Home / Headline / Laporan I-Tsing ! (Kisah Tentang Kerajaan Sriwijaya)

Laporan I-Tsing ! (Kisah Tentang Kerajaan Sriwijaya)

BP/DUDY OSKANDAR
Bambang Budi Utomo

Oleh: Bambang Budi Utomo (peneliti dari Puslitbang Arkenas)

 

BERMULA  dari rancauan seorang engkong tua bangka di chanel youtube “Macan Idealis” yang menyatakan bahwa Śrīwijaya adalah sebuah kerajaan fiktif alias keberadaannya diragukan. Benarkah demikian? Entah darimana sumbernya, engkong merancau bahwa I-tsing itu utusan Kaisar Tiongkok untuk mencari dimana Śrīwijaya berada. Siapa sebenarnya I-tsing?

Tulisan ini mengupas tentang catatan perjalanan I-tsing dalam perjalanannya ke India dari Tiongkok dan singgah di Sumatera pada masa sebelum dan setelah Śrīwijaya lahir. Dalam kunjungannya itu ia menceriterakan keadaan kota Śrīwijaya dan kehidupan masyarakatnya. Terlebih dahulu ia menceriterakan posisi kira-kira berdasarkan bayang-bayang orang ketika berdiri tengah hari. Perhitungan lokasi suatu tempat berdasarkan bayang-bayang orang berdiri atau bayang-bayang tongkat dalam astronomi dikenal dengan nama gnomon.

 

1. Shih-li-fo-shih

Nama I-tsing di kalangan purbakalawan dan sejarahwan Indonesia dan Asia Tenggara yang mengkaji Śrīwijaya sudah tidak asing lagi. Ia adalah seorang bhikṣu yang cukup dikenal di Asia dan India. Dalam catatan perjalanannya dari Tiongkok, Śrīwijaya, dan Nālanda, dianjurkan untuk para bhikṣu, samanera, dan orang-orang yang mau memperdalam ajaran Buddha di Nālanda (India) sebaiknya singgah dulu di Śrīwijaya untuk mempelajari Sabdhawidya Sansekerta (tata-bahasa Sansekerta).

Kerajaan Śrīwijaya muncul pada abad ketujuh, berkembang, sampai akhirnya lenyap pada abad tigabelas. Pendapat ini adalah karena penyamaan nama Shih-li-fo-shih dengan San-fo-ts’i, yang bersumber pada Berita Tionghoa baik dari masa Dinasti T’ang (abad ke-7-10 Masehi) maupun masa Dinasti Song (abad ke-11-13 Masehi). Nama Shih-li-fo-shih bersumber pada berita Tionghoa dari masa pemerintahan Dinasti T’ang (618-907). Menurut Shin-tang-shu, Shih-li-fo-shih mengirim utusan ke Tiongkok dalam tahun 670 sampai 673 dan 713 sampai 741. Sedangkan San-fo-ts’I, menurut Sung-shih, mengirim utusan ke Tiongkok, pertama kali dalam tahun 960, dan yang terakhir 1178 (Slametmulyana 1968: 27).

Namun demikian letak pusat Kadātuan Śrīwijaya misih menjadi persoalan, karena ibukotanya berpindah-pindah. Majumdar berpendapat Śrīwijaya harus dicari di Jawa; Moens menduga Śrīwijaya berpusat di Kedah (Malaysia), dan kemudian berpindah ke Muara Takus (Riau); sedang Soekmono cenderung menempatkannya di Jambi. Sementara itu Cœdès, Slametmulyana dan Wolters lebih memilih Palembang (Soekmono, 1979: 75-76; Slametmulyana, 1981: 8, 43-49).
Berdasarkan penelitian geomorfologi, Soekmono (1979: 75-80) berpendapat, ibukota Śrīwijaya terletak di “Teluk” Wen, Jambi, sementara Sartono (1979: 70) melalui telaah paleogeologi, memilih “Semenanjung” Palembang. Kesemuanya ini didasarkan atas peta garispantai purba Sumatera yang dibuat (direkonstruksi) oleh Obdeyn (1942: Peta 6) dimana di pantai timur Sumatera terdapat dua teluk yang menjorok ke dalam. Di Teluk Wen mengalir Batanghari, sedangkan di teluk dimana Palembang terletak di ujung semenanjung mengalir Sungai Musi.

