Home / Headline / Kisah Tujuh Pasukan Belanda Yang Hilang dan Tewas di Pedalaman Sumatera Selatan

Kisah Tujuh Pasukan Belanda Yang Hilang dan Tewas di Pedalaman Sumatera Selatan

Oleh : Dudy Oskandar, Jurnalis

TUJUH orang tentara  Belanda yang dipimpin WJ Jonker (kopral) bersama anak buahnya terdiri Leonard Kuijpers (tentara), J. Bolleurs (tentara) , JMA Doove (tentara) , J. van den Braak (tentara) , JF van Geneygen (tentara) , JH Hermans (tentara) yang tengah melakukan patroli namun akhirnya terpisah dan tersesat dari pasukan induk, tujuh orang tentara Belanda ini ditangkap pasukan TNI di pedalaman Sumatera Selatan (Sumsel) , Desember 1947 setelah sebelumnya sempat terjadi konfrontasi bersenjata.

Sayang tiga dari tujuh orang tentara Belanda tersebut akhirnya ditemukan mengambang di sungai dalam kondisi tewas.

Leo Kuijpers berangkat pada 15 Februari 1947 dengan batalion 4,7-nya. RI dari Rotterdam ke Hindia Belanda pukul 7 pagi .
Pada 18 Maret 1947, Batalionnya, tiba di Palembang di Sumatra Selatan. Batalion dikerahkan dalam keamanan dan pengawasan perusahaan utilitas dan pelabuhan.

Setelah Politionil Actie (Agresi militer ) pertama pada Juli 1947, daerah di sekitar Palembang terbilang kondusif.

Beberapa tentara unit 4,7. RI kemudian dipindahkan ke pos-pos di sejumlah wilayah di Sumatra Selatan.
Sumatera Selatan sendiri memiliki daerah yang sebagian besar tidak dapat diakses dengan jalan darat dan berawa, yang disebut ‘Lampong’ dan memang kondisinya dibuat tidak aman oleh geng dan prajurit TNI.
Pada 15 Desember 1947 patroli 7 orang dari Batalion 4,7 RI dari detasemen Moeara Koeang. Komandannya adalah Kopral Jonker. Salah satu prajurit adalah Leo Kuijpers dari St. Michielsgestel.

Tugas pasukan yang terdiri dari tujuh orang tentara ini adalah melakukan patroli dengan berjalan jalan kaki selama 2 hari di jalan utama ke arah Koeanganjar, melintasi Sungai Komering dan melalui Talang Kapoeng ke Talang Nilang.
Pasukan patroli ini , sempat bermalam di Talang Nilang. Patroli ini dipersenjatai dengan 1 bren, 1 stengun, 5 senjata dan 8 granat tangan. Komandan patroli , Jonker memiliki peta dan kompas.

Hari berikutnya patroli ini harusnya akan bertemu pasukan patroli Belanda lainnya , yang juga akan datang ke Talang Nilang melalui Air Taroem. Patroli ini dipimpin oleh komandan detasemen 4.7. RI, yang rencananya jika dua pasukan ini bertemu akan melanjutkan perjalanan bersama pada hari kedua ke detasemen di Moeara Koeang menghadap komandandetasemen 4.7.
Namun pasukan patroli pimpinan Kopral Jonker tidak dapat mencapai Talang Nilang.

Perjanjiannya adalah bahwa jika kedua patroli tidak bertemu satu sama lain pada hari berikutnya (16 Desember), mereka harus menunggu sampai jam 8 pagi. Setelah itu patroli akan kembali ke Moeara Koeang.

Tetapi ketika malam 16 Desember 1947, patroli Kopral Jonker tidak kembali ke Moeara Koeang.
Pada 21 Desember 1947, patroli investigasi 7 RS (= Resimen Stoottroepen) sempat menangkap seorang tani (= seorang petani Indonesia) dari Negerisaki dari pengakuan ini dan tahanan lain Belanda mengetahui nasib pasukan patroli pimpinan Kopral Jonker sehingga Belanda mencatat pengakuan petani dan tahanan lain.

Ternyata patroli yang dipimpin oleh Kopral Jonker sempat ditembaki oleh 200 geng yang dipimpin oleh Effendi Basjah. Patroli tidak mengalami kerugian, tetapi Belanda sempat membunuh beberapa anggota geng. Setelah ini mereka menyingkir ke arah Talang Sendjagon, tepat di selatan Tjampang-Tigo.

Di selatan Talang Sendjagon, mereka kembali dikelilingi oleh geng lain yang terdiri sekitar 300 orang di bawah pimpinan Simandjoentak, tanpa tembakan. Setelah sekitar satu jam, komandan geng, Simandjoentak, membawa sepucuk surat kepada komandan patroli Belanda, kopral Jonker, menanyakan apa yang ingin mereka dilakukan terhadap pasukan Belanda, karena kini mereka telah dikepung selain itu mereka tidak lagi memiliki makanan dan kelelahan.

