Home / Headline / Kapur Barus dan Batu Es

Kapur Barus dan Batu Es

Oleh: Beni Mulyadi, Peminat Sejarah

Membaca penjelasan Tentang undang-undang Dasar (UUD) 1945 .. Bab VI Pemerintahan Daerah, pasal 18 butir II.
Dalam teritoir negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 zelfbesturende landshappen dan volksgemeenschappem,seperti desa di Jawa dan Bali, negeri di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli, dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai saerah yang bersifat istimewa.
Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerah- daerah itu mengingati hak- hak asal-usul daerah tersebut…
Dari uraian diatas membuat kita menyadari bahwa para pendiri bangsa sudah mempunyai pandangan yang istimewa terhadap ke khasan di nusantara sebagai mana semboyan negara ” Bhineka Tunggal Ika”.
Pengertian Bhineka Tunggal Ika adalah berbeda- beda tetapi satu jua. Bhineka Tunggal Ika oleh pendiri bangsa diberikan penafsiran baru karena dinilai relevan dengan keperluan strategis Bangsa Indonesia, yang memiliki makna, walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, Budaya, adat, bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan sebangsa dan setanah air…
Demikian juga keragaman dan kekayaan itu juga di miliki masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) yang mempunyai rentang panjang kesejarahan mulai era megalitikum 15000 tahun SM…sampai Era Melayu seperti Sriwijaya dan Palembang.
Salah satu kegiatan rutin di Sumatera Selatan adalah Festival Sriwijaya yang sekarang dilaksanakan tahun 2019 sudah ke -28, di mana perhatian pemerintah mulai dari pejabat tinggi negara sampai gubernur,wali Kota , bupati dan lainnya terlibat berpatisipasi.
Event pariwisata dan kebudayaan ini telah memberikan dampak geliat masyarakat Sumatera Selatan dan Palembang khususnya, walaupun tentu ada hal hal yg harus di evaluasi mengingat momentum tahunan dan biaya yang dikeluarkan pemerintah tidaklah kecil.
Bumi Sriwijaya bumi Palembang Darussalam, Venisia dari Timur itulah aneka julukan bagi kota Palembang yang paling tidak sudah ada sejak tahun 671 M sebagai mana catatan Pendeta It Tsing dari Canton Cina dan di perkuat dengan ditemukannya di Palembang Prasasti Kerajaan Sriwijaya/ Prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 683 M.
Demikian juga ditemukannya prasasti kerajaan Sriwijaya lainnya di Palembang diantaranya Prasasti Telaga Batu dan Prasasti Talang Tuo” yang bertarikh 684 M, serta aneka temuan pendukung berikutnya seperti sisa kapal kuno, situs dan lain-lainnya.
Dirasakan sampai sekarang perhatian, kepedulian dan penghargaan terhadap prasasti dan situs Sriwijaya di Palembang khususnya belumlah maksimal ataupun layak mengingat penting dan berharganya n ilai luhur dan kesejarahan benda-benda tersebut, baru sebatas mencatat lokasi penemuan, menterjemahkan,dan menyimpan di museum.
Lokasi penemuan prasatinya sendiri terabaikan bahkan miris terkadang terbengkalai bahkan mungkin berubah fungsi.
Berbicara Sriwijaya tentulah peranan ilmuwan Perancis George Coedes di mana pada tahun 1918 mengarang buku yang masyhur”” Le Royaume de Crivijaya”” berkat Coedes penelitian tentang sejarah Kerajaan Sriwijaya berkembang sangat pesat.
Walaupun demikian fakta berbicara, cukup banyak masalah yang masih kabur dan mengundang perdebatan dalam merekonstruksi kerajaan Sriwijaya, adapun penyebab nya sangat sedikitnya sumber-sumber sejarah yang tersedia dan masih belum maksimalnya kehadiran pemerintah sendiri.
Sumber yang dimiliki selama ini hanyalah prasasti prasasti yang terbatas dan belum tuntas pengkajiannya serta sumber Arab- Cina yang masih perlu dinalari, hal ini pulah menyebabkan berbagai Interpretasi dikalangan ahli sejarah, sedangkan sumber lokal terabaikan.
George Codes berbicara Sriwijaya , ada hal yang mengembirakan terhadap Sumatera Selatan yaitu ditetapkannya Palembang sebagai ibu kota Sriwijaya dan di bangunnya taman kajian Sejarah Sriwijaya/ Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.
Selain itu dengan terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia (RI) Nomor 11 Tahun 2010 Tentang cagar budaya dan Undang-Undang No.5 tahun 2017 tentang kebudayaan, walupun di Sumatera Selatan/ Palembang penerapannya memperihatinkan terbukti dengan terabaikannya benda- benda cagar budaya baik Sriwijaya , Melayu maupun Palembang diantaranya Bukit Siguntang, Benteng Kuto Besak, Masjid Agung Palembang dan Kawasan Kuto Gawang Palembang lama yang merupakan situs vital kesejarahan Sriwijaya dan Palembang bahkan keberadaan PT Pusri sendiri laksana kayu singgah bagi Sriwijaya dan Palembang, tentulah tidak membuat kita bersurut untuk mencintai, menggali, melestarikan dan memberdayakan tinggalan luhur nenek moyang kita.
Bila kita runut dari Prasati Telaga Batu yang ditemukan di Sabo Kingking 2 Ilir Palembang dimana prasasti ditulis dalam aksara palawa dan berbahasa melayu kuno,terdiri dari 28 baris berbentuk telapak kaki dimahkotai kepala ular tujuh ekor, ular kepala tuju didaerah Musi Banyuasin di kenal dengan nama ular bidai, ia berenang seperti tikar menggulung .
Prasasti telaga batu pada haketnya merupakan bukti supremasi hukum di Kerajaan Sriwijaya dimana pada baris kutukan/ persumpahan terhadap penghianat negeri…baris ke 3 sampai baris 15 memuat pejabat dan birokrasi Sriwijaya baris 16 sampai 25 menguraikan tidakan warga yang dipimpin datu tanpa kecuali walaupun anak raja akan supremasi hukum dengan kutukan sebelum niatnya tercapai akan mati dikutuk sumpah jadi Sriwijaya, jerajaan Yang terbebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Yang teristiwewa kalimat baris ke 21-21 ada” kata Marga” dimana system pemerintahan marga merupakan ciri khas Sumatera Selatan Termaktub di Bab penjelasan VI butir II penjelasan pasal 18 UUD 1945 asli, dimana di era orde baru terbit UU No 5/1979 tentang pemerintahan desa yang berbuntut terbitnya keputusan gubernur kepala daerah provinsi Tk 1 Sumatera Selatan No. 142/KPTS/III/1983 tentang pembubaran sistem pemerintahan marga dan perangkatnya di Sumatera Selatan dan berlakunya tunggal ika/ sistem desa yang menyebabkan di rampasnya oleh pemerintah tanah ulayat/ adat marga, 178 marga 2059 Dusun/ desa asli kehilangan harkat martabat luhur oleh pemerintahnya sendiri,
Sungguh tragis dan ironis hingga kini menyisahkan hal memilukan bagi yang mau berpikir waras dan menjiwai hakekat kemerdekaan Indonesua yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Sekarang Area penemuan Prasasti Telaga Batu perlu perhatian dan tindakan segera dari para pihak pemangku kepentingan untuk di selamatkan dan di lestarikan….apa lagi kawasan tersebut dapat saja di bangun masyarakat serta rumor yang beredar di tengarai akan di bangun kolam pembuangan B 3 oleh PT Pusri yang di tenggarai beredarnya surat menyurat antara PT Pusri dan Dinas Kebudayaan Kota Palembang beberapa waktu lalu.