Di lain pihak, Boechari (1979: 28-29) dengan menggunakan data prasasti, berpendapat bahwa sebelum tahun 682 Shih-li-fo-shih berpusat di Batang Kuantan, Riau pada garis koordinat 0°30’LS. Menurutnya lokasi ini sesuai dengan catatan I-tsing: “Di Sribhoja, pada pertengahan bulan kedelapan, bayangan tiang tidak bertambah panjang ataupun pendek. Pada saat matahari berada di selatan, bayangan jatuh ke utara sepanjang dua sampai tiga ch’ih, dan saat matahari berada di utara, bayangan jatuh ke selatan dengan panjang yang sama”.

Lebih lanjut menurut Boechari, I-tsing menulis catatannya tentang gnomon tersebut, saat ia berada di suatu wilayah Shih-li-fo-shih, tetapi bukan di ibukotanya. Boechari menduga, pada kalimat pertama, I-tsing menulis tentang bayangan tiang (gnomon), tetapi pada kalimat kedua, I-tsing menulis tentang bayangan manusia; dan dengan menganggap tingginya manusia antara lima sampai enam kaki (ch’ih), beliau sampai pada kesimpulan, lokasi yang dimaksud I-tsing terletak di garis 0°30’ LS, sebuah wilayah dekat Sungai Indragiri, Riau.

Baca:  Fraksi-Fraksi DPRD Sumsel Nilai Raperda RPJMD Sumsel  tahun 2018-2023 Masih Banyak Masalah

Berdasarkan perhitungan astronomis yang dilakukan oleh Hapsoro (1989: 32-50) tentang lokasi Shih-li-fo-shih, diduga berada tidak jauh dari Palembang. Bila diukur berdasarkan soltice –yang dapat dikatakan akurat– Shih-li-fo-shih tidak terletak di kota Palembang sekarang atau di sekitar Upang-Sungsang di muara sungai Musi. Tetapi, jika diukur berdasarkan musim, kemungkinan letak Shih-li-fo-shih yang terdekat dengan Palembang berada di sekitar Kuala Tungkal, Tanjung Jabung (0°57’49,52” LS). Hal ini agaknya sesuai dengan pendapat Boechari “I-tsing menulis catatannya tentang gnomon saat ia berada di suatu wilayah Shih-li-fo-shih, bukan di ibukota Shih-li-fo-shih.

 

2. Palembang Pra- Śrīwijaya

Hingga kini para sejarahwan, purbakalawan, dan umumnya masyarakat menduga bahwa lokasi Kerajaan Mālayu ada di sekitar daerah aliran sungai Batanghari, di wilayah Provinsi Jambi (Rouffaer 1921: 1-127). Namun ada juga sebagian sarjana menduga bahwa lokasinya di daerah aliran sungai Musi, tepatnya di Kota Palembang, seperti yang dikemukakan oleh Sumio (2011). Dalam tulisan ini saya akan melihat Mālayu dari sumber data lain.

Nama Mālayu untuk pertama kalinya muncul dalam sejarah tercatat dalam Berita Tionghoa abad ke-7 Masehi, kemudian dalam Prasasti Tañjore dari India Selatan tahun 1030 Masehi yang mencantumkan “Malaiyur”. Dalam berita-berita Tionghoa, nama Mālayu disebutkan sebanyak tujuh kali, masing-masing dalam buku Che-fu-yuan-gui, Da-tang-xi-yu-qiu-fa-gao-seng-chuan (=Biografi Pendeta-pendeta Mulia dari Tang Raya yang Mengejar Dharma di India), Nan-hai-ji-gui-nei-fa-chuan (=Keadaan Ajaran Buddha di Lautan Selatan, Dititipkan Kepada yang Pulang), dan Gen-ben-shou-yi-qie-you-bu-bai-yi-jie-mo (terjemahan dari text ajaran Buddha Mulasarastivada-ekasatakarman).

Dalam kitab Da-tang-xi-yu-qiu-fa-gao-seng-chuan (671 Masehi), I-tsing menyebutkan:
“… berangkat dari Fan-yu (=Guangdong) …, seperti diduga belum sampai dua kali sepuluh hari datang di Fo-shi (Shih-li-fo-shih). Tinggal disini selama enam bulan sambil belajar fonologi Sansekerta. Rajanya memberi dukungan dan membawanya kepada Mo-lo-yu (sekarang diubah menjadi Shih-li-fo-shih), tinggal juga disini lamanya dua bulan, lalu menuju ke Jie-tu (Kedah)”

Kalimat ini dapat diinterpretasikan bahwa I-tsing berangkat dari Guangdong tahun 671 Masehi dengan menyinggahi Śrīwijaya, Mālayu, dan Kedah di Semenanjung Tanah Melayu, sampai akhirnya tiba di Tamralipti (bagian timur India) pada tahun 673 Masehi. I-tsing tinggal di Tamralipti sampai awal tahun 686 Masehi.

