Home / Headline / Sekitar Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang

Sekitar Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang

BP/IST
Dalam sebuah hanggar di bandara di Lahat, diadakan pertemuan antara delegasi  Militer Republik Indonesia dan Belanda mengenai implementasi gencatan senjata Perang Lima Hari Lima Malam  antara perwakilan Belanda di pimpin Kolonel Mollinger dan  TNI di Pimpinan Kolonel Maludin Simbolon

 

 

BP/IST
Syafruddin Yusuf

Oleh: Syafruddin Yusuf (Sejarawan Sumsel)

PERTEMPURAN  Lima hari lima malam  terjadi  pada tanggal 1-5 Januari 1947. Pertempuran ini memberikan bukti bahwa rakyat Indonesia khususnya Palembang tidak bersedia untuk dijajah kembali oleh Belanda dan mereka merasa bertanggungjawab atas kemerdekaan yang sudah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 dengan segala konsekwensinya.  Tulisan singkat ini mencoba menelaah mengapa dan bagaimana serta makna di balik pertempuran itu.

Bagi Indonesia  Proklamasi Kemerdekan Indonesia adalah keinginan seluruh rakyat Indonesia, karena Itu Ia akan dibela dan dipertahankan oleh Rakyat Indonesia, namun bagi Belanda

Proklamasi itu merupakan  tindakan yang menentang/melawan pemerintah kolonial, dan karena itu harus ditumpas dan Indonesia harus direbut dan dikuasai kembali sebagai daerah jajahannya.

Belanda datang ke Palembang dibonceng oleh pihak Sekutu pada 12 Oktober 1945 di bawah pimpinan Letkol Carmichel. Pertempuran lima hari lima malam merupakan realisasi dari keinginan Belanda untuk menguasai kembali Indonesia dengan tiga cara yaitu dengan melakukan aksi militer, melakukan pembentukan negara boneka dan menjaga agar indonesia  tetap berada di bawah kuasa Belanda

Ada beberapa alasan kenapa Belanda masih ingin tetap menguasai Palembang yaitu Palembang pusat kegiatan politik di Sumsel, Palembang pusat pemerintahan di Sumsel, Palembang pusat kegiatan ekonomi dan Palembang pusat kekuatan militer di Sumsel. Menguasai Palembang berarti  akan lebih mudah bagi Belanda untuk menguasai daerah lain di Sumsel.

Menjelang pertempuran lima hari lima malam di Palembang belanda menerjunkan kekuatan satu Brigade dipimpin Kol. Mollinger, terdiri dari :

Empat batalion Infantrie ( batalion VII, VIII, X dan XI) dengan posisi :

  1. Batalion VII :   Boom Yetty dan Yacobson Van den Berg
  2. Batalion VIII  :   Sungai Rendang, Borsumij dan Gedung I.M.P, Sungai Gerong. (Disungai Gerong juga ditempatkan pasukan dari Squadron XVI, dan kapal Perang)
  3. Batalion  X     :  Rumah Sakit Charitas dan Plaju
  4. Batalion XI :   Plaju dan Bagus Kuning (Pasukan lain 1 Kompi Stoot Troepen KL dan KNIL.)
  5. Batalion Gajah Merah : Kantor Walikota (sekarang Museum Sultan Mahmud Badaruddin II).
  6. Divisi 7 Desember :  Benteng dan Talang Semut.
  7. Pasukan Twede Company Zeni :  Pelabuhan Boom Baru diperkuat  dgn kapal perang dan motor boot)
  8. Pasukan Artileri dan pasukan udara dari Squadron XVI : Talang Betutu.

Kekuatan persenjataan pasukan Belanda terdiri dari senjata ringan yang masih   standart,   senjata berat (mortir berat dan Artileri),  Kendaraan berupa tank dan panser, pesawat terbang berupa mustang dan bomber, kapal perang berupa karvet dan motor boat

Sedangkan  pihak Republik Indonesia menerjunkan kekuatannya untuk wilayah Sumbagsel berada di bawah Sub Komandemen Sumatera Selatan  (Subkoss) dengan Panglimanya Kolonel Maludin Simbolon.

