Home / Headline / Sekanak, Penanda Perdagangan Dunia Awal Abad XX di Palembang

Sekanak, Penanda Perdagangan Dunia Awal Abad XX di Palembang

BP/IST
Aryadini Novita, Arekelog dari Balar Arkeolog Palembang dalam acara Heritage Walk Palembang di History Cafe, Sabtu (30/3) yang di gelar oleh Komunitas sejarah Sahabat Cagar Budaya.

Palembang, BP

Kawasan Sekanak  dapat dikatakan merupakan penanda perubahan konsep pemukiman Kota Palembang yang awalnya merupakan kota air menjadi kota daratan, selain itu kawasan ini juga merupakan penanda keterlibatan Palembang dalam perdagangan global awal abad XX. Hingga saat ini Kawasan Sekanak masih berfungsi sebagai kawasan perekonomian. Selain tempat melakukan transaksi jual beli, kawasan ini juga merupakan lokasi pergudangan dan perniagaan lainnya.

Hal tersebut dikemukakan Aryadini Novita, Arekelog dari Balar Arkeolog Palembang dalam acara Heritage Walk Palembang di History Cafe, Sabtu (30/3) yang di gelar oleh Komunitas sejarah Sahabat Cagar Budaya.

Acara diikuti berbagai kalangan komunitas dan masyarakat umum.

Menurut wanita yang akrab di sapa Vivi ini, toko-toko di Kawasan Sekanak mempunyai gaya arsitektur Indies yang menjadi tren pada pertokoan yang dibangun pada akhir abad XIX hingga pertengahan abad XX.

“Bangunan tersebut juga berfungsi sebagai rumah pemilik toko. Secara umum pertokoan di Kawasan Pasar Sekanak merupakan bangunan yang berderet yang memiliki satu atap. Secara arsitektur toko-toko tersebut memiliki gaya arsitektur perpaduan gaya arsitektur Cina yang terlihat pada bentuk bubungan atap tipe ngang shan dan gaya arsitektur Eropa yang terlihat pada bentuk ornamennya yang bermotif geometris yang merupakan ciri dari gaya arsitektur art deco,” katanya.

Baca:  Jangan Setiap Kali Pembahasan Mundur, DPRD Sumsel Disalahkan

Di bagian depan pertokoan di Kawasan Sekanak menurutnya, terdapat pedestrian yang beratap yang melindungi pejalan kaki dari sinar matahari ketika melintas di pedestrian tersebut. Bangunan pergudangan di Kawasan Sekanak yang saat ini masih dapat ditemukan adalah gudang NV Jacobson Van Den Berg & Co. Secara arsitektural bangunan gudang ini mencirikan gaya arsitektur yang umum dibangun pada pertengahan abad XX.

“Abad XIX merupakan era kemajuan integrasi ekonomi di seluruh dunia. Pembukaan Terusan Suez dan perkembangan teknologi kapal uap sangat efektif untuk mempersingkat waktu pelayaran dari Belanda ke Hindia Belanda. Kondisi ini juga berpengaruh pada perdagangan di Hindia Belanda. Seiring dengan perkembangan ini pemerintah Hindia Belanda juga membuat kebijakan yang memperbolehkan pihak swasta untuk berinvestasi, yang diawali dengan kesempatan untuk menanam modal pada pembukaan perkebunan kemudian merambah ke sektor pertambangan,” katanya.

Baca:  4.025 Box Surat Suara Tiba di KPU Palembang

Masuknya sektor swasta ini menurutnya, meningkatkan produksi komoditi ekspor Hindia Belanda, yaitu tebu, kopi, tembakau, kina, karet dan kelapa sawit. Kondisi tersebut semakin ditunjang oleh tingginya permintaan dunia terhadap komoditi karet dan minyak bumi. Hingga tahun 1930, karet menyumbangkan kira-kira 1/3 dari total komoditas ekspor.

“Meningkatnya produksi komoditi ekspor ini mengakibatkan meningkat pula pendapatan penduduk sehingga berakibat pula dengan meningkatnya permintaan akan barang impor,” katanya.

Secara umum, menurut Vivi, bahan-bahan komoditi ekspor Hindia Belanda berasal dari seluruh daerah di nusantara, seperti Sumatera Timur, Palembang, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Antara tahun 1900 hingga tahun 1940 keempat daerah tersebut telah menyumbangkan 60% dari nilai ekspor Hindia Belanda dan 50% dari nilai impor.

“Meningkatnya minat terhadap produk impor memberi peluang bagi perusahaan-perusahaan Eropa dan Amerika untuk mendirikan kantor dagangnya di Hindia Belanda. Umumnya perusahaan-perusahaan besar tersebut mendirikan cabangnya di kota-kota besar di Pulau Jawa, seperti Batavia, Surabaya dan Semarang. Hingga tahun 1930, perusahaan dagang besar mulai melakukan ekspansi ke kota-kota di luar Pulau Jawa, seperti Palembang, Makassar, Medan, Banjarmasin dan Pontianak,” katanya.

Baca:  KPU Seluruh Sumsel Lakukan Coklit Serentak

Perusahaan-perusahaan tersebut menurutnya, tidak hanya melakukan perdagangan ekspor tetapi juga juga mendatangkan barang-barang impor.

Perdagangan ekspor dan impor Hindia Belanda terutama dipusat pada lima pasar utama, yaitu Batavia, Semarang, Surabaya dan Makassar. Sementara terdapat beberapa kota pelabuhan yang merupakan pasar sekunder yaitu Cilacap, Medan, Padang, Palembang, Pontianak, Banjarmasin dan Manado.

“Palembang merupakan pasar untuk kopi robusta, karet, lada dan rotan. Meningkatnya produksi komoditi ekspor di Palembang juga diperkuat dengan dibangunnya jaringan kereta api yang masuk hingga pedalaman. Pembangunan kilang minyak di Plaju dan Pendopo serta pembukaan tambang batu bara di Bukit Asam semakin meningkatkan komoditi ekspor yang diproduksi Palembang yang berakibat daya beli masyarakat juga meningkatka. Pada masa itu pembelian masyarakat untuk barang-barang konsumsi meningkat pesat, terutama barang-barang modern seperti mobil, mesin jahit dan sepeda sehingga dapat dikatakan merupakan masa kemakmuran Palembang,” katanya.

Sedangkan  Founder Komunitas Cagar Budaya PalembangRobby Sunata mengatakan, banyak hal baru tentang perdagangan Sumsel yang baru pihaknya acara kemarin.

“Supaya kawan-kawan lebih kenal tentang Sekanak, bukan hanya gedungnya tapi juga arti pentingnya,” katanya.#osk

 

 

 

 

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pemkab Muba Fasilitasi Penyelesaian Masalah Pertanahan Transmigrasi

Sekayu, BP–Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin menggelar Rapat Fasilitasi Penyelesaian Permasalahan Pertanahan Transmigrasi, lokasi Air Tenggulang SP.5 Desa Tenggulang Baru Kecamatan ...