Home / Pendidikan / KPAI Temui Kejanggalan MPLS SMA Taruna Indonesia Palembang

KPAI Temui Kejanggalan MPLS SMA Taruna Indonesia Palembang

(Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Drs Widodo MPd bersama Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti saat menanggapi kasus dugaan penganiayaan pada MPLS SMA Taruna Indonesia Palembang)

Palembang, BP
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemui sejumlah kejanggalan pada proses Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Pasalnya, diluar adanya korban meninggal dunia dan sakit. Pihak KPAI menemukan bahwa proses MPLS melanggar Permendikbud 18 tahun 2016 tentang MPLS mengatur bahwa proses MPLS digelar tidak lebih dari tiga hari, tidak boleh ada unsur kekerasan, harus melibatkan senior atau alumni, guru harus jadi panitia inti dan hanya boleh dilakukan tiga hari.
“Saya meminta pihak kepolisian agar berlaku adil, tegakkan hukim dengan benar karena saya tadi sudah mengunjungi baik ke sekolah, rumah sakit dan di kepolisian,” jelas Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti saat melakukan kunjungan ke Dinas Pendidikan Sumsel, Rabu (17/7).
Dikatakan Retno bahwa menurutnya MPLS di SMA Taruna Indonesia Palembang melanggar Permendikbud 18 tahun 2016 tentang MPLS mengatur bahwa proses MPLS digelar tidak lebih dari tiga hari, tidak boleh ada unsur kekerasan, harus melibatkan senior atau alumni, guru harus jadi panitia inti dan hanya boleh dilakukan tiga hari.
Apalagi kasus dugaan penganiayaan proses Masa Pengenalan LingkunganSekolah (MPLS) yang menyebabkan DLB (14) yang merupakan siswa SMA Taruna Indonesia Palembang meninggal dunia pada Sabtu (13/7) lalu sudah ditangani pihak kepolisian.
Dan melibatkan pelaku tunggal oknum pembina MPLS SMA Taruna Palembang Obby Frisman Arkataku (24) yang saat ini ditetapkan sebagai tersangka oleh Unit Resort Kriminal Umum (Reskrimum) Polresta Palembang.
“Dan informasi ini digelar lebih dari tiga hari, diduga ada kekerasan dan adanya Longmarch sepanjang 14 KM dan adanya Longmarch tidak disampaikan ke orangtua wali,” terangnya.
Dikatakan Retno bahwa kasus ini ternyata juga melibatkan korban kedua bernama Wiko yang saat ini masih dirawat di Rumah Sakit. Pihaknya, juga telah melakukan kunjungan ke berbagai tempat baik ke sekolah, ke kepolisian dan ke Rumah Sakit. Retno mengaku dirinya juga telah berbicara kepada orangtua korban kedua yang masih di Rumah Sakit.
“Orang tua mengatakan saat diantar ikut MPLS  secara prinsip anaknya sehat saat diantar, kemudian Sabtu mendapat kabar di Rumah Sakit kemudian mendatangi Rumah Sakit. Mereka sempat ngobrol dengan anaknya dan bilang sakit dipukul bahkan sampai teriak-teriak. Kemudian dilajukan operasi. Kita mengedepankan praduga tak bersalah, dan mungkin nanti jika keluarga mengizinkan otopsi bisa membuka tabir yang sebenarnya,”tegasnya.
Sementara itu dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Drs Widodo MPd mengaku bahwa pihaknya sudah menegaskan kepada SMA/SMK di Sumsel sejak awal bahwa proses MPLS harus tidak ada kekerasan fisik maupun mental bagi para sekolah yang menggelar MPLS. Dan pihaknya menyesalkan adanya kejadian di SMA Taruna Indoensia Palembang ini.
“Jika kegiatan digelar diluar pagar sekolah, agar ada izin Dinas Pendidikan agar ada pengawasan agar berjalan sebagaimana mestinya. Dan saya tidak tahu apakah ada izin tidak ke Kabid SMA Disdik,”jelasnya.
Dikatakan Widodo bahwa berdasarkan informasi dari dokter, korban Wiko mengalami sejumlah organ yang tidak berfungsi.
“Kemungkinan terburuk bisa dicabut. Tapi kita ingin ada pembenahan dan evaluasi,”pungkasnya. #sug
Baca:  Disdik Turunkan Tim Satgas, Urai Kejadian MPLS SMA Taruna
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

SMKN 5 Palembang Gelar Pemotongan Daging Kurban Untuk Anak Yatim

Palembang, BP Momentum Hari Raya Iduladha 1440 Hijrah tahun ini menjadi perayaan seluruh umat muslim di dunia. Tak hanya kalangan ...