Home / Headline / Thia Yufada dan Gerakan Literasi di Muba

Thia Yufada dan Gerakan Literasi di Muba

Oleh : Maspril Aries
Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

Gerakan literasi di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) terus bergerak. Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Muba Thia Yufada pasca ditetapkan sebagai “Bunda Baca Muba” pada September 2018 terus membenahi dan mendorong gerakan literasi di daerah itu terus menggeliat.

Salah satu yang terbaru dilakukan mantan host sebuah stasiun televisi swasta nasional tersebut, adalah pelatihan pembuatan buku cerita anak untuk jenjang sekolah dasar (SD) siswa kelas 4,5 dan 6. Pada kegiatan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Muba tersebut Thia Yufada mendatangkan penulis/ penyunting buku cerita anak J Proboantoro untuk berbagi ilmu dan kiat menulis kepada guru kelas dan guru bahasa Indonesia se-Kecamatan Sekayu.

Thia Yufada juga bercerita tentang dua putri kembarnya Aletta dan Atalie yang bersekolah SD Mentari Intercultural School Jakarta (MISJ) dengan dibimbing Proboantoro telah menulis cerita yang kemudian bersama murid lainnya diterbitkan dalam sebuah buku.

J Proboantoro yang sudah menulis buku cerita anak sejak 2003 juga telah berhasil membimbing murid SD Mentari Intercultural School meneerbitkan karya mereka menjadi sebuah buku. Sejak 2013 sudah terbit buku-buku yang ditulis siswa SD tersebut dengan penyunting Proboantoro. Diantara buku yang sudah terbit berjudul : “Cerita Kita Dunia Kita,” “Pelangi Lima”, “Menabur Bintang,” dan “Menggapai Bintang.”

Sebagai seorang guru Bahasa Indonesia J Proboantoro memiliki ide membukukan hasil tulisan anak-anak, supaya ada jejaknya, tak hilang begitu saja. Di Musi Banyuasin Thia Yufada tengah memprakarasinya agar anak di Muba juga bisa menulis cerita dan membukukannya. Apa yang dilakukan istri dari Bupati Muba Dodi Reza Alex tersebut adalah salah satu aksi nyata dari seorang Bunda Baca dalam menggerakkan literasi di daerahnya.

Baca:  Pemkot Dinilai Tak Paham Aturan

Di Indonesia Gerakan Literasi Nasional (GLN) mulai dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) saat dijabat Anies Baswedan pada 25 Maret 2016. Menurut Anies Baswedan kemampuan literasi merupakan salah satu ketrampilan yang harus dimiliki oleh setiap manusia, khususnya bangsa Indonesia di abad ke-21 ini. Kemampuan literasi merupakan sebuah kemampuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Kemampuan ini tidak hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi kemampuan yang mencakup dalam kemampuan menginterpretasikan sumber informasi yang didapat baik dalam bentuk cetak, visual, digital, maupun auditori.

Sebagai Mendikbud Anies Baswedan telah diganti dengan Muhadjir Effendi. Pergantian menteri kerap dituding seperti lagu lama yang diputar kembali – ganti menteri ganti kebijakan. Masih adakah sekolah yang memiliki kegiatan membaca 15 menit bagi siswa di sekolah yang digagas Anies Baswedan?

Siapapun menterinya, GLN terus tetap ada mengingat Indonesia tingkat literasinya sangat rendah. Dalam The World’s Most Literate Nations (WMLN) 2016, Indonesia pada posisi ke-60 dari 61 negara yang dikaji. Kemudian Programme for International Student Assessment (PISA) pernah menempatkan budaya literasi di Indonesia pada urutan ke-64 dari 65 negera yang disurvei. Dalam kategori minat baca berdasarkan penelitian PISA tersebut Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara.

Data tersebut diperkuat data UNESCO yang menyebutkan posisi membaca Indonesia 0.001 persen. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun. Angka tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku per tahun. Warga Jepang membaca 10-15 buku setahun.

