Home / Headline / Museum Palembang di Tahun 1933

Museum Palembang di Tahun 1933

Oleh : Dudy Oskandar, Jurnalis

SEBELUM di kota Palembang memiliki Museum baik Museum Bala Putra Dewa dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, di era kolonial Belanda, kota Palembang memiliki sebuah museum yang dibuat oleh Belanda di tahun 1933, bangunan museum adalah sebuah rumah limas yang diletakkan dibelakang yang kini menjadi kantor Walikota Palembang (water toren), kini bekas museum tersebut di pindahkan ke Museum Bala Putra Dewa, Palembang.

 

MUSEUM Palembang ini tadinya adalah sebuah rumah Palembang tua (rumah limas) yang dibeli dari dana yang dikelola oleh Residen Palembang , dan kemudian diserahkan ke pemerintah kota (Gemeente), yang selanjutnya dijadikan museum.
Rumah Palembang tua ini masih ada terlihat di kota Palembang sejak era Kerajaan Palembang, rumah ini dihiasi dengan ukiran khas Palembang mirip dengan rumah-rumah di Jawa dengan kualitas yang sama dengan yang terbaik.
Semua benda sejarah yang terlihat di foto ini telah terluhat di lapangan atau di dalam musuem., terlihat beberapa koleksi museum seperti beberapa patung perunggu dari periode Hindu yang termasuk terbesar dan terindah yang pernah ditemukan di Palembang dan yang aslinya berada di museum pusat Bataviaasch, koleksi lain seperti kain tenun dan koleksi perak lainnya.

Foto Ir J C Doovnbevg

Berdasarkan Monumen Ordonansi yang termuat di I B T L T 34 November ditunjukkan gambar, poela dari Museum Palembang yang asalnya dahulu adalah sebuah rumah lama atau rumah tua.
Pembuatan rumah tersebut dengan cara dan adat orang Palembang dimana di dalam rumah terliat banyak perhiasan dan ukir ukiran kayu dengan beberapa rupa macam kembang yang di cat . Di photo terlihat juga rupa rupa perkakas dan barang lain sekitar Museum Palembang yang dipelihara oleh pihak Kotamadya (Gemeente).
Museum di Palembang, sama seperti semua rumah tua Palembang adalah juga rumah panggung dan dapat ditutup di malam hari dengan menutup pintu depan.
Yang khas dari bangunan ini adalah bentuk atapnya , yang melambangkan kekeluargaan yang kuat dari masyarakat Palembang yang tercermin dari bentuk bangunan dan budaya Jawa
Yang ditunjukkan dari penutup atap Palembang, yang bagaimanapun, digunakan sebagai aturan dan bagian dari tradisi rumah-rumah di Palembang.
Rumah Palembang biasanya terdiri dari satu ruangan yang sangat besar dengan beberapa kamar kecil.
Rumah-rumah lama di Palembang biasanya di buat dengan sistim panggung dengan pintu yang terbuka pada waktu siang dan ditutup pada waktu malam.

Foto Ir J C Doovnbevg

Kisah rumah tua Palembang ( rumah limas) yang dijadikan museum oleh pemerintah kolonial Belanda tahun 1935 berdasarkan sumber www.palembangdalamsketsa.com, awalnya rumah tersebut berada di areal sekitar rumah Resident Palembang yang dulu bekas Istana Kuto Lamo ( sekarang menjadi Museum SMB II) yang di beli oleh Pangeran sirah pulau padang, pesirah batun (Ogan Ilir) dari areal benteng, rumah tersebut di pindahkan ke Kampung Pangeran tetapi “ beberapa bagian diganti, konon penggantian itu di karenakan pangeran takut kualat, nyatanya kualat datang , akibatnya kas marga habis terpakai sang pangeran sehingga rumah tersebut harus di lelang, pembelinya adalah Pangeran Puntoh Pesirah Pemulutan (Ogan Ilir) yang memindahkan rumah tersebut ke Dusun Talang Pangeran Tetapi Pangeran Punto bernasib sama.
Lalu Gemeente (Haminte) Palembang akhirnya membeli rumah tersebut, setelah di bongkar rumah tersebut dibangun kemball di sebelah barat Benteng Kuto Besak (BKB) pada tahun 1932, pada 22 April 1933 rumah tersebut di resmikan sebagal museum rumah bari gemeente yang terletak di jalan ”sluisweg” (Jalan Rumah Bari).
Musum ini bertahan hingga tahun 1980an lalu dipindahkan ke Museum Bala Putra Dewa tahun 1984.#

Baca:  DPW Nasdem Sumsel Latih 126 KSN

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

MMK Tolak RUU KUHP

#Jutaan Rakyat Indonesia Terancam Masuk Penjara, Semua Bisa Kena RUU KUHP Baru Palembang, BP Pada penghujung masa jabatan DPR RI ...