Home / Headline / Sriwijaya Mengajarkan Demokrasi, Musyawarah Mufakat Hingga Bertoleransi

Sriwijaya Mengajarkan Demokrasi, Musyawarah Mufakat Hingga Bertoleransi

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana seminar sehari dengan tema Sriwijaya: “Bingkai Kebhinekaan Menuju Kedaulatan Sriwijaya” yang digelar di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), Rabu (19/6).

Palembang, BP
KERAJAAN atau imperium Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara maritim.
Negara ini tak memperluas kekuasaan diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara dan Madagaskar. Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) .
Ibukota Sriwijaya diperintah secara langsung oleh seorang Raja, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh datu setempat.
Sriwijaya juga menguasai Jawa dan Semenanjung Malaya yang menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara.
Kerajaan Sriwijaya berkuasa dari tahun 683 M sampai kira-kira tahun 1183 M. Ia pernah menjadi kerajaan yang kuat karena letak geografis, sumber daya alam, dan jejaring perdagangan.
Namun terpenting dari semua itu Sriwijaya di bangun atas nilai-nilai demokrasi, Musyawarah Mufakat dan bertoleransi.
“Musyawarah mufakat Sriwijaya jago banget orang-orangnya , demokrasinya top, walaupun kita tidak pernah denger satu prasasti yang ngomong tentang demokrasi tetapi itu tersirat dari prasati kutukan , dia bertanya kayak ginilah, apa masalahmu, terus apakah ada solusi dari itu , kalau ada solusinya kami siap menjadikan kamu datu di wilayah ini,” kata arkeolog dari Balai Arkeologi (balar) Sumatera Selatan (Sumsel) Wahyu Rizky Andhifani usai seminar sehari dengan tema Sriwijaya: “Bingkai Kebhinekaan Menuju Kedaulatan Sriwijaya” yang digelar di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), Rabu (19/6).
Menurut dosen UIN Raden Fatah ini, toleransi beragama Sriwijaya sangat tinggi, hal ini bisa di lihat salah satunya dari Prasasti Kota Kapur yang bernuansa agama Hindu.
“ Sriwijaya datang saat itu menaklukkan kota kapur tapi tidak memaksakan orang-orang yang diajaknya mengikuti agamanya, contohnya di bingit jungut itu ditemukan arca budha disitu Hindunya kental dengan ditemukan kalla, di Prasasti kota kapur II itu ada kata-kata yoni itu sudah pasti hindu” katanya.

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana seminar sehari dengan tema Sriwijaya: “Bingkai Kebhinekaan Menuju Kedaulatan Sriwijaya” yang digelar di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), Rabu (19/6).

Dan raja-raja Sriwijaya dia pastikan beragama Budha.,” Kalau saya bilang raja Sriwijaya budha semua,” katanya.
Apalagi dia melihat , Sriwijaya awalnya adalah kumpulan masyarakat pendatang dari minanga ke muka upang hingga ke Palembang, walaupun ada orang lokal yang mendiami Palembang lebih dahulu dan ada berbagai suku dan golongan di Palembang saat itu.
Hal itu menurutnya, membuktikan kehebatan Sriwijaya dalam bertolerasi dan demokrasinya sangat tinggi.
“Keberagaman dan toleransi itu masuk ke Sriwijaya sejak abad 8, 9, 10 , walaupun awalnya Sriwijaya masih kaku tetapi diperkuat dengan prasasti di abad 7 itu keberagamannya sudah jalan, penguasa Sriwijaya tahu kalau wanua-wanua di kedatuan Sriwijaya ini nuasanya sudah Hindu, mereka sudah tahu tapi tidak serta merta mengajak mereka ikut masuk Budha,” katanya.
Sedangkan Akademisi Universitas Sriwijaya (Unsri) LR Retno Susanti menilai kalau Kerajaan Sriwijaya sejak dulu mengajarkan toleransi hal ini bisa di lihat dari sejumlah peninggalannya seperti candi agama Hindu yang berada di PALI, Prasasti kota kapur.
Lalu ada Baru, pelabuhan Sriwijaya disana berkembang
agama Kristen Sekte Nestorian dari Konstantinopel, pusat Kerajaan Byzantium Timur
Selain itu Raja Sriwijya pernah mengirimkan hadiah kepada penguasa Islam Umar Ibnu Abdul Aziz pada masa kepemimpinan Abasiyah sambil minta Umar Ibnu Abdul Aziz menyebarkan Islam di Sriwijaya.
“ Sriwijaya itu menerima semua agama , selama baik untuk rakyat, di sisi lain kerasnya raja Sriwijaya terhadap pajak-pajak, tapi untuk agama luar biasa,” katanya.
Sedangkan Kepala Disbudpar Provinsi Sumsel Aufa Syahrizal., SP., M.Sc mengatakan, tema seminar Sriwijaya ini dikaitkan dengan even pelaksanaan Festival Sriwijaya ke 28 dengan tema” Sriwijaya Bangkit Maju Bersama Bersatu Dalam Keragaman Budaya”.
“ Sumsel ini terdiri kabupaten kota yang memiliki adat dan keragaman budaya yang berbeda namun tetap bersatu dalam keragaman ini menjadi satu bingkai dimana Sriwijaya Maju, Sumsel Maju Untuk Semua sesuai visi dan misi Gubernur Sumsel,” katanya.
Sedangkan Ketua Pelaksana Kegiatan, Khairul mengatakan, kerajaan yang pernah menemui masa keemasan kembali disosialisasikan kepada masyarakat, mahasiswa hingga guru sejarah.
“Kerajaan Sriwijaya ini sebagai bukti peninggalan sejarah yang harus diketahui oleh masyarakat, kemudian dalam seminar ini akan diungkap sejumlah temuan situs maupun benda purbakala,” katanya.
Ia menambahkan, seminar yang mengangkat Bingkai Kebhinekaan Menuju Kedaulatan Sriwijaya akan diungkap dalam kegiatan seminar sehari, sehingga akan bertambah lagi ilmu yang didapat para peserta.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Royana Terharu, SLB Negeri Kabupaten PALI Mulai Belajar

PALI,  BP Kegiatan belajar-mengajar sudah dimulai di Sekolah Luar Biasa Negeri Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Untuk yang pertama ...