Subkoss membawahi satu Divisi yaitu Divisi II Garuda dengan Panglima Divisi : Letkol Bambang Utoyo. Divisi ini terdiri dari dua Resimen yaitu Resimen XV dan Resimen XVII, Selain itu juga terdapat lasykar-lasykar perjuangan. Dengan Struktur Pimpinan dan Kedudukan Pasukan

Panglima  Subkoss            :  Kolonel Maludin Simbolon

Panglima Divisi II Garuda :  Letkol Bambang Utoyo

Baca:  Pameran Olahraga dari Masa ke Masa di Museum Balaputra Dewa

Kepala Staf                         :  Mayor Rasyad Nawawi

Perwira Operasi                 : Kapten Alamsyah RP

Kedudukan Markas Divisi  berada di sungai Jeruju  (sekarang kantor Dinas PU Kota Palembang),

 

  1. Resimen XV ,  Komandan    :  Mayor Zurbi Bustan,  Kedudukan di Schakel Scholl 15 ilir Pasukan tersebar di Kec. Ilir Timur dan seberang ulu, membawahi dua   batalion
  2. Batalion XXXII dipimpin Kapten Makmun Murod berkedudukan Gedung Eksportir Kopi dan Karet Sekanak Palembang, terdiri dari tiga kompi pasukan yaitu kompi I pimpinan Kapten Malik berkedudukan di Ilir Timur meliputi Kawasan Kenten-8 Ilir dan lorong Pagaralam (sekarang Jl. Mayor Ruslan).
  3. Kompi II dipimpin Letnan Satu Ibrahim Lakoni berkedudukan 35 Ilir – Tatang ke 30 Ilir Suro dan 29 Ilir ke arah jalan Makrayu dan Talang Kerangga.
  4. Kompi III dipimpin Letnan Satu RZ. Abidin berkedudukan di Bukit Besar – Bukit Siguntang dan daerah ke Talang Semut Jl. Cek Bakar /jl.Cipto.
  5. Batalion XXXIV dipimpin Kapten Raden Mas Kadir  berkedudukan di Gedung Sekolah Cina 7 Ulu, mempunyai 4 (empat) kompi pasukan dan ditempatkan masing-masing :
  6. Kompi I dipimpin Letnan Satu R. Abdullah berkedudukan di daerah Plaju – jalan Kayuagung- Sungai Bakung.
  7. Kompi II dipimpin Letnan Dua Sumaji berkedudukan di Bagus Kuning – Sri Guna Plaju.
  8. Kompi III dipimpin Letnan Dua Anwar Lizano mempertahankan kawasan pinggir sungai Musi yang berhadapan dengan Boom Yetty sampai ke Boom Baru.
  9. Kompi IV dipimpin oleh Letnan Dua H. Arlan meliputi daerah Kertapati dan sekitarnya .
  10. Resimen XVII, Komandan : Mayor Dani Effendi,   Kedudukan markas di Prabumulih.

Ketika terjadi pertempuran lima hari lima malam, sebagian pasukan resimen ini berada di Palembang untuk memperkuat pertahanan Palembang. Pasukan Resimen XVII tersebar mulai dari depan Masjid Agung sampai Charitas.

Sedangkan untuk pasukan dari Resimen XVII ini menempati posisi  satu seksi ditempatkan di muka  masjid Agung (Monpera sekarang) dipimpin Letnan Muda Sudayat dan Capa Imron Effendi, Satu seksi lengkap di Charitas dipimpin Letnan Dua Ilias, Satu seksi  lengkap sebagai  pasukan  cadangan bertempat di Ophier (lapangan Hatta sekarang), Satu regu PSU (Penangkis Serangan Udara) dipimpin Sersan Mayor Arifin berada di sekitar  Bioskop Mawar, Satu  regu PSU  dipimpin  Sarudin diperbantukan kepada Batalion ALRI di Boom Baru, Satu regu PSU dipimpin Sersan Mayor Madjid di pasar Cinde. Satu regu PSU cadangan di lapangan Hatta di bawah pimpinan Letnan Bachtiar , sedangkan pasukan dari Batalion XXX Resimen XVII dibawah pimpinan Kapten Animan Achyat berada di Sukarami (Talang Betutu).

Sedangkan Pasukan Republik lainnya yang berada di Palembang dari unsur TRI-Subkoss dan lasykar pejuang adalah: Pasukan Polisi Tentara yang dipimpin oleh Letnan Satu Suryadi berkedudukan di Pabrik Kopi Cap Roda 15 Ilir, Kompi Guard berkedudukan di depan Mesjid Agung, Kompi khusus Gajahmada dipimpin Letnan Dua A. Aziz berkedudukan di lorong Pagaralam (Sekarang jalan Mayor Ruslan), Pasukan Zeni  dipimpin  Vandrig  Nelson  Tobing berkedudukan di sekolah HIS Kebon Duku 24 Ilir dan sekitarnya, dengan Seksi Satu dipimpin Sersan Mayor Silitonga dan Seksi Dua dipimpin oleh Sersan Mayor Ali Abatsyah.

