Home / Headline / Mengenang Perang Lima Hari Lima Malam Melalui Jalan-Jalan Sejarah

Mengenang Perang Lima Hari Lima Malam Melalui Jalan-Jalan Sejarah

BP/IST
Komunitas sejarah Sahabat Cagar Budaya kembali menggelar kegiatan jalan-jalan sejarah Heritage Walk Palembang, Sabtu (16/3), di kawasan kota Palembang yang menjadi konsentrasi perang lima hari lima malam.

Palembang, BP

 72 tahun lalu, atau tepatnya 1-5 Januari 1947 telah terjadi Perang 5 hari 5 Malam (PLHLM) di Palembang. Peristiwa ini sangat penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Banyak korban tenaga, harta, dan bahkan ribuan nyawa yang melayang. Menurut catatan Palang Merah Internasional  ketika itu, sekitar 2000-3500 orang pihak Indonesia menjadi korban dari serangan berutal pasukan Belanda.

Namun, sepertinya banyak yang lupa. Padahal, bangsa yang besar, seperti kata Bung Karno adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

 

Komunitas sejarah Sahabat Cagar Budaya kembali menggelar kegiatan jalan-jalan sejarah Heritage Walk Palembang, Sabtu (16/3), di kawasan kota Palembang yang menjadi konsentrasi perang lima hari lima malam.

,Kegiatan ini diikuti oleh HPI Palembang, PESE UIN, GenPI Sumsel, dan masyarakat umum dengan total peserta 40 orang.

Acara dimulai pukul 09.00 dengan sesi pembuka oleh narasumber  Sejarawan Sumsel yang juga dosen Sejarah Universitas  Sriwijaya (Unsri), Syafruddin Yusuf  yang memberikan materi sebagai bekal jalan-jalan di bawah Tugu Perang Lima Hari Lima Malam di dekat pasar 16 Ilir atau di Jalan Tengkuruk  lalu acara dilanjutkan dengan jalan kaki menelusuri kawasan Benteng Kuto Besak, Kawasan Pasar Sekanak dan sekitarnya yang menjadi  lokasi perang lima hari lima malam.

Setelah menjelajahi tempat-tempat bersejarah, peserta lalu dibawa kembali ke salah satu tempat makam  untuk memulai sesi tanya jawab.

Menurut Robby Sunata didampingi Anita Raharjeng yang merupakan  pelaksana kegiatan menilai heritage walk Palembang kemarin seru sekali.

“Narasumbernya sangat bersemangat, pesertanya  penuh energi sehingga tak terasa berjalan sampai jauh dari Tengkuruk ke sekanak,” katanya.

Sejarawan Sumsel yang juga dosen Sejarah Universitas  Sriwijaya (Unsri), Syafruddin Yusuf  menjelaskan perang  Lima hari lima malam  terjadi  pada tanggal 1-5 Januari 1947. Pertempuran ini memberikan bukti bahwa rakyat Indonesia khususnya Palembang tidak bersedia untuk dijajah kembali oleh Belanda dan mereka merasa bertanggungjawab atas kemerdekaan yang sudah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 dengan segala konsekwensinya.

Baca:  ESP : Sarimuda-Rozak Berkompeten Bangkitkan Palembang

Bagi Indonesia  Proklamasi Kemerdekan Indonesia adalah keinginan seluruh rakyat Indonesia, karena itu ia akan dibela dan dipertahankan oleh Rakyat Indonesia, namun bagi Belanda

Proklamasi itu merupakan  tindakan yang menentang/melawan pemerintah kolonial, dan karena itu harus ditumpas dan Indonesia harus direbut dan dikuasai kembali sebagai daerah jajahannya.

Belanda datang ke Palembang dibonceng oleh pihak Sekutu pada 12 Oktober 1945 di bawah pimpinan Letkol Carmichel. Pertempuran lima hari lima malam merupakan realisasi dari keinginan Belanda untuk menguasai kembali Indonesia dengan tiga cara yaitu dengan melakukan aksi militer, melakukan pembentukan negara boneka dan menjaga agar indonesia  tetap berada di bawah kuasa Belanda

Ada beberapa alasan kenapa Belanda masih ingin tetap menguasai Palembang yaitu Palembang pusat kegiatan politik di Sumsel, Palembang pusat pemerintahan di Sumsel, Palembang pusat kegiatan ekonomi dan Palembang pusat kekuatan militer di Sumsel. Menguasai Palembang berarti  akan lebih mudah bagi Belanda untuk menguasai daerah lain di Sumsel.

Menjelang pertempuran lima hari lima malam di Palembang belanda menerjunkan kekuatan satu Brigade dipimpin Kol. Mollinger, terdiri dari :

Empat batalion Infantrie ( batalion VII, VIII, X dan XI) dengan posisi :

  1. Batalion VII :   Boom Yetty dan Yacobson Van den Berg
  2. Batalion VIII  :   Sungai Rendang, Borsumij dan Gedung I.M.P, Sungai Gerong. (Disungai Gerong juga ditempatkan pasukan dari Squadron XVI, dan kapal Perang)
  3. Batalion  X     :  Rumah Sakit Charitas dan Plaju
  4. Batalion XI :   Plaju dan Bagus Kuning (Pasukan lain 1 Kompi Stoot Troepen KL dan KNIL.)
  5. Batalion Gajah Merah : Kantor Walikota (sekarang Museum Sultan Mahmud Badaruddin II).
  6. Divisi 7 Desember :  Benteng dan Talang Semut.
  7. Pasukan Twede Company Zeni :  Pelabuhan Boom Baru diperkuat  dgn kapal perang dan motor boot)
  8. Pasukan Artileri dan pasukan udara dari Squadron XVI : Talang Betutu.
Baca:  Pangdam Pimpin Sertijab 11 Pejabat Kodam II Sriwijaya

Kekuatan persenjataan pasukan Belanda terdiri dari senjata ringan yang masih   standart,   senjata berat (mortir berat dan Artileri),  Kendaraan berupa tank dan panser, pesawat terbang berupa mustang dan bomber, kapal perang berupa karvet dan motor boat

Sedangkan  pihak Republik Indonesia menerjunkan kekuatannya untuk wilayah Sumbagsel berada di bawah Sub Komandemen Sumatera Selatan  (Subkoss) dengan Panglimanya Kolonel Maludin Simbolon.