Patroli Belanda tersebut diserahkan kepada krio (= tertua) dari Sendjagon, orang Shamsuddin . Di halaman rumah Sjamsoeddin ini mereka sempat disajikan buah-buahan dan kopi.
Setelah minum kopi, makan nasi di dalam ruangan. Tentara Belanda yang ditangkap ini juga dihadirkan tanpa membawa senjata dimana senjata mereka ditinggalkan dalam perahu.
Setelah makan, 7 tentara Belanda yang tidak bersenjata tersebut pergi dengan seorang komandan TNI bernama Simandjoentak ke Kangkoeng.

Pria ini adalah seorang Batakker atau orang Batak dan berbicara bahasa Belanda. Di Kangkoeng mereka sempat makan lagi di pasar, setelah itu tentara Belanda yang ditangkap oleh Simandjoentak di minta menyerahkan semua harta milik mereka.

Tidak ada tembakan, karena pasukan Belanda ini sudah pasrah. Tak satu pun dari mereka yang terluka.
Setelah makan malam, tentara Belanda itu dipanggil satu per satu atas perintah Simandjoentak, setelah itu mereka ditutup matanya dan tangan mereka diikat oleh anggota TNI berikut: Hassan bin Sang Ratie, Toeah bin Djalan dan Dja’ʹpar bin Singa Depati.

Kemudian tentara Belanda dibawa ke Pasar Kangkoeng. Sepanjang perjalanan mereka jadi nontonan warga.
Di pasar di Kangkoeng, para tentara Belanda itu dibunuh dengan pisau dan potongan kayu oleh Simandjoentak dan saudaranya Liberty, setelah itu mayat-mayat dibuang ke Sungai Komering.

Setelah patroli Kopral Jonker tidak kembali pada malam hari tanggal 16 Desember 1947, komandan detasemen memerintahkan penyelidikan pada hari berikutnya, pada 17 Desember 1947.
Pada 18 Desember, penyelidikan yang hampir mustahil dilakukan dimulai, pencarian intensif dan sistematis dilakukan di daerah berbahaya dan berawa antara sungai Ogan dan Komering .
Pencarian dari Moeara Koeang berlangsung hingga 21 Desember, tetapi tujuh orang tentara Belanda tersebut tidak ditemukan.

Investigasi juga sedang dilakukan dari bagian lain di Sumatera Selatan, tetapi patroli Belanda tersebut masih juga gagal mereka hanya menemukan rawa yang tidak bisa dilewati dan pencarian tidak membuahkan hasil.
Pada 22 Desember 1947 diputuskan untuk menghentikan pencarian tujuh orang tentara Belanda yang melakukan patroli tersebut.

Di pos terdepan di kampung Goenoeng Batoe yang ada sejak 17 Desember 1947 terlihat sepi. Sudah sejak hari pertama sejumlah petugas jaga terus bersiaga.

Saat itu mereka berada di api unggun. Ketika malam tiba, mereka mendengar bahwa patroli Kopral Jonker hilang.
Sersan Mayor Van de Zande (4.7. RI) yang memimpin pos jaga sempat terkejut .
Pada hari Sabtu 20 Desember pukul 11.00 pagi, sebuah alarm berbunyi dari jembatan di atas Sungai Komering, sesosok jenasah mengambang di sungai.

Perahu bergerak cepat. Tubuh seorang pria kulit putih terlihat dan langsung di evakuasi. Terlihat luka di tubuhnya menunjukkan penganiayaan serius dan kepalanya dipenggal.

Pukul 1 siang ada alarm lain berbunyi, mayat kedua mengambang menyusuri sungai ditemukan.
Jenasah pria ini terlihat kepalanya belum di penggal, tetapi lebih buruk lagi, tangannya terikat di punggungnya.
Sersan Mayor Van de Zande mengatakan, “Bau busuk datang dari tubuh jenasah. Lalu kami mengambil tikar dan buru buru-buru membungkus jenasah dan di sana kami menaruh jenasah. Kami lalu menggali kuburan untuk menguburkan jenasah , tetapi tanah di sana sangat berawa, jadi ada air di kuburan itu. Kami harus mendorong mayat itu ke bawah lebih dalam karena kalau tidak, mayat-mayat itu akan muncul lagi karena tanahnya berawa. Kami menguburkannya di sebelah meja tempat saya duduk, di sebelah sebuah rumah kampung. Dan membuat salib dengan tanggal di atasnya. Saat itu tanggal 20 Desember.

Tubuh ketiga muncul dan mengapung di sungai pada tanggal 29 Desember sekitar jam 2 malam. Lagi-lagi itu adalah orang kulit putih, seorang prajurit Belanda yang hilang. Dia masih mengenakan celana dalamnya. Seluruh tubuhnya ditutupi dengan jahitan klewang, kuku jari kaki dicabut, jari terpotong, tangan diikat dengan tali tebal di bagian belakang. Dia juga dimakamkan dengan cara yang sama, bersama yang lain ditempat yang sama sedangkan jenasah lainnya tidak ditemukan.