Baca:  AGN : Anggota Fraksi Gerindra Taat dan Patuh dengan Keputusan Partai

Bertahun-tahun kondisi literasi Indonesia tak membaik signifikan. Dalam laporan berjudul “Skills Matter” yang dirilis OECD pada tahun 2016, berdasarkan tes PIAAC, tingkat literasi orang dewasa Indonesia masih berada pada posisi terendah dari 40 negara yang mengikuti program ini.

Betapa memprihatinkan hasil survei tersebut. Salah satu penyebab rendahnya literasi di Indonesia karena masyarakat yang masih kurang sadar akan manfaat literasi. Ada banyak faktor kenapa literasi masyarakat Indonesia memiliki persentase yang rendah. Bahkan sejumlah orang masih belum mengerti makna literasi. Banyak masyarakat lebih terbiasa mendengar dan berbicara daripada berliterasi. Banyak orang lebih memilih menonton televisi atau hiburan lainnya, tetapi sangat sedikit yang terbiasa menyisihkan waktunya untuk membaca dan menulis.

Thia Yufada tengah menata kebiasaan masyarakat itu dengan mengajak anak-anak di Musi Banyuasin untuk membaca dan menulis yang berarti sekaligus meningkatkan literasi masyarakat. Program Bunda Baca Muba tersebut sebagai bagian dari gerakan literasi sekolah (GLS). GLS adalah suatu usaha atau kegiatanyang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid peserta didik)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literer adalah (sesuatu yang) berhubungan dengan tulis-menulis. Saat ini, literasi atau literer memiliki definisi dan makna yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. UNESCO dalam Education Sector, 2004 menyebutkan literasi merupakan kemampuan mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengomunikasikan, dan kemampuan berhitung melalui materi-materi tertulis dan variannya.

Baca:  Kereta Kuda di Palembang

Menurut Koiichiro Matsuura yang pernah menjabat Director-General UNESCO bahwa literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup cara berkomunikasi dalam masyarakat, berkaitan dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Mari saatnya peduli literasi karena tingkat literasi masyarakat suatu bangsa memiliki hubungan ertikal terhadap kualitas bangsa. Tingginya minat membaca buku seseorang berpengaruh terhadap wawasan, mental, dan prilaku seseorang.

Berkaca kepada negara yang peduli dan serius pada literasi yaitu Amerika Serikat. Pada dekade 90-an di negara itu sempat terjadi debat besar (great debate) di parlemen lokal Texas. Debat terkait dengan pembudayaan literasi pada negara bagian Texas. Pada masa Presiden Bill Clinton, diadakan program “America Read Challenge” setelah ditemukan fakta bahwa anak-anak usia SD belum banyak yang lancar membaca. Pemerintah Clinton juga menemukan fakta bahwa sedikit warga dewasa AS yang berkunjung ke perpustakaan dan toko buku setelah lulus sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Bagi Indonesia seharusnya GLN bukan hanya kegiatan sesaat. Bagi mereka yang mengaku penggerak literasi, mendorong dan mengembangkan gerakan literasi tidak hanya saat musim kampanye tiba. Gerakan literasi harus terus tumbuh dan berkembang setiap saat dalam masyarakat selama niat dan dorongan masih ada.

Gerakan literasi nasional mari terus kita dorong menjadi budaya literasi yang terus tumbuh dalam masyarakat. Thia Yufada saat ini bukan tengah berkampanye, tetapi dia turun langsung menggerakkan literasi di sekolah. Bunda Baca Muba Thia Yufada tengah melakukan pesan Khulafaur Rasyidin Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” ⦿

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

RUU Daerah Kepulauan Masuk Dalam Prolegnas Prioritas 2020

Jakarta, BP–RUU tentang daerah Kepulauan menjadi RUU masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2020. RUU inisiatif Komite I ...