Pasukan dari unsur non TRI-Subkoss dan lasykar perjuangan, yaitu: pasukan Lasykar Napindo dipimpin Mayor Lasykar Abi Hasan Said berkedudukan di Charitas membantu pasukan Resimen XVII. Pusat Badan Perjuangan Sumatera Selatan berkedudukan di gedung perjuangan jalan Mailan (TP Roestam Effendi), Pasukan Divisi lasykar 17 Agustus dipimpin  Kolonel Napindo Husin Achmad berkedudukan di Hotel R. Nangling 17 Ilir, Pasukan Gabungan yang terdiri dari Polisi Tentara (PT), Kompi Guard dan lasykar-lasykar dipimpin Torak berkedudukan di lorong Cempaka, Lasykar Mujahidin dipimpin Husin Mu’in berkedudukan di 26 Ilir, dan Lasykar Hisbullah di sekitar jalan Limbungan.

Baca:  HD Sebut Angka kemiskinan di Sumsel Masih tinggi Dan IPM dibawah Nasional

Selain pasukan TRI-Subkoss dan lasykar Perjuangan, di Palembang juga terdapat pasukan dari Resimen X ALRI yang bermarkas di Boom Baru. Resimen ini terdiri dari 4 kompi.

Susunan personil pimpinan  pasukan ALRI adalah sebagai berikut : Komandan Resimen Mayor A.R Saroinsong, Wakil Komandan Kapten G. Luntungan, dengan Staf Resimen terdiri atas, Pembantu Letnan Satu Suparno, Pembantu Letnan Satu Djuaini Achmad, Pembantu Letnan Satu A. Nawawi dan lain-lainnya. Kompi I dipimpin Kapten G. Luntungan merangkap wakil komandan resimen, Kompi II dipimpin Kapten Wintonawawi dengan wakilnya Hasibuan, Kompi III dipimpin Letnan Satu Darmo Wiyono dengan wakilnya Pembantu Letnan Satu HS. Timbul, Kompi IV dipimpin Letnan Satu M. Yoesoef.

Sedangkan dislokasi pasukannya adalah satu seksi di Muara Sungsang dipimpin oleh Sersan Mayor Bakri Hanafi, satu seksi di Upang dipimpin Pembantu Letnan Satu Hamidur, satu seksi di Mariana dipimpin Vandrig Safri Rachman dan wakilnya Sersan Mayor Natsir, satu seksi di sungai Lais dipimpin Vandrig Sulaiman Salam dengan wakilnya Sersan Mayor OM. Roesli Romli, satu seksi di sungai Batang dipimpin Vandrig Kemas Romli dengan wakilnya Sersan Mayor OM Gufron Baim. Di Mata Merah dipimpin Vandrig K. Sirodj dan wakilnya Sersan Mayor OM. Sarmidi

 

Jalannya Perang Lima Hari Lima Malam

Pertempuran lima hari lima malam bersifat pertempuran kota. Artinya pertempuran itu berlangsung di setiap penjuru kota. Pasukan Belanda bertahan di tempat-tempat yang sudah mereka kuasai sebelumnya sedangkan pasukan republik menyerbu dan mengepung pasukan yang bertahan tersebut. Pusat pertahanan Belanda terkuat di Benteng, Charitas, Bagus Kuning (Plaju). Sedangkan kekuatan Republik tersebar di semua penjuru kota dan tidak jauh dari tempat-tempat pertahanan Belanda.

Pada hari pertama (1 Januari 1947), sekitar tengah hari kontak senjata mulai terjadi antara pasukan Belanda yang melakukan konvoi bergerak dari Benteng ke Charitas. Perbuatan pasukan Belanda ini mendapat sambutan dari pejuang TRI. Pembantu Letnan Ahmad Malaya (warga negara Malaysia yang berjuang dipihak RI), yang berada di sekitar masjid Agung, membalas tembakan-tembakan Belanda tersebut. Peristiwa itu menandai dimulainya pertempuran. Semua pasukan TRI bergerak mengepung pertahanan Belanda di semua sektor.

Pertempuran sengit terjadi sampai pukul 17.00 disemua sektor. Pada pukul 18.00 Belanda menggunakan kendaraan lapis baja dan persenjataan yang modern, sehingga pertahanannya sedikit mendapat kemajuan. Kantor Pos telah dikuasai kembali oleh Belanda, menyusul kemudian Kantor Telegrap, Kantor Residen dan Kantor Walikota. Bahkan hampir semua gedung disekitar jalan Guru-guru di 19 Ilir telah dikuasai Belanda. Jalan tersebut semula memang dikuasai bersama sesuai perjanjian, yaitu telah dijadikan sebagai corridor bersama.

Pada hari kedua, Belanda memperkuat pasukannya untuk mempertahankan daerah-daerah yang sudah direbut. Pasukan Belanda di talang semut ditahan oleh TRI yang berada disekitar  Sekanak, Soak Bato, Bukit kecil dan sekitarnya.