Prasasti Talang Tuwo

Prasasti Talang Tuwo juga di temukan di Palembang di dekat dusun lama yang bernama Dangus, Prasasti ini bertarikh 684 M, ditulis dalam huruf palawa berbahasa melayu kuno terdiri dari 14 baris.
Prasasti Talang Tuwo menyatakan bahwa pada tanggal 2 Caitra 606 Saka *( 23 Maret 684 M ) Dapunta Hyang Sri Jayanasa menitahkan Pembuatan Taman Sriksetra” sebagai Suatu Pranidhana” atau nazar dalam hal ini boleh dikatakan nazar tersebut masih merupakan rangkaian manifestasi rasa gembira/ rasa syukur akibat suksesnya ekspedisi militer Sriwijaya pada tahun 683 M sebagai mana Prasasti Kedukan Bukit 683 M.
Hal ini mangkin memperkuat bahwa ibu kota Sriwijaya di Palembang dan sesuai dengan catatan Pendeta It Tsing dikala ia ke Sriwijaya 671 M kemudian ke India dan Tahun 685 M, ia pulang dari India Ke Sriwijaya dimana It Tsing tidak menceritakan ibu kota Sriwijaya berpindah Tempat.
Dengan demikian semangkin meyakinkan bahwa Prasasti Kedukan Bukit bukanlah Prasasti Proklamasi Kerajaan Sriwijaya atau akte pendirian kota Palembang ” namun Prasasti Kedukan Bukit merupakan bukti atas kesuksesan ekspansi militer Sriwijaya atas suatu tempat di Sumatera bagian Utara dalam rangka bukan hanya perluasan wilayahnya namun untuk jalur strategis penguasaan Selat Malaka.
Bukti lain adalah bahwa di tahun 671 M It Tsing singgah di Melayu/ Jambi namun ketika pulang dari India It Tsing mencatat bahwa Melayu sudah bagian dari Sriwijaya..Prasati Talang Tuwo memuat hal hal penting diantaranya:
1.Di ketahui bahwa nama Raja Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Srijayanasa.
2.Dapunta Hyang menitahkan menanam berbagai tumbuhan seperti niur, pinang, enau, rumbia, dan lain lainnya untuk dimakan buahnya tetapi juga ditanam aur, buluh betung juga di buat tebat dan telaga.
Dengan demikian wajar bila pada sistem pemerintahan marga ada tanah adat marga dan hutannya sangat bijaksana dalam pemanfaatannya, bangsa kita 1000 tahun lebih dahulu dari Bangsa Amerika mengkampanyekan hari bumi yang mendunia sejak tahun 1969 M.
3.Prasasti Talang Tuwo merupakan bukti tertua tentang ajaran Budha Mahayana di Asia Tenggara walaupun pemeluk Budha Hinayana pun ada di Sriwijaya.
4.Prasasti Talang Tuwo juga menitahkan adab pergaulan dan anti selingkuh.
5.Prasasti Talang Tuwo menurut riwayat ditemukan pada tanggal 17 November 1920 oleh L.C. Westenenk , sekarang tersimpan di Musium Pusat dengan Nomor D 145 .

