Home / Headline / Dari Jalan Rusak Hingga Tidak Ada Penambahan Koleksi Jadi Masalah yang Dihadapi Museum Sriwijaya

Dari Jalan Rusak Hingga Tidak Ada Penambahan Koleksi Jadi Masalah yang Dihadapi Museum Sriwijaya

BP/DUDY OSKANDAR
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, UPTD Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya, dan Museum Sriwijaya menggelar Diskusi Terpumpun Prasasti –prasasti Sriwijaya Koleksi Museum Sriwijaya Menggali Warisan Sejarah dan Budaya Sumatera Selatan Untuk Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Pariwisata, Kamis (4/7), di Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya, Gandus, Palembang .

Palembang, BP–Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), UPTD Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya dan Museum Sriwijaya menggelar Diskusi Terpumpun Prasasti –prasasti Sriwijaya Koleksi Museum Sriwijaya” Menggali Warisan Sejarah dan Budaya Sumatera Selatan Untuk Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Pariwisata, Kamis (4/7) di aula  Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya, Gandus, Palembang .
Sejarawan Sumsel, Kemas Ari Panji melihat infastruktur ke Museum Sriwijaya ini terutama jalan menuju ke museum tersebut banyak berlubang dan hingga kini tidak pernah di perbaiki.
“ Naik motor saja nak begelimpangan kekanan kekiri, apalagi mobil, ngantri lamo menghidari lobang, ini menjadi salah satu saran supaya orang banyak berkunjung kesini salah satunya perbaikan infrastruktur bukan hanya gedung,” katanya sembari mengatakan, sempat membawa tamu ke Museum Sriwijaya dan mengeluhkan jalan yang banyak rusak .
Kemas Panji yakin akan banyak temuan-temuan Kerajaan Sriwijaya namun kelemahan di koleksi museum Sriwijaya masalah koleksi yang penambahan koleksi terganjal biaya.
“ Sebenarnya temuan-temuan di Sungai Musi itu banyak kalau mau kita selamatkan tapi karena tidak ada anggaran akhirnya terabaikan dan masuk ke dunia black market diperjualbelikan orang, dan ini menjadi kelemahan kita juga,” katanya.
Selain itu dia menilai kalau diskusi ini kedepan harus diskusi lanjutan .

BP/DUDY OSKANDAR

“ Tulisan kita hari ini bisa menjadi hasil dari kajian , minimal buat satu tulisan baru , karena banyak masukan dari guru, akademisi dan lain-lain dan bisa melakukan kajian lanjutan, “ katanya.
Dan hasil rumusan diskusi ini menurutnya kedepan bisa dalam berbentuk buku dan sebagainya lalu penambahan koleksi Museum Sriwijaya dan sebagainya.
Arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Retno Purwati melihat Sriwijaya mengajarkan nilai toleransi, gotong royong dan kemanusiaan.
“Bagaimana mengimplementasikan prasasti ini ke nilai kekinian ternyata bagi saya sendiri , apa yang dicapai bangsa kita sekarang, belum mampu melampaui yang dicapai nenek moyang kita, ini dalam persepsi saya, buktinya dengan perahu dulu orang bisa kemana-mana dan kapalnya buat sendiri kita, nah kita sudah buat belum sekarang , apakah kita pernah mempengaruhi negara kita dengan budaya kita, iniperlu kita gali kesana, dan satu hal, nilai zaman dulu yang sekarang agak sulit, dulu kalau kita menerima budaya asing tidak kita telan mentah mentah , mau Hindu, mau Budha , mau Islam , kita bisa menolak budaya lain dengan cara kita sendiri dan menciptakan budaya baru yang itu tidak bisa di samakan persis dengan budaya asalnya, itu yang bisa kita ambil dari koleksi-koleksi Museum Sriwijaya,” katanya.
Untuk Museum Sriwijaya menurutnya tidak harus memamerkan benda kalau mengacu kepada definisi museum tapi juga harus memamerkan manusia yang pernah menciptakan benda tersebut.
“ Dengan begitu kita bisa membuat berbagai alur cerita sesuai dengan apa yang terkandung dalam koleksi,” katanya.
Budayawan Palembang, Yudi Syarofi menilai dari masa Sriwijaya bhineka tunggal ika sudah ada.
“ Lalu hubungannya dengan seni, seperti songket motip dulu ada di koleksi museum sekarang , ini saling terkait dari masa kemasa, bagaimana kita menapsirkannya, apa yang kita sampaikan bukan hanya tersurat tapi juga yang tersirat,” katanya.
Selain itu menutnya, ada kebiasaan masa Kesultanan Palembang Darussalam yang diadopsi dari beberapa kebiasaan masa Sriwijaya seperti cara makan dari beberapa cacatan dan penelitian menunjukkan masyarakat Sriwijaya makan di tanah dengan hidangan dan saling berhadapan.

BP/DUDY OSKANDAR

“ Mereka ingin melihat dimana titik pertama nenek moyangnya menurunkan bangsa melayu di Bukit Siguntang,” katanya.
Akademisi dari Universitas PGRI Palembang M Idris Mpdi mengatakan, bagaimana museum Sriwijaya dapat memberikan informasi yang memadai tentang Kerajaan Sriwijaya sehingga pengunjung datang ke museum pulangnya otak mereka bisa berisi informasi.
“Pekejingnya itu diserahkan bagian pameran, kalau bisa pakar-pakar disini bisa merumuskan konten konten apa saja dalam pesan tersebut sehingga pesan tersebut tidak bertentangan dengan makna sebenarnya dan dapat mengungkap nilai penting prasasti tersebut bagi pembangunan sekarang,” katanya.
Sedangkan Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Sriwijaya (AMPS) Beni Mulyadi yang hadir dalam diskusi tersebut menilai sejak dulu Kerajaan Sriwijaya dalam sejumlah prasastinya menggunakan bahasa melayu kuno.
“ Prasasti Kedukan Bukit itu merupakan prasasti kemenangan perang atas satu tempat dan bukan prasasti pendirian kota Palembang /Sriwijaya ,” katanya sembari mengatakan Sri itu dalam bahasa melayu adil jadi Sriwijaya itu artinya keadilan mendatangkan kejayaan.
Selain itu menurutnya pengajian ulang isi prasasti Kedukan Bukit sangat penting karena menyangkut kesejarahan Kerajaan Sriwijaya sendiri yang satu abad tidak kunjung tuntas .
Pihaknya menyambut baik diskusi tersebut teruatama dalam menafsirkan isi prasasti Sriwijaya karena akan banyak hal positip yang didapat.
Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumsel Aufa Syahrizal., SP., M.Sc menilai diskusi tersebut sangat positif karena yang dibahas adalah berkaitan dengan peninggalan sejarah kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang memang harus selalu dan terus di gali.
“Kita tahu bahwa masih banyak peninggalan sejarah yang tersebar di 17 Kabupaten /Kota Se- Sumsel yang masih belum ditemukan Dan terlestarikan. Bahkan baru-baru ini seorang masayarakat yang sangat peduli dengan sejarah dan kebudayaan Sumsel telah menemukan satu artefak baru di ladang kopi milik masyarakat,” katanya.#osk

Baca:  30 Orang Tahanan Narkoba Polresta Palembang Kabur
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

MMK Tolak RUU KUHP

#Jutaan Rakyat Indonesia Terancam Masuk Penjara, Semua Bisa Kena RUU KUHP Baru Palembang, BP Pada penghujung masa jabatan DPR RI ...