Home / Headline / Ironis , Karya Sastra Era Kesultanan Palembang Banyak Tak Dikenal Masyarakat

Ironis , Karya Sastra Era Kesultanan Palembang Banyak Tak Dikenal Masyarakat

BP/IST
Vebri Al Lintani

Palembang, BP
Kraton Kesultanan Palembang Darussalam sejak awal memang difungsikan sebagai pusat sastra dan ilmu agama karena dari awal Sultan Palembang mendukung pembangunan Perpustakaan Kraton Palembang , dalam perpustakaan tersebut tersimpan ribuan cukup lengkap dan tertata rapi.
Apalagi Sultan Palembang selama ini memang di kenal sangat peduli terhadap perkembangan intelektual keagamaan.
Ketika Sultan Palembang ini memimpin Palembang, karya-karya yang dihasilkan oleh para cendikiawan asal Palembang seperti: ilmu tauhid, ilmu kalam, tasawuf, tarekat, tarikh, dan al-Qur’an.
Proses pendidikan dan pengakaran itu sebagian berlangsung di Kesultanan Palembang . Fungsi Perpustakaan keraton yakni sebgai pusat penyalinan kitab-kitab dan penerjemahannya dari bahasa Arab ke bahasa Melayu.
Sayang kini, banyak karya-karya cendikiawan dari Kesultanan Palembang termasuk karya sastra tidak di kenal masyarakat Palembang termasuk kalangan akademisi di Palembang dan Sumatera Selatan (Sumsel) sendiri.
Budayawan , Palembang, Vebri Al Lintani menilai banyak naskah-naskah dan karya sastra era Kesultanan palembang Darussalam yang hingga ini belum banyak di kenal masyarakat Palembang sendiri.
“Misalnya pantun-pantu dikarang oleh orang, tetapi pantun-pantu menjadi masyarakat secara umum karena tidak mencantumkan identitas, kalau sekarang nulis dua baris saja dalam puisi ada karya, misalnya Sutardi menulis tentang luka HH, itu karya Sutarji, tapi kalau dulu tidak nulis panjang-panjang sehingga menjadi milik masyarakat dan karena bagusnya cerita itu jadi populer,” kata budayawan Sumsel Vebri Al Lintani, Kamis (11/7).

BP/IST
Kms.H. Andi Syarifuddin
(KHAS)

Namun yang terpenting menurutnya di Sumsel terutama di Palembang harus menggalakkan kembali diskusi-diskusi tentang sastra-sastra lama seperti Hikayat Raja Babi yang tidak dikenal di Palembang.
“Kita khan hanya beberapa orang yang mau menggali sastra kita ini jadi tidak cukup, sekarang kita berharap di UIN Raden Fatah terutama di Fakultas Adab, ada sastra Arab disitu, bisa menggarahkan kesitu kajiannya, dan Unsri juga bisa kita harapkan misalnya di FKIP Unsri bisa menggali ini termasuk Balai Bahasa, Dinas Kebudayaan dan sebagainya,” katanya.
Karena itu menurutnya perlu orientasi pembangunan di Sumsel dan Palembang kedepan ,” Karena itu apa yang kita dengung-dengungkan sebagai strategi pembangunan kedepan Sumsel terutama Palembang tentu seperti apa?, kalau mau mengangkat melayu, maka kita harus mentradisikan itu, diskusi-diskusi terus digalakkan dan disetiap tempat, masjid agung bisa, diistana kesultanan bisa, bisa di universitas dan sebagainya termasuk lembaga-lembaga budaya lainnya,”
Menurutnya setelah runtuhnya Kesultanan Aceh, muncul Palembang sebagai pusat agama Islam dan sastra.
“ Dengan munculnya ini apalagi ini digelorakan oleh kraton Palembang maka ada iklim menulis , iklim menulis inilah banyak menciptakan penulis-penulis yang terkenal dari Palembang, untuk bidang keagamaan misalnya Abdul Somad Al Palembani , Kemas Fahruddin, termasuk Sultan Badaruddin II, Panembahan Bupati, itu penulis-penulis yang sesuai dengan kaedah Palembang Darussalam waktu itu bahwa sastra atau syair itu sebenarnya sebenarnya tidak boleh karena diikuti setan kecuali yang beriman, artinya boleh menulis untuk menunjang keimanan, lalu muncul syair-syair hikayat yang sebenarnya diadopsi dari arab tetapi beralkulturasi dengan keiman , jadi ada kaitan tulisan sastra dengan keimanan, dan itu tumbuh subur di masa-masa Kesultanan Palembang dan masa Belanda era tahun 1960 an masih juga , “ katanya.

BP/DUDY OSKANDAR
Rd Moh Ikhsan

Untuk itu menurutnya kedepan perlu dilakuka identifikasi sastra Palembang yang lama yang selama ini tidak teridentifikasi termasuk sastra lisan yang selama ini disembunyikan harus dibuka misalnya kisah Jaladri itu dibuka sebagai satu karya sastra.
“ Yang baru kita tahu syair perang menteng itu menghasilkan Doktor Ali Masri (Alm) di Malaysia, mungkin yang lain ada tapi tidak teridenfikasi , itu penting diungkap, ada seberapa banyak danm kalau kita bandingkan Malaysia sangat getol mendiskusikan itu, seperti syair burung nuri, syair perang menteng , syair sinor kosta, itu tidak ada dikita? Kita mencari syair sinor kosta dimana sekarang? Itulah yang harus kita siapkan ini tanggungjawab terutama Dinas kebudayaan Palembang untuk prioritaskan pada budaya khas kita dulu seperti syair Palembang, lembaga zuriat Palembang Darusaalam dan peminat kebudayaan seperti kita ini termasuk lembaga pendidikan seperti Unsri, UIN Raden Fatah, UMP, PGRI bertanggungjawab menggali budaya Palembang dan menunjukkan bukti identitas Palembang ,” katanya.

Baca:  Gembleng Demokrasi Guru, Disdik Gandeng PIER dan KAS

Hal senada dikemukakan pengamat sejarah Palembang Kms H Andi Syarifuddin menilai di Palembang dulu syair-syair milik Palembang dijarah Belanda padahal menurut dulu karya sastra Palembang sangat banyak.
“ Tapi masih bisa dilacak ,” katanya.
Sedangkan pengamat sejarah Palembang , Rd Moh Ikhsan melihat di zaman Jepang naskah-naskah lama sempat di bakar Jepang disamping itu masyarakat ada yang tidak mau membagi naskah-naskah sastra Palembang karena dianggap pusaka.
“Macam piagam-piagam lama sebagian tidak mau dibuka , dipusakakan, jangan di baca dilihat tidak boleh sehingga barang itu tidak terungkap apa isinya, ada juga orang yang paham soal naskah lama tapi disimpan sebagai dan tidak mau di bagi dengan orang lain tapi saat orang yang memegang naskah lama tersebut meninggal barang itu hilang dan tidak ada yang melanjutkan,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

“Tinggal Mendekatkan Diri Pada Allah SWT”

Palembang, BP Ketua Masyarakat Miskin Kota (MMK) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Aripin Kalender  mengaku dengan bencana asap yang menyelumuti kota ...