Baca:  Memenuhi Syarat DPD, Berkas Perbaikan Dikirim Ke Kabupaten/Kota

Pada  hari ini pasukan Belanda berusaha untuk menerobos jalan Tengkuruk menuju Charitas sebagai pusat pertahanan Belanda yang sudah dikepung oleh pasukan dari Resimen XVII di bawah pimpinan Dani Effendi. Pasukan Belanda ini ditahan oleh pasukan TRI di pasar Lingkis (Cinde sekarang). Sampai hari kelima pertempuran posisi Belanda di Charitas tetap terkepung. Bantuan Belanda dari Talang Betutu, ditahan oleh pasukan TRI dipimpin kapten Animan Achyat dan Wahid Udin.

Pada hari ketiga, Belanda  menyerang  kekuatan TRI di sekitar  26 ilir dan limbungan (sekarang rumah susun) dan berhasil menguasainya. Belanda melakukan pembakaran rumah-rumah rakyat di Limbungan. Sementara pasukan TRI mundur melakukan konsolidasi dan memperkuat pertahanan pasar Lingkis.

Keuntungan Belanda adalah mereka memiliki persenjatan lebih kuat dan menguasai jalur sungai, sehingga pasukan bantuan dari luar kota tertahan di Kertapati karena tidak dapat menyeberang. Pasar Lingkis dipertahankan dengan kekuatan penuh, karena daerah ini merupakan pertahanan yang penting untuk menghambat Belanda ke Charitas. Karena itu dari segi perhitungan strategis Belanda daerah ini harus dikuasai untuk melancarkan dan memberikan bantuan kepada Charitas. Tank Belanda mencoba keluar dari Charitas ke pasar Lingkis, terjadi pertempuran seru dimana tank diserbu oleh TRI. Pasukan Belanda ini akhirny kembali ke Charitas.

Pada hari keempat  kekuatan persenjataan dan perbekalan makanan semakin menipis. Hal  ini menjadi pertimbangan bagi pimpinan militer dan sipil untuk mengambil langkah yang tepat.   Pertemuan para pimpinan sipil dan militer ini  menyepakati bahwa antara RI dan Belanda perlu melakukan perundingan. Untuk itu disepakati delegasi yang akan berunding terdiri dari Panglima Divisi II (Letkol Bambang Utoyo), Gubernur Muda SS (drg. M.Isa), Kepala Polisi Palembang Mursodo dan Komandan ALRI  A.R Saroinsong.

Untuk melancarkan rencana perundingan itu, maka dibentuklah satu tim yang bertugas untuk mengadakan penjajakan, merancang dan mempersiapkan materi perundingan dengan Belanda. Tim terdiri dari tiga orang yaitu Mayor Rasyad Nawawi mewakili Komando pertempuran, drg. M.Isa mewakili pemerintahan sipil dan Mursodo dari kepolisian.

Pada tanggal 5 Januari 1947, dilakukan perundingan antara Belanda dan pemerintah RI di Benteng, pihak,   dengan keputusan pasukan TNI dan pejuang lainnya harus mundur sejauh 20 km dari pusat kota. Sedangkan ALRI, polisi dan pemerintahan sipil tetap berada dalam kota Palembang. Pada mulanya Belanda tidak menerima dan tetap memaksakan keinginannya.

Bambang Utoyo selaku ketua delegasi Indonesia memberikan penjelasan dan alasan bahwa ALRI tidak mempunyai hubungan dengan TRI (AD). Demikian pula polisi dan pemerintahan sipil perlu tetap di dalam kota untuk membantu Belanda  menjaga ketertiban dan keamanan dalam kota. Alasan ini dapat diterima Belanda sehingga pasukan yang meninggalkan Palembang atau mundur sejauh 20 km dari Palembang adalah TRI dan laskar perjuangan lainnya. Keputusan ini berlaku efektif tgl 6 Januari 1947 jam 00.

Berdasarkan keputusan tersebut, maka pada 6 Januari 1947 dilakukanlah evakuasi pasukan TRI dan para pejuang keluar kota Palembang.

Ada tiga arah pemunduran pasukan yaitu ke Langkan, Indralaya, dan Simpang Rambutan.

Pemunduran pasukan itu juga telah memungkinkan TRI membentuk front pertahanan baru di luar kota Palembang.  Front Pertahanan itu menjadi modal untuk mempertahankan diri pada aksi militer Belanda I. Secara geografis pemunduran pasukan TRI  telah menutup Belanda yang berada di dalam kota Palembang, baik dari sisi kanan, tengah maupun kiri, yang lazim disebut front kanan, tengah dan front kiri.  Satu-satunya jalur yang dapat digunakan Belanda adalah jalur sungai Musi.#

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Satgas TMMD Ke 104 Kodim 0418 Palembang   Buka Layanan Pangkas Rambut Gratis

Palembang, BP Anggota Satuan Tugas (Satgas) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 104 Kodim 0418/Palembang membuka layanan pangkas rambus gratis ...