Home / Olahraga / Potret Miris Atlet Latihan dalam Kegelapan JSC, di Balik Tuntutan Prestasi PON

Potret Miris Atlet Latihan dalam Kegelapan JSC, di Balik Tuntutan Prestasi PON

Suasana latihan atlet loncat indah dengan gelap-gelapan di venue aquatic JSC Palembang.

 

Palembang, BP–Pekan ini sejumlah atlet Sumatera Selatan yang disiapkan Sumsel untuk menghadapi multievent terbesar Tanah Air, Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Tanah Papua 2020 mendatang dihadapkan pada perjuangan yang miris.

Bagaimana tidak, di balik tuntutan agar berprestasi dan meraih tiket PON semaksimal mungkin sebagai syarat tampil di PON, para atlet harus menjalani latihan dalam kegelapan.

Tidak ada pilihan bagi mereka, selain harus menerima dan berlatih di kegelapan dengan lampu seadanya. Meski kadang mereka mengeluh karena dituntut berprestasi yang tak sebanding dengan perlakuan terhadap atlet.

Demikian potret latihan atlet, yang dipersiapkan para pelatih dalam menyiapkan prakualifikasi PON menuju PON XX Papua 2020 setelah pekan lalu otoritas PT Jakabaring Sport City (JSC) tak mampu melunasi tunggakan listrik yang berbuntut pemutusan aliran listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (WS2JB).

Baca:  Sabet 11 Emas, Palembang Merajai Renang

“Iya, latihan meraba-raba ini. JSC ngutang dicabut PLN,”ujar Dr Meirizal Usra, Pelatih Loncat Indah Sumsel, Selasa (24/6).

Lanjut mantan Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Sumsel ini mengatakan kondisi ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Apalagi, kali ini atlet harus benar-benar All Out latihan demi mampu mengantongi tiket PON di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Prakualifikasi PON atau Pekan Olahraga Wilayah (Porwil). Salah-salah, atlet harus gagal sebelum bertanding di PON karena harus pupus harapan setelah gagal meraih tiket PON disebabkan pola latihan yang tak maksimal.

Baca:  MSI Desak ISSI Masukkan Olahraga Sepeda Wisata

“Ya, menggapai prestasi dalam kegelapan ruangan dan hijaunya air kolam. Kemana akan mengadu. Semua orang diam tanpa suara,”keluhnya.

Mirisnya, dibalik pilunya potret latihan tersebut, atlet dan pelatih dituntut mampu bicara banyak di nasional apalagi di PON Papua XX 2020 mendatang setelah beberapa musim sebelumnya kian terpuruk.

“Namun pelatih dan atlet terus berjuang dan berlatih. Semua orang angkat bahu sbil menengadahkan telapak tangan. Sedih kami ditunrut untuk berprestasi,”urainya.

Untuk diketahui, berdasarkan data Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI Sumsel di multievent PON, tahun 2004 Sumsel berhasil meraih 30 emas 41 perak dan 40 perunggu duduk di posisi lima besar.

Baca:  Rival Abadi Bertarung di Final Takraw

Tapi, tidak menjadi tuan rumah di tahun 2008 PON Kaltim, Sumsel langsung terpental dengan 12 emas 11 perak dan 17 perunggu menduduki posisi 14 besar. Selanjutnya,  tahun 2012 PON Riau perolehan medali kian terpuruk dan hanya meraih 10 emas 14 perak dan 29 perunggu, meskipun posisi naik menjadi 13.

Kondisi ini diperparah dengan prestasi PON Jabar 2016, Sumsel harus legowo diposisi 21 dengan hanya mampu membawa pulanh 6 emas, 11 perak dan 17 perunggu. Selanjutnya mimpi manis PON Papua pun menjadi tanda tanya. #sug

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

PBVSI Sumsel Bibitkan 300 Wasit dan Pelatih di Musi Rawas

Palembang, BP Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Sumsel terus berupaya membidik atlet-atlet voli pemula di seluruh ...