Home / Headline / Pertempuran Melawan Inggris Di Palembang, 29  Maret 1946

Pertempuran Melawan Inggris Di Palembang, 29  Maret 1946

BP/IST
Penggantian pasukan Inggris di Palembang oleh unit KNIL dan KL, dipimpin oleh Letnan Kolonel KNIL Mollinger dan Kapten Letnan Dobbinga  dan letnan kolonel Inggris Wills (kiri) dari Gurkha ke-4

 

 

 

Oleh: Syafruddin Yusuf (Sejarawan Sumsel)

Palembang, BP

Upaya mempertahankan kemerdekaan RI oleh masyarakat Sumatera Selatan (khususnya Palembang) dilakukan melalui diplomasi dan pertempuran, baik melawan Belanda maupun Inggris yang datang atas nama Sekutu. Salah satu pertempuran melawan Inggris adalah pertempuran tanggal 29 Maret 1946. Pertempuran ini termasuk pertempuran besar selain pertempuran 13 Jam dan pertempuran lima hari lima malam. Pertempuran melawan Inggris ini belum banyak terungkap dalam kisah perjuangan rakyat Sumatera Selatan dibandingkan dengan pertempuran melawan Belanda. Tulisan ini mencoba mengungkapkan kembali pertempuran tersebut.

a. Kedatangan Sekutu

Setelah Jerman dan Italia bertekuk lutut menyerah kepada Sekutu, maka pihak Sekutu mengarahkan perhatian dan kekuatannya untuk menghadapi Jepang.  Serbuan Sekutu yang secara besar-besaran dan dijatuhkannya Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki telah memaksa Jepang untuk menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Dengan menyerahnya Jepang, maka kawasan Asia Tenggara haruslah diambil kembali oleh negara-negara Sekutu yang sebelum perang dunia telah menjajah dan menguasai negeri-negeri di Asia Tenggara. Untuk mengambil alih kembali kawasan tersebut, maka pihak Sekutu membentuk Komando Asia Tenggara (Southeast Asia Command). Komando ini diketuai oleh Lord Louis Mounbatten dari Inggris. Komando ini membagi tugas pengambilalihan wilayah Asia Tenggara dengan rincian, kawasan Indochina dibebankan kepada Perancis,  Malaya, Singapore, dan Indonesia diserahkan pada Inggris, sedangkan Philipina dibebankan kepada Amerika Serikat. Berhubung Indonesia akan diambil alih oleh Inggris dan Belanda tidak dimasukkan dalam Komando Asia Tenggara, maka Belanda kemudian melakukan lobi dengan Inggris dan dicapai sebuah kesepakatan dengan Inggris dalam persetujuan Civil Affair Agreement (24 Agusutus 1945). Pada Intinya perjanjian itu menyepakati  dua hal, yaitu pertama Inggris bersedia mengajak Belanda untuk datang kembali ke Indonesia, kedua apabila Inggris selesai melaksanakan tugasnya, maka pemerintah Inggris akan menyerahkan pemerintahan sipil kepada Belanda.

Baca:  Sambil Naik  Ketek, Dansatgas TMMD Kodim Palembang Kunjungi Rumah Salbiah

Pasukan Sekutu yang membonceng Belanda datang ke Palembang pada 12 Oktober 1945, di bawah pimpinan Hutchinson. Kedatangan pasukan Sekutu ini termasuk adanya NICA ke Palembang diterima dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat Palembang. Hal ini disebabkan satu minggu sebelum itu  (5 Oktober 1945), AK Gani selaku kepala pemerintahan di Palembang menerima kawat  dari Adinegoro anggota Komite Nasional Indonesia Pusat. Isi kawat tersebut adalah Sekutu telah memberikan pengakuan kedaulatan  RI secara de facto, segala jabatan di Jawa telah berada dalam tangan bangsa Indonesia dan berjanji untuk tidak akan memberi kesempatan kepada pihak Belanda untuk mendatangkan tentaranya ke Indonesia. Berdasarkan telegram tersebut, maka AK Gani memberikan izin  kepada pasukan Sekutu (Inggris) untuk menempati daerah-daerah di kawasan Talang semut sebagai tempat tinggal mereka. Penempatan pasukan sekutu di kawasan ini, karena memang sebelumnya kawasan Talang Semut adalah tempat pemukiman bangsa Belanda  dan di kawasan ini orang-orang Belanda yang menjadi tawanan Jepang tinggal.

b. Insiden-insiden dengan Inggris

Pada bulan  Pebruari 1946 terjadi penculikan seorang Cina yang menjadi  juru masak AL Inggris. Pihak Inggris menuduh pihak Indonesia yang melakukannya dan karena itu, pihak Inggris pada 25 Pebruari 1946 menyampaikan ultimatum kepada pihak Republik. Isi ultimatum itu adalah pihak republik diminta mengembalikan/membebaskan Cina tersebut pukul 22.00 malam. Kalau tidak maka Inggris akan bertindak. Situasi yang genting ini membuat Residen Palembang, AK Gani  melaporkan hal itu kepada pemerintah pusat. Pada pukul 00.30 malam tanggal 26 Pebruari 1946, empat tentara Inggris mendatangi rumah AK Gani untuk meminta keterangan tentang penculikan tersebut, dan dijawab oleh A.K Gani bahwa belum ada informasi tentang keberadaan orang Cina tersebut. Selanjutnya mereka melakukan penggeledahan kantor BPRI dan dengan mengacungkan pistol ke setiap orang yang ditemuinya. Akibat perbuatan itu, tentara Inggris ini dikejar oleh  para pejuang dan mereka melarikan diri  ke Talang Semut.