Prasasti Kedukan Bukit.

Prasasti Kedukan Bukit amatlah special baik isi prasasti maupun fenomenal penemuannya, dikarenakan menurut keterangan para tetua sesungguhnya penemuannya tidak jauh dari lokasi penemuan Prasasti Talang Tuwo / bukan di Kedukan Bukit.
Prasasti Kedukan Bukit merupakan Prasasti tertua yang menggunakan bahasa melayu kuno yang ditemukan hingga saat ini.
Mulanya masyarakat menggunakan untuk azimat dalam perlombaan bidar yang lazim diadakan di Palembang dalam menyambut hari hari besar, dengan cara perahu bidar ditambatkan dahulu pada batu tersebut dengan harapan memperoleh Kemenangan.
Pada Tanggal 29 November 1920 Seorang Konrolir Belanda yang bernama Batenburg mengenali batu itu sebagai prasasti dan melaporkannya kedinas purbakala ( Oudheidkundigen Dienst ), prasangka Prasasti Kedukan Bukit dan Prasasti Talang Tuwo pertama kali di Transkripsikan pertama kali oleh Philippus Samuel Van Ronkel seorang ahli bahasa Melayu kenamaan pada tahunn1924 dan sekarang Prasasti Kedukan Bukit di simpan di Musium Nasional Jakarta dengan Nomor D.146.
Prasasti Kedukan Bukit telah menyebabkan banyak sekali tinta yang mengalir, secara hiperbola dapat di katakan ” Setengker Tinta Se Kontainer Kertas Habis tak berbekas Kajian Sriwijaya Belum Tuntas dan Puas”.
Selaku anak bangsa dan warga Sumatera Selatan tentu pemecahan tuntas akan arti makna dan tafsir serta sejatinya Prasasti Kedukan Bukit amatlah penting dan sakral…..karena berdasarkan mayoritas pendapat para ahli seluruh dunia menyatakan itulah akte pendirian Kota Palembang/ Kerajaan Sriwijaya dengan berbagai argumentasinya.
Prasasti Kedukan Bukit menguraikan Jaya Siddhayatra Subbhiska ( Perjalan Jaya yang berlangsung Sempurna ) oleh Dipertuan Agung Sriwijaya yang Bernama Dapunta Hyang Sri jaya Naga sesuai dengan Prasasti Talang Tuwo, yang bila di cermati merupakan Ekspedisi Militer Sriwijaya terhadap bukan hanya perluasan wilayahnya namun hal yang lebih penting dari itu yang di duga pengamanan jalur maritim Sriwijaya sebagai hegemoni di bidang perdagangan global.
Bila Kembali kepada catatan Pendeta It Tsing Bahwa ketika ia dari Sriwijaya 671 M menuju India kemudian singgah di Melayu/ Jambi kemudian ketika tahun 685 kembali dari India menuju Sriwijaya serta ia Singgah di Jambi/ Melayu, Melayu/ Jambi sudah bagian Sriwijaya tentulah menjadi bukti bahwa Prasasti Kedukan bukit merupakan prasasti kemenangan perang Sriwijaya atas daerah di jalur Selat Malaka.
Mungkin tidak berlebihan bila Sriwijaya menaklukkan Jambi/ Melayu Kemudian melanjutkan Ekspedisi Militernya ke Arah barat dalam mengamankan jalur Selat Malaka, hal ini menjadi penting untuk di kaji lebih mendalam demi tuntasnya polemik yang sudah satu abad lebih ini.
Semoga semangat Sriwijaya bangkit maju berjaya mengisi jiwa anak bangsa Sriwijaya Jaya Siddhayatra Subhiska , keadilan mendatangkan kejayaan jaya perjalanan panjang dunia akherat berlangsung sempurna.#

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Lagi, 35 Jukir Liar Diamankan

Palembang, BP Setelah sebelumnya sejumlah juru parkir (Jukir) ilegal diamankan, kali ini Sat Shabara Polrestabes Palembang kembali mengamankan puluhan jukir ...