Sersan Mayor Van de Zande berkata: “Anak lelaki itu tidak diidentifikasi secara resmi, foto jenasah itu diambil dari mereka,. Kami menguburkannya. Inilah perang yang ditakut dan kami ingin anak itu di kubur. ”
Terlepas dari kenyataan bahwa mayat-mayat tentara Belanda itu tidak memiliki identitas, Van de Zande mengatakan dia mengenali salah satu seorang prajurit Belanda , Leo Kuijpers dengan perawakannya , dia juga telah membawa tentara Bolleurs, untuk mengeluarkan jenasah Leo dari air, dia mengenali jenasah Leo dari cincin yang dia kenakan.

Dia juga tahu jenasah lainnya seperti prajurit Van den Braak dari Den Haag.
Pada bulan Februari 1948 beberapa komandan TNI hadir di detasemen Belanda Tjampangtiga, mereka adalah Kapten Alamsjah dan Letnan Asnawi. Mereka ditanyai tentang kasus tujuh tentara yang hilang tersebut.

Mereka tampaknya tidak mau membuat pernyataan namun kehadiran prajurit Sambernan bin Sangratoe, yang memiliki senapan Lee Enfield milik dari salah satu patroli Belanda yang hilang tersebut , juga tidak memberikan informasi jelas mengenai kematian para prajurit Belanda tersebut, karena orang seperti itu harusnya dideportasi dari wilayah Republik berdasarkan peraturan resmi.

Setelah penangkapan seorang tani (seorang petani Indonesia) pada tanggal 21 Desember 1947, pada bulan Maret dan April 1948, Angkatan Darat Kerajaan Belanda dan Kelompok Intelijen dan Keamanan Wilayah kemudian melakukan setidaknya sepuluh penangkapan dan menginterogasi orang-orang yang dicurigai.
Interogasi-interogasi ini juga menunjukkan bahwa tujuh tentara Belanda tersebut dibunuh oleh anggota TNI, tentara resmi Republik Indonesia.

Para prajurit Belanda yang hilang dan hanya tiga yang ditemukan diantaranya Kuijpers, Bolleurs dan Van den Braak sempat dimakamkan kembali sebagai seorang prajurit yang tidak dikenal di lokasi pemakaman Pandu , Bandung, Jawa Barat.

Berkat kerja sama Oorlogsgravenstichting, upacara khusus digelar pada tahun 2006 di Pemakaman Perang Pandu di Bandung, Jawa Barat (Jabar).

Nama-nama prajurit Van den Braak, Bolleurs dan Leonard Kuijpers, yang telah dimakamkan sebagai tentara yang tidak dikenal selama 58 tahun, akhirnya terungkap identitasnya.

Kakak-kakak perempuan Kuijpers yang sangat tua juga hadir pada upacara tersebut. Bagi mereka, inilah harapan mereka yang dinantikan: hari itu mereka melihat saudara mereka, Leo kini tidak lagi dikubur tanpa nama.

Sedangkan sejarawan Sumsel, Syafruddin Yusuf membenarkan adanya kejadian tersebut.
Menurutnya pasukan dipimpin Kopral WJ Jonker terpisah dari pasukan induk dan tersesat, akhirnya pasukan ini berhadapan dengan laskar dan pasukan TNI , akhirnya pasukan Belanda ini ditangkap.

“Kematian tujuh orang tentara Belanda ini memang dalam kondisi perang, walaupun kejadiannya setelah agresi militer pertama , walaupun ada gencatan senjata namun insiden-insiden kontak senjata sering terjadi kala ini antara pasukan Belanda dengan TNI dan pasukan laskar,” katanya, Minggu (2/6).#

Sumber:
1. Kerajaan Belanda dalam Perang Dunia Kedua: Hindia Belanda, oleh Dr. med. L. de Jong
2. Depot Arsip Pusat, Kementerian Pertahanan Rijswijk
3. Institut Sejarah Militer, Den Haag
4. Kuburan Perang Belanda Stichting-‘s-Gravenhage
5. Percakapan dengan mantan tentara 4,7. RI dari Tentara Kerajaan Belanda. Diskusi dengan mantan tentara Tentara Kerajaan Belanda-India
6. Percakapan dengan mantan tentara Intelijen Teritorial dan Keamanan di Sumatera Selatan
7. http://www.archiefvantranen.nl

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Tagihan PDAM Tirta Musi Melonjak, Puluhan Orang Demo Ke Kantor PDAM Tirta Musi

 Poto: Puluhan orang dari Sriwijaya Corruption Watch (SCW) tentang melonjaknya tagihan PDAM Tirta Musi. Palembang, BP Puluhan orang dari Sriwijaya ...