Dalam catatan yang lain, Gen-ben-shou-yi-qie-you-bu-bai-yi-jie-mo, I-tsing menguraikan:

“Dan-mo-li-di (Tamralipti) adalah pelabuhan untuk pulang ke T’ang. Dari sini berlayar dua bulan ke arah tenggara sampai ke Jie-tu. Ini takluk kepada Fo-shi. Datang disini pada bulan kedua… tinggal disini sampai musim dingin, baru berlayar ke arah selatan lebih kurang satu bulan tiba di pulau Mo-lo-yeu, yang sekarang adalah Negara Fo-shi-duo. Oleh karena datang disini juga pada bulan kedua, tinggal disini sampai tengah musim panas, lalu berlayar ke arah utara satu bulan lebih tiba di Guang-fo (Guangzhou)”

Catatan ini dapat diinterpretasikan bahwa I-tsing berangkat dari Tam¬ralipti pada awal tahun 686 Masehi, tiba di Kedah dan tinggal selama hampir setahun, kemudian pada tahun 687 berangkat dan tiba pada tahun yang sama di Pulau Mo-lo-yeu. Dalam keterang¬annya, “pulau Mo-lo-yeu, yang sekarang adalah negara Fo-shi”.

Fo-shi atau Shih-li-fo-shih merupakan transliterasi Mandarin dari kata Śrīwijaya. Berdasarkan prasasti-prasasti Śrīwijaya yang ditemukan di Palembang, diduga lokasi kota Śrīwijaya adalah Palembang. Prasasti Kedukan Bukit tertanggal 16 Juni 682 menandai dibangunnya sebuah perkampungan, Prasasti Talang Tuo tertanggal 23 Maret 684 menandai dibangunnya Taman Śrī Ksetra, dan Prasasti Telaga Batu menandai pejabat-pejabat yang disumpah yang semuanya ditemukan di Palembang, merupakan suatu bukti bahwa Palembang merupakan kota Śrīwijaya. Prasasti Talang Tuo mengindikasikan ajaran Buddha Mahāyāna di Śrīwijaya dan dari Palembang banyak ditemukan arca Buddha Mahāyāna. Ini berarti bahwa di Śrīwijaya banyak yang menganut Buddha Mahāyāna. Bagaimana kaitannya antara Mālayu dan Śrīwijaya?

Baca:  Dalam Rangka Harlah PPP  Ke 47, DPW PPP Sumsel Gelar Yasinan Dan Doa Bersama

Dalam kitab Nan-hai-ji-gui-nei-fa-chuan disebutkan:

“Pulau-pulau di Lautan Selatan adalah, kalau menyebutkannya dari barat, pulau Po-lu-shi, pulau Mo-lou-you yaitu sekarang adalah Negara Shi-li-fo-shi, pulau Mo-he-xin, pulau He-ling, Ada juga banyak pulau kecil yang tidak dapat dihitungkan semuanya.”

Selanjutnya disebutkan:

“Pulau-pulau di Lautan Selatan semuanya menganut ajaran Buddha. Kebanyakan adalah Hīnayāna, cuma di Mo-lou-you saja ada Mahāyāna sedikit”.

Catatan I-tsing itu jelas bahwa pada awal kedatangannya ke Mālayu sekitar tahun 671 Masehi Mālayu belum bernama Śrīwijaya, dan di kota tersebut sedikit umat yang mengaut ajaran Buddha Mahāyāna. Ketika dia datang lagi ke Mālayu dalam perjalanannya kembali ke Tiongkok pada tahun 687, Mālayu telah berubah menjadi Śrīwijaya. Dalam perjalanan sejarahnya penganut ajaran Buddha Mahāyāna di Śrīwijaya semakin banyak. Terbukti dari banyaknya indikator Buddha Mahāyāna yang berupa arca Bodhisattwa ditemukan di wilayah Sumatera bagian selatan, khususnya dari Palembang.