Baca:  Bantu UMKM Kuliner, Perindo Bagikan Gerobak Gratis

Insiden kedua  terjadi diatas jembatan  Talang Semut (sekarang jembatan depan SMP Negeri 13 Palembang). Beberapa tentara Inggris  dengan mengendarai mobil sedan berlintasan dengan sebuah mobil truk Indonesia. Mereka beralasan dengan adanya truk tersebut maka perjalanan mereka terganggu. Sambil melintasi jembatan pihak Inggris melakukan  tembakan ke rakyat  dan  melukai seorang rakyat. Akibat tindakan itu para pejuang melakukan tembakan balasan. Dalam tembak menembak ini dua orang tentara Inggeris tertembak mati dan seorang lagi luka parah dan melarikan diri.

Untuk mengatasi insiden itu, maka diadakan pertemuan antara Panglima AL Inggris dengan Residen A.K Gani pada 26 Pebruari 1946. Pertemuan menyepakati untuk menghentikan tembak menembak antara Inggris dengan pihak republik. Namun hal ini dilanggar oleh Inggris keesokan harinya dengan melakukan penggeledahan di markas BPRI, Mahkamah Tinggi, Bengkel mobil dan gudang beras. Inggris juga melakukan penangkapan terhadap seorang anggota TRI ketika menghalangi penggeledahan dan menyiksa seorang anggota BPRI. Tindakan brutal Inggris juga dilakukan dengan menangkapi para pejuang yang mereka temui. Insiden tembak menembak ini membuat Inggris menuntut perlunya “zone aman”  dalam kota Palembang yang harus dikosongkan dari orang-orang bersenjata (pejuang) republik. Permintaan Inggris ini kemudian dibahas dalam perundingan antara AK Gani dengan Brigadir Jenderal  Hutchinson. Hasil perundingan itu disepakatinya zone aman di sepanjang jalan Penjara (Depan Mesjid Agung) , jl. Tengkuruk (Jl.Sudirman) dan jl. Talang Jawa (Jl. Kolonel Atmo).  Kesepakatan ini berlaku mulai 25 Maret 1946.

c. Pertempuran dengan Inggris.

Secara teoritis dengan kesepakatan tersebut, maka tidak akan terjadi permusuhan antara Inggris dan pihak RI. Namun dalam kenyataannya kesepakatan itu dilanggar oleh Inggris. Pasukan Inggris bersenjata yang berkendaraan Tank dan truk menentang  dan menantang pejuang kita. Mereka melakukan penembakan di zone aman pada 29 Maret  1946. Akibatnya pasukan Inggris ini mendapatkan balasan tembakan dari pasukan republik. Pertempuran tidak dapat dielekkan lagi.  Zone aman dan pos-pos tentara Inggris dan NICA menjadi benteng pertahanan mereka. Pasukan TRI dan laskar perjuangan meluaskan arena pertempuran sampai ke kantor Pos Telepon dan telegrap (PTT), sekitaran Mesjid Agung dan Penjara (Jl. Merdeka dan jalan Guru-guru/ Jl.Kimas Mattjik). Untuk melindungi pasukan Inggris yang terjebak/terkepung  ini, maka Inggris  mengirimkan satu kompi pasukan artileri dibantu oleh tembakan mortir dari Charitas. Selain itu Inggris juga mengerahkan kapal-kapal AL nya untuk menembaki rakyat dan perahu-perahu yang ada di sekitar boom baru, Kertapati dan sepanjang sungai Musi. Satu kompi AL Inggris mendarat di Kampung Arab (13/14 ulu), mereka menembaki dan merusak rumah di kampung Arab. Pasukan TRI dari Batalion 34 Resimen XV, di bawah pimpinan Kapten Den Mas Kadir  dan para pejuang melakukan perlawanan dan berhasil memukul mundur pasukan Inggris tersebut kembali ke pinggiran sungai.  Tembakan artileri mortir dilakukan pula oleh Inggris ke rumah Residen (AK Gani) dan kepala jawatan Penerangan (Nungtjik AR) yang berada di kawasan 18 Ilir (sekarang Jl. TP Rustam Effendi), dan kawasan jl.Kepandean. Markas PMI di jl. Talang Jawa Lama (sekarang Jl. Kolonel Atmo) juga mendapatkan serangan dan membawa korban beberapa orang.

Baca:  KPU Sumsel Siap Tindaklanjuti

Pihak Inggris menyadari bahwa apabila pertempuran terus berlanjut, maka tugas utama mereka yang dibebankan oleh komando Sekutu di Singapura akan gagal.  Tugas mereka adalah memulangkan orang-orang Jepang ke negerinya dan membebaskan para interniran Belanda. Oleh karena itu pihak Inggris meminta untuk menghentikan pertempuran. Permintaan pertama dan kedua tidak ditanggapi oleh pihak kita. Pada permintaan yang ketiga kalinya, barulah  AK Gani memenuhinya dan disepakti untuk penghentian pertempuran. Dari petempuran itu diperoleh data  bahwa dua tank Inggris berhasil dirusak oleh TRI, 14 orang pasukan Inggris luka. Sementara dipihak republik jatuh puluhan korban  terutama dari kalangan rakyat dan sebahagian pasukan TRI dan pejuang lainnya.  Penghentian pertempuran dengan Inggris berlangsung sampai selesainya tugas Inggris tersebut dan mereka kembali ke Inggris pada bulan Oktober 1946.#

 

 

 

 

 

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Kapolda Sumsel Dan Kajati Sumsel Lolos 20 besar calon pimpinan KPK.

Palembang, BP Panitia seleksi capim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya mengumumkan nama-nama kandidat yang lolos dari tahap profile assessment pada ...