Home / Headline / Pempek Palembang Diusulkan ke Unesco

Pempek Palembang Diusulkan ke Unesco

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana kajian tentang pempek Palembang di Stamp Cafe, Selasa (21/5).

Palembang, BP–Pempek yang merupakan makanan khas Palembang yang terbuat dari daging ikan yang digiling lembut dicampur tepung sagu serta di bumbuhi beberapa komposisi lain seperti telur, bawang putih dan lain-lain bakal diusulkan ke Unesco guna menjadi kekayaan dunia.
Prosesnya pengusulan tersebutpun sudah dimulai dari penyusunan naskah akademik oleh sebuah tim beranggotakan 10 orang dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai latar belakang.
Anggota tim kajian naskah atas usulan pempek, Vebri Al Lintani mengatakan pempek merupakan kekayaan masyarakat Sumsel yang sebelumnya juga sudah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2014 lalu. Saat ini, makanan yang berasal dari daging ikan bercampur dengan terigu tersebut akan diusulkan menjadi kekayaan dunia kepada lembaga Unesco.
“Persiapannya juga sudah dilakukan dengan membuat kajian naskah akademik. Tim dibentuk berasal dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumsel, sejarawan, budayawan, dan komunitas budaya di Sumsel,” kata Vebri didampingi anggota lainnya Kemas Ar Panji Spd. Msi (Akademisi UIN Raden Fatah) , Drs A. Rapanie. M.Si (Kabid Dokumentasi dan Publikasi Budaya, Disbudpar Sumsel) Cahyo Sulistyaningsih, Ssos (Kabid Kebudayaan, Disbudpar Sumsel), Dian Permata Suri. S.Pd.. M.Pd (Kasi Nilai Budaya dan Bahasa Daerah, Disbudpar Sumsel) Dr. Dadang Hikmah Purnama. M.Hum (Akademisi Unsri), Sumarni Bayu Anita S.Sos.MA (Akademisi Stisipol Candmdimuka). Dr. Dessy Misnawati. M.I.Kom (Peneliti Kuliner Universitas Bina Darma), Yenny Anggraini , S. H (Praktisi Pempek Cek Molek), Helis Soleha, A. Md (Praktisi Pempek Honey), Rabu (22/5).
Dikatakan Vebri, kajian sejarah masih akan disempurnakan. Pempek sendiri, sudah dibuat sejak kerajaan Sriwijaya, yang kemudian lebih dikenal dengan makanan bernama klesaan. Barulah, pada awal abad 19, terdapat seorang penjual makanan tersebut yang merupakan keturunan Tionghoa. Penjual laki-laki tersebut sering dipanggil dengan sebutan apek-apek yang kemudian menjadikan makanan yang dijualnya bernama pempek.
“Kajian sejarah ini terus disempurnakan dengan menguatkan bukti sejarah lainnya. Nama pempek bermula dari makanan yang dijual di depan guguk keraton atau sekitar masjid Agung Palembang,” katanya.
Selain kajian sejarah, juga akan terdapat berbagai naskah kajian lainnya yang menguatkan bahwa pempek memang pantas menjadi kekayaan dunia. Dikatakan Vebri, pempek bersama dengan 24 warisan budaya tak benda lainnya sedang diusulkan ke Unesco. Setiap daerah memiliki keunggulan atas warisa budaya tak benda tersebut.
“Prinsipnya, kita mempersiapkan agar pempek memang pantas menjadi budaya di Indonesia dan di dunia,” katanya.
Tim kajian naskah yang beranggota 10 orang itu, kata Vebri akan bekerja selama tiga bulan ke depan dalam menguatkan kajian naskah pempek Palembang.
Mengenai perkembangan bentuk pempek sebenarnya kondisional. Masyarakat Palembang yang sudah akrab dengan makanan olahan ikan membuat pempek dengan bentuk beragam, misalnya pempek telur, pempek berisi tahu atau lainnya.
“Setelah selesai, kajian diberikan ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melewati tahapan pengusulan lainnya ke Unesco,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Nunggak 2 Tahun, Bapenda OI Minta HK Lunasi PBB

# Sebanyak Rp8Miliar, Targetkan Capai PAD Inderalaya, BP Guna mencapai target PAD Kabupaten Ogan Ilir (OI), Bapenda terus melakukan terobosan ...