Home / Hukum / Pimpinan Apartement Basillica Ditetapkan Tersangka, Korban Tuntut UU Perlindungan Konsumen

Pimpinan Apartement Basillica Ditetapkan Tersangka, Korban Tuntut UU Perlindungan Konsumen

(Ketua Tim Kuasa Hukum Ivoni, Heriyanto didampingi Heru selaku Paman korban saat menggelar keterangan pers di Meeting Room Hotel Batiqa Palembang)

Palembang, BP

Kasus dugaan penipuan yang menyeret nama pimpinan Apartemen bergengsi Palembang Basillica Herman Hasanawi kini berujung penetapan tersangka oleh Penyidik Direktorat Reserse Umum (Ditreskrimum) Polda Sumatera Selatan.

Namun, Ivoni selaku korban dugaan penipuan melalui kuasa hukumnya Heryanto mendesak penyidik agar dugaan skandal penipuan tak hanya pasal 378 dan 372 KUHP tapi juga Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Pasalnya, jika dikenakan pasal berlapis maka bukan hanya pimpinan Apartemend Basilllica Palembang tapi juga Direksi karena dugaan semua terlibat.

Baca:  DPRD Sumsel Himbau Masyarakat Waspada Penipuan Berkedok Undian

“Jadi yang ditetapkan tersangka hanya Direktur Basillica Herman Hasanawi, tapi Direksi tidak. Seharusnya penyidik juga menangani kasus ini selain pasal 378 dan 372 KUHP juga UU Perlindungan Konsumen,”tegas Heryanto, selaku Kuasa Hukum Ivoni saat menggelar keterangan persnya di Meeting Room Hotel Batiqa Palembang, Minggu (18/8).

Heryanto menambahkan bahwa Direktur PT Trinitas Properti Persada (TPP) developer Apartemen Basilica, Herman Hasanawi seharusnya dikenakan pasal berlapis.

Ia menjelaskan, kasus ini dilaporkan kliennya Ivoni salah seorang konsumen yang menjadi korban karena sebelumnya mengambil unit apartemen tipe 2 BRC nomor unit 21 senilai Rp445 juta yang telah dibayar lunas, namun tak kunjung menerima penyerahan unit maupun sertifikat kepemilikan apartemen.

Baca:  DPRD Sumsel Himbau Masyarakat Waspada Penipuan Berkedok Undian

“Kasus penipuan dan penggelapan sesuai pasal 378 dan 372 KUHPidana kita laporkan pada 6 Desember 2018. Setelah selama dua tahun lamanya klien kami mencoba menempuh upaya pendekatan personal dan hanya minta dikembalikan biaya pokok yang telah disetor tanpa dihitung denda seperti yang tertera di pernyataan perjanjian jual beli,” imbuh Heryanto.

Dikatakan Heryanto, tindak penipuan dan penggelapan yang dialami kliennya bermula dari penawaran pembelian apartemen di tahun 2014. Saat itu, korban tertarik untuk membeli unit apartemen langsung melakukan booking fee dan mengangsur selama 27 kali yang di Juni 2016 angsurannya selesai.

Baca:  DPRD Sumsel Himbau Masyarakat Waspada Penipuan Berkedok Undian

Dan begitu angsuran diselesaikan imbuh Heryanto kliennya menagih janji developer apartemen untuk menyerahkan unit apartemen yang terletak di lantai 10. Namun, apa lacur ternyata developer ingkar janji, karena progres pembangunannya saja baru sampai lantai 8.

“Yang kami dengar juga berkas perkara ini telah dilimpahkan ke penyidik Kejati Sumsel meski baru tahap satu. Harapan kami selain HH ada komisaris PT TPP yang pastinya juga mengetahui perihal penjualan unit apartemen ini,” urainya.

Sementara itu dikatakan Heru selaku Paman Korban menyesalkan bahwa Herman Hasanawi tidak berlaku kooperatif seperti perjanjian dengan keponakannya selaku korban.

“Sepeser pun tak ada pengembalian, pun sampai sekarang. Termasuk denda nya karena dalam perjanjian ada denda jika apartemen belum diserahkan,”pungkasnya. #sug

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Komplotan Penjahat Siber Ini Didenda Rp100 Miliar

Palembang, BP–Levinus Wijaya, Bayu Pamungkas, Eki Gustandi, dan Ibnu Sutowo akhirnya divonis pidana denda sebesar Rp100 miliar subsider enam bulan ...