Uraian teks tersebut jelas menggambarkan bahwa untuk menyebut keseluruhan Pulau Sumatera, selain Swarnnadwīpa dan Swarnnabhūmi, adalah Mālayu atau dalam lafal orang Tionghoa “Mo-lou-you”. Di Mo-lou-you banyak terdapat kelompok permukiman yang mungkin saja telah mempunyai satu sistem pemerintahan. Kelompok-kelompok permukiman ini berada di tepian sungai-sungai besar, seperti Way Tulangbawang (To-lang Po-hwang) (Poerbatjaraka 1952: 18), Sungai Musi (Shih-li-fo-shih atau San-fo-tsi), Batanghari (Chan-pi atau Pi-chan) (Wolters 1974: 144), dan Batang Pane atau Sungai Barumun (Pannai). Keseluruhannya ada di satu pulau yang bernama Mo-lou-you. Pada suatu masa, salah satu kelompok permukiman itu lebih menonjol dibandingkan dengan kelompok permukiman lain, seperti Shih-li-fo-shih atau Śrīwijaya yang muncul pada abad ke-7–12 Masehi.

Kitab Nan-hai-ji-gui-nei-fa-chuan menyebutkan: “Pulau-pulau di Lautan Selatan semuanya menganut ajaran Buddha. Kebanyakan adalah Hīnayāna, cuma di Mo-lou-you saja ada Mahāyāna sedikit”. Kalau kita berpegangan pada kitab ini dalam penyebutan “Mo-lou-you saja ada Mahāyāna sedikit”, artinya sebagian besar adalah penganut Hīnayāna. Baru setelah munculnya Shih-li-fo-shih (Śrīwijaya) pada tahun 682 Masehi di Tanah Melayu, penganut Mahāyāna cukup banyak jumlahnya. Hal ini dapat dibuktikan/ditandai dengan banyaknya arca Bodhisattwa yang ditemukan di Sumatera. Kemudian bagaimana dengan penganut ajaran Hīnayāna yang katanya banyak, dan apa buktinya?

Di Bukit Siguntang, Palembang ditemukan sebuah arca Buddha yang ukurannya cukup besar, terbesar dari yang ditemukan di Sumatera. Mungkin ini satu-satunya arca pemujaan para penganut ajaran Hīnayāna yang pernah ditemukan. Arca Buddha ini digambarkan dalam sikap berdiri. Rambutnya digambarkan ikal-ikal kecil menutupi seluruh bagian kepala dan di bagian tengah atas terdapat semacam sangul berbentuk bulat dan kecil (uṣṇīsa). Pakaian yang dikenakan adalah semacam jubah panjang, bergaris-garis. Pakaian tersebut menutup kedua bahunya.

Mengenai tarikh dilihat dari penggambaran arca yang secara keseluruhan tampak bahwa arca tersebut bergaya seperti arca-arca dari masa seni Amarāwati (Krom 1931: 29-33; Sulaiman 1980: 14). Ghosch (1937: 125-127) berpendapat bahwa arca Buddha dari Bukit Siguntang ini dapat dimasukkan ke dalam periode abad ke-4 Masehi, sedangkan Bachhofer menempatkan pada abad ke-2 Masehi (Sastri: 1949: 103). Berdasarkan pada penggambaran gaya pakaian terlihat adanya pengaruh dari langgam masa Gupta, yaitu abad ke-5 Masehi (Majumdar 1935: 75-78). Namun Schnitger cenderung berpendapat bahwa arca tersebut berasal dari abad ke-5-6 Masehi (1937: 2-3) dan menurut Nik Hassan Shuhaimi bila dilihat dari penggambaran gaya pakaian tampak adanya pengaruh seni antara Gupta dan post-Gupta (1979: 33-40; 1984: 265-266). Berdasarkan pada gaya seni tersebut, kemungkinan arca Buddha dari Bukit Siguntang ini dapat ditempatkan pada abad antara 6-7 Masehi.
Berdasarkan temuan arca Buddha Sakyamuṇi abad ke-6-7 tersebut, diduga sebelum munculnya Shih-li-fo-shih, di Palembang telah ada kelompok masyarakat yang menganut ajaran Buddha Hīnayāna dengan Bukit Siguntang sebagai tempat melakukan puja bhakti. Ketika Shih-li-fo-shih (Śrīwijaya) muncul dan berkembang, Bukit Siguntang masih berfungsi sebagai pusat upacara penganut ajaran Buddha. Boleh jadi para pemeluk Hīnayāna dan Mahāyāna sama-sama melakukan upacara di Bukit Siguntang, karena di tempat itu ditemukan arca-arca Mahāyāna, seperti arca Kuwera dan Bodhisattwa.

