Home / Headline / Penggunaan Pakaian Adat Palembang Harus di Koreksi , Banyak Berubah Fungsi

Penggunaan Pakaian Adat Palembang Harus di Koreksi , Banyak Berubah Fungsi

BP/DUDY OSKANDAR
Pengamat sejarah Palembang H Andi Syarifuddin

Palembang, BP
Seiring perjalanan waktu, sedikit banyak terlihat perbedaan pada gaya busana adat Palembang. Bahkan kerap ditemukan kekeliruan yang sangat keluar dari pakem adat busana yang dapat merusak tatanan tradisi berbusana berdasarkan budaya Palembang.

Pengamat sejarah Palembang H Andi Syarifuddin mencontohkan penggunaan tanjak Palembang memiliki ciri khas tersendiri yaitu tidak terlalu tinggi dan bahannya tidak menggunakan songket.

“ Karena songket itu pakaian perempuan, termasuk juga penggunaan kain sarung setengah tiang kalau yang benar untuk laki-laki, ini harus kita koreksi juga ini supaya fungsinya tepat, jadi untuk bapak-bapak tidak pakai songket, yang pakai songket itu ibu-ibu, jadi kalau dulu laki-laki pakai songket di bilangin orang anang ino (laki-perempuan),itu dulu “ katanya disela-sela acara Ikatan Alumni SMA Negeri 2 Puncak Sekuning Palembang (Iasma Puspa) menggelar acara diskusi dalam rangka peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 74, dengan tema ” Dalam rangka Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 dan Mengenang Dua Abad Kepahlawanan Rakyat Sumatera Selatan Melawan Kolonialisme Belanda Dalam Perang Palembang 1819″ Sabtu(17/8) depan lawang borotan, Komplek Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang.

Baca:  2018, Balar Sumsel Lakukan Delapan Penelitian

Sebab menurut imam Masjid Agung , Sultan Mahmud Badaruddin Djayo Wikramo ini menurutnya songket adalah memang pakaian perempuan.

Untuk tanjak Palembang bahan pembuatannya dari batik lasem, untuk kain sarung laki-laki setengah tiang pakai kain sarung rumpak atau tajung,” Boleh juga rumpak tapi sulamannya tidak penuh,” katanya.

Untuk laki-laki yang memakai kain sarung setengah tiang tumpalnya ( sulaman yang penuh) letaknya di belakang bukan di depan, yang depan itu tumpal untuk ibu-ibu.

Baca:  Arti Penting Arsip Bagi Sumsel

“ Sebab ibu-ibu banyak duduk jadi kelihatan tumpalnya , sedangkan bapak-bapak banyak berdirinya, sekarang banyak

Untuk panjang kain sarung laki-laki menurutnya ada ciri khas, jika laki-laki belum menikah atau bujangan maka kain sarungnya diatas lutut sedangkan laki-laki yang sudah berkeluarga maka kain sarungnya di bawah lututnya.

“ Semua itu sudah menjadi kabur sekarang ini, jadi orang pakai kelihatan bagus saja,” katanya.

Baca:  Mahasiswa Diharapkan Bisa Tangkal Politik Uang, Hoak dan Ujaran Kebencian

Karena menurutnya sudah seharusnya fungsi-fungsi itu kembalikan lagi dan jangan mengenakan pakaian sekadar bagus.

“ Pakaian pengantin sudah banyak fungsinya berubah, kalau laki-laki pakai penganggon , baju aesan gede itu tidak berbaju, laki-laki itu gajah dan itu harus ditunjukkan, dia pakai kain sarung tidak pakai baju terate, terate itu baju perempuan , kalau laki-laki itu mau pakai baju pakai aesan paksangkong, paksangkong khan jubah lengkap, itu prinsip-prinsipnya seperti itu,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

MMK Tolak RUU KUHP

#Jutaan Rakyat Indonesia Terancam Masuk Penjara, Semua Bisa Kena RUU KUHP Baru Palembang, BP Pada penghujung masa jabatan DPR RI ...