Home / Headline / Kesadaran Masyarakat Palembang Menonton Film di Nilai Bagus

Kesadaran Masyarakat Palembang Menonton Film di Nilai Bagus

BP/DUDY OSKANDAR
Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) RI, Ahmad Yani Basuki saat menyerahkan cinderamata kepada Sekretaris Dinas Pariwisata kota Palembang, Sadikun di acara Sosialisasi Kebijakan Lembaga Sensor Film dan Budaya Sensor Mandiri “ Masyarakat sensor mandiri , wujud keperibadian bangsa”, Selasa (13/8) di Hotel Novotel, Palembang.

Palembang, BP
Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) RI, Ahmad Yani Basuki mengapresiasi jika film bisa menjadi sumber masukan yang patut diperhitungkan di Palembang,  dengan demikian dia menyimpulkan kesadaran masyarakat Palembang menonton film dinilainya masih bagus.
“Kecuali ada masalah-masalah yang kemarin saya monitor, kecuali ada masukan mengenai film untuk tidak di tonton, itu dinamika yang kadang-kadang perlu yang harus kami lakukan ini, perlu ada literasi, perlu ada sosialisasi dengan begitu Insya Allah masyarakat mendapatkan pencerahan,” katanya usai membuka acara Sosialisasi Kebijakan Lembaga Sensor Film dan Budaya Sensor Mandiri “ Masyarakat sensor mandiri , wujud keperibadian bangsa”, Selasa (13/8) di Hotel Novotel, Palembang.
Menurutnya,keterbatasan yang dimiliki Lembaga Sensor Film (LSF) harus di dukung dengan sensor mandiri oleh masyarakat. Perkembangan teknologi sekarang ini menjadi salah satu kendala bagi LSF untuk memantau dunia film.
“Budaya sensor mandiri itu mengajak masyarakat, baik yang memproduksi maupun yang menonton itu memiliki kecerdasan untuk memilah dan memilih tontonan yang tepat sesuai peruntukan dan klasifikasi usianya, maka dengan sosialisasi itu juga mulai dari produk film semakin lebih baik dalam arti batasan-batasan semakin diperhatikan, “ katanya.
Selain itu undang-undang memberikan ruang pihaknya membuka cabang di daerah tetapi terkendala dana besar sehingga kondisi sekarang belum memungkinkan untuk itu.
“Sampai sekarang kita baru membuat perwakilan di Surabaya, tempat lain belum ada dan kita dorong ke sensor mandiri agar masyarakat tahu bahwa betul-betul cerdas untuk memilah dan memilih nontonannya,” katanya.
Dia membantah kalau LSF hanya menyensor adegan pornografi, menurutnya banyak yang menyangkut ajaran-ajaran kekerasan, penyimpangan akidah yang rawan terhadap persoalan pertentangan antar agama, suku, perjudian, obat-obat terlarang, bersifat sara.
Sekretaris Dinas Pariwisata kota Palembang, Sadikun menjelaskan, kalau 50 persen pajak hiburan kota Palembang disumbang dari film.
“Di Palembang ini bioskop sangat ramai, disini sudah ada tiga konsorsium film yang setiap tahun bertambah layarnya, jadi film ini menurut kami cukup memberikan pengaruh bagi yang menonton,” katanya.
Pemkot Palembang sendiri kamis lalu baru mengukuhkan Palembang Internasional Tourism And Film Board yang merupakan kumpulan dari komunitas film di Palembang untuk membangun suatu masyarakat film yang temanya tourism .
“ Dengan kegiatan ini dapat berkesinmabungan dan bisa berlanjut dan skalanya bisa lebih luas dan melibatkan komunitas, yang notabaene terlibat dalam perfilman dan semoga sasaran kita semua ini bisa kita optimalkan, “ katanya.
Sedangkan Dr. Nasrullah MA selaku Anggota LSF Indonesia dalam materi nya menjelaskan penting nya Sensor Film sebelum menjadi ‘konsumsi publik’.
“Sebuah tontonan yang bersifat audio-visual seperti film sangat memberi pengaruh dan melekat pada memori seorang anak, oleh karena itu memerlukan keikutsertaan orangtua untuk melakukan seleksi terhadap jenis tontonan yang patut ditonton. Sikap permisif keluarga terhadap jenis tontonan akan mempengaruhi kejiwaan anak yang akan berkesan sampai dewasa. Oleh karena itu diperlukan partisipasi, yaitu kehati-hatian keluarga di dalam mendampingi seorang anak yang ikut serta menonton film. Hal ini menunjukan penting nya membangun Masyarakat Sensor Mandiri di Indonesia. ” kata Dr. Nasrullah.
Sedangkan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang Dr. Kusnadi, M.A mengatakan Fakultasnya dalam beberapa mata kuliah mengajarkan tentang produksi film dan televisi dan penelitian dan analisas film yang bertentangan dengan norma agama dan akhlak yang baik.
“ Perlu kerjasama LSF dengan berbagai elemen baik pemerintah daerah, dinas pariwisata, majelis ulama Indonesia , komisi penyiaran, ormas, aliansi masyarakat , lembaga pendidikan terkait edukasi masyarakat,” katanya.
Pihaknya ingin LSF memperbanyak riset yang dilakukan dosen dan mahasiswa tentang media film sebagai bentuk sensor mendiri di perguruan tinggi dan membuka bidang studi televisi dan film.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Cabor Panjat Tebing Muba Raih Tiga Medali Emas

Prabumulih, BP–Kontingan Musi Banyuasin ( Muba) berhasil mengawinkan medali emas dari nomor speed classic perorangan putra dan putri, cabang olahraga ...