kesehatan lingkungan dan kehutanan untuk memberikan sanksi tegas kepada perusahaan atau masyarakat sekitarnya, yang melakukan pembakaran lahan, hutan dan lain sebagainya, secara illegal, yang bebas tanpa memperhatikan dampak buruk terhadap lingkungan.

Pemerintah perlu secara maksimal dalam memfasilitasi pengembangan lingkungan hidup. Salah satunya mengelola hasil kelapa sawit yang berbasis ramah lingkungan. Mengingat produksi kelapa sawit menimbulkan konsekwensi dampak buruk bagi alam dan keseimbangan ekosistem seperti kabut asap yang disebabkan pembakaran lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

Upaya-upaya tersebut perlu dilakukan secaara bersama melalui kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, komunitas dan lembaga pemerintah lainnya yang berkaitan dengan hutan, lingkungan hidup, untuk melakukan pencegahan terhadap kebakaran hutan pada lahan gambut. Baik pada pengamanan suatu lahan gambut yang dimanfaatkan dan juga analisis dampak lingkungan (ADL) untuk dapat mengetahui dampak negatif dan positif dari sebuah pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Upaya yang sungguh-sungguh dan sistematis  serta komitmen dalam merealisasikan sebuah perencanaan pembangunan lingkungan secara berkelanjutan adalah solusi yang tepat. Agar kedepannya Indonesia tidak lagi terkena bencana kabut asap yang notabene adalah bencana tahunan dan merusak lingkungan hidup.

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Kapolda Sumsel Ambil Sumpah Peserta Calon Seleksi Dibangum Polri TA 2020

Palembang, BP Kapolda  Sumatera Selatan (Sumsel)  Irjen Pol Drs. Priyo Widyanto, M.M., mengambil Sumpah dan melaksanakan Penadatangan Fakta Integritas Seleksi ...