Baca:  7 RT di Kelurahan Sukajaya Belum Nikmati Air Bersih

Demikianlah sikit yang dapat saya kemukakan berdasarkan sumber Berita Tionghoa dan artefak yang ditemukan di Plembang. Entah engkong tua bangka itu mendapat sumber darimana, sehingga dia mengatakan bahwa I-tsing itu utusan Kaisar Tiongkok. Kalau dia mengatakan kira-kira “kalau mau menghancurkan suatu bangsa, hancurkan sejarahnya” Ape nyang diomongin pada hakekatnya dia sendiri yang sedang menghancurkan bangsa ini (Indonesia).

Daftar Pustaka:

Boechari. 1979. “Report on Research on Srivijaya”, dalam Final Report SPAFA Workshop on Research Project on Srivijaya, Appendix a: 1-7. Bangkok: SPAFA Coordinating Unit. hlm. 28

Cœdès, George. 1989. “Prasasti berbahasa Melayu Kerajaan Sriwijaya”, dalam G. Cœdès & L-Ch. Damais (ed.) Kedatuan Sriwijaya Penelitian tentang Sriwijaya (Seri Terjemahan Arkeologi No. 2). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm. 63-64

Ghosh, Devaprasad. 1937. “Two Bodhisattva imeges from Ceylon and Srivijaya “. JGIS IV: 125-127

Hapsoro, Eadhiey Laksito. 1989. “Shih-li-fo-shih Tengah Hari”, dalam Proceeding Pertemuan Ilmiah Arkeologi PIA Jilid III: Metode dan Teori, hlm 32-50. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Krom, N.J. 1931. “Antiquities of Palembang”, dalam ABIA: hlm. 29-33

Majumdar, R.C. 1935. “The Origin of the art of Srivijaya”, dalam JISOA 3, hlm. 75-78

Obdeyn, V. 1942. ”De Oude zeehandelsweg door de Straat van Melaka in verband met de geomorfologie der Selat-eilanden”, dalam TAG 56, Peta 6

Poerbatjaraka, R. Ng. 1952. Riwajat Indonesia I. Djakarta: Pembangunan.

Rouffaer, G.P. 1921. “Was Malaka Emporium voor 1400 AD Genaamd Malajoer”, dalam BKI 77: 1-174

Sartono. 1979. “Pusat-pusat Kerajaan Sriwijaya Berdasarkan Interpretasi Paleogeografi”, dalam Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, hlm. 43-73.

Sastri, K.A. Nilakanta. 1949. The History of Srivijaya. Madras: University of Madras.

Schnitger, F.M. 1937. The archaeology of Hindoo Sumatera. Leiden: E.J. Brill

Slametmulyana. 1968. Sriwidjaja. Ende: Nusa Indah

———–. 1981. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi. Jakarta: Idayu.

Suleiman, Satyawati. 1980. “The History and Art of Srivijaya”, dalam The Art of Srivijaya (M.C. Subhadradis Diskul, ed.) Kuala Lumpur: Oxford University Press, hlm. 14

Takakusu, J. 1896. A Record of Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago (A.D. 671-695) by I-tsing, London: Oxford.

Sumio, Fukami. 2001. “Malayu sekarang adalah Sriwijaya”. Makalah dalam Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, Memperingati 70 Tahun Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian. Jakarta, 14 Pebruari 2001.

Wolters, O.W. 1974. Early Indonesian Commerce. A Study of the Origins of Srivijaya. Ithaca, London: Cornell University Press.

Yamamoto, Tatsuro. 1983. “Reexamination of Historical Texts Concerning Srivijaya”, dalam SPAFA Consultative Workshop on Archaeological and Environmental Studies on Srivijaya (T-W3), hlm. 171-180.

Yamin, Mohamad. 1958. “Penyelidikan sejarah tentang negara Sriwijaya dan Rajakula Syailendra dalam kerangka kesatuan ketatanegaraan Indonesia”, dalam Laporan KIPN I, 5D. Djakarta: Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, hlm. 129-241.

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

ASN dan Warga Muba di Bantaran Sungai Diakomodasi di Rusun

Sekayu, BP–Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dibawah kepemimpinan Bupati Muba Dodi Reza sangat memperhatikan betul kondisi dan kebutuhan warga Muba ...