Subkoss membawahi satu Divisi yaitu Divisi II Garuda dengan Panglima Divisi : Letkol Bambang Utoyo. Divisi ini terdiri dari dua Resimen yaitu Resimen XV dan Resimen XVII, Selain itu juga terdapat lasykar-lasykar perjuangan. Dengan Struktur Pimpinan dan Kedudukan Pasukan

Panglima  Subkoss            :  Kolonel Maludin Simbolon

Panglima Divisi II Garuda :  Letkol Bambang Utoyo

 

Kepala Staf                         :  Mayor Rasyad Nawawi

Perwira Operasi                 : Kapten Alamsyah RP

Kedudukan Markas Divisi  berada di sungai Jeruju  (sekarang kantor Dinas PU Kota Palembang),

 

  1. Resimen XV ,  Komandan    :  Mayor Zurbi Bustan,  Kedudukan di Schakel Scholl 15 ilir Pasukan tersebar di Kec. Ilir Timur dan seberang ulu, membawahi dua   batalion
  2. Batalion XXXII dipimpin Kapten Makmun Murod berkedudukan Gedung Eksportir Kopi dan Karet Sekanak Palembang, terdiri dari tiga kompi pasukan yaitu kompi I pimpinan Kapten Malik berkedudukan di Ilir Timur meliputi Kawasan Kenten-8 Ilir dan lorong Pagaralam (sekarang Jl. Mayor Ruslan).
  3. Kompi II dipimpin Letnan Satu Ibrahim Lakoni berkedudukan 35 Ilir – Tatang ke 30 Ilir Suro dan 29 Ilir ke arah jalan Makrayu dan Talang Kerangga.
  4. Kompi III dipimpin Letnan Satu RZ. Abidin berkedudukan di Bukit Besar – Bukit Siguntang dan daerah ke Talang Semut Jl. Cek Bakar /jl.Cipto.
  5. Batalion XXXIV dipimpin Kapten Raden Mas Kadir  berkedudukan di Gedung Sekolah Cina 7 Ulu, mempunyai 4 (empat) kompi pasukan dan ditempatkan masing-masing :
  6. Kompi I dipimpin Letnan Satu R. Abdullah berkedudukan di daerah Plaju – jalan Kayuagung- Sungai Bakung.
  7. Kompi II dipimpin Letnan Dua Sumaji berkedudukan di Bagus Kuning – Sri Guna Plaju.
  8. Kompi III dipimpin Letnan Dua Anwar Lizano mempertahankan kawasan pinggir sungai Musi yang berhadapan dengan Boom Yetty sampai ke Boom Baru.
  9. Kompi IV dipimpin oleh Letnan Dua H. Arlan meliputi daerah Kertapati dan sekitarnya .
  10. Resimen XVII, Komandan : Mayor Dani Effendi,   Kedudukan markas di Prabumulih.
Baca:  Suasana Riuh Dan Ramai  di Nobar Debat Capres Dan Cawapres  di Palembang

 

Pada tanggal 5 Januari 1947, dilakukan perundingan antara Belanda dan pemerintah RI di Benteng, pihak,   dengan keputusan pasukan TNI dan pejuang lainnya harus mundur sejauh 20 km dari pusat kota. Sedangkan ALRI, polisi dan pemerintahan sipil tetap berada dalam kota Palembang. Pada mulanya Belanda tidak menerima dan tetap memaksakan keinginannya.

Bambang Utoyo selaku ketua delegasi Indonesia memberikan penjelasan dan alasan bahwa ALRI tidak mempunyai hubungan dengan TRI (AD). Demikian pula polisi dan pemerintahan sipil perlu tetap di dalam kota untuk membantu Belanda  menjaga ketertiban dan keamanan dalam kota. Alasan ini dapat diterima Belanda sehingga pasukan yang meninggalkan Palembang atau mundur sejauh 20 km dari Palembang adalah TRI dan laskar perjuangan lainnya. Keputusan ini berlaku efektif tgl 6 Januari 1947 jam 00.

Berdasarkan keputusan tersebut, maka pada 6 Januari 1947 dilakukanlah evakuasi pasukan TRI dan para pejuang keluar kota Palembang.

Ada tiga arah pemunduran pasukan yaitu ke Langkan, Indralaya, dan Simpang Rambutan.

Pemunduran pasukan itu juga telah memungkinkan TRI membentuk front pertahanan baru di luar kota Palembang.

Front Pertahanan itu menjadi modal untuk mempertahankan diri pada aksi militer Belanda I. Secara geografis pemunduran pasukan TRI  telah menutup Belanda yang berada di dalam kota Palembang, baik dari sisi kanan, tengah maupun kiri, yang lazim disebut front kanan, tengah dan front kiri.  Satu-satunya jalur yang dapat digunakan Belanda adalah jalur sungai Musi. Dudy Oskandar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pelayanan Publik di Sumsel Perlu di Optimalkan

  Palembang, BP Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tentang Pengelolaan Pelayanan ...