Home / Headline / Sri Nurherwati: Tidak Seorang pun Wanita Ingin Jadi Pedila

Sri Nurherwati: Tidak Seorang pun Wanita Ingin Jadi Pedila

Diskusi di ruangan wartawan DPR.

Jakarta, BP–Komisioner Komnas Perempuan Sri Nurherwati menegaskan, tidak seorang pun wanita rela menjadi penjaja seks sebagai pekerjaan.  Mereka sadar pekerja seks komersial  melanggar norma agama dan adat istiadat. “Saya telah melakukan investigasi ke sejumlah lokalisasi prostitusi untuk menanyakan alasan  mereka terjun ke dunia pekerja seks. Hampir semua menyebut lantaran  persoalan KDRT dan dijebak menjadi pelacur, bukan untuk mendapatkan duit atau menikmati,” ujar Sri di ruangan wartawan DPR Jakarta, Selasa (19/2).

Menurut Sri, alasan sejumlah wanita pekerja seksual demi mendapatkan uang banyak untuk  hidup mewah sengaja  diciptakan untuk menutupi kelemahan tadi. Dalam teori psikologi disebutkan kalau seseorang  dipermalukan, energinya  menjadi nol sehingga tidak memiliki daya.

“Kami dari Komnas Perempuan sepakat tidak ada perempuan  yang ingin menjadi pekerja seks komersial,  kami lebih setuju menyebutnya    sebagai pedila (perempuan yang dilacurkan)”.

Sri menambahkan, dalam dunia prostitusi para Pedila  berhadapan dengan kekuatan besar  menghadang mereka ke luar dari lingkaran prostitusi. Sebenarnya mereka ingin keluar dari situasi itu,  tapi tidak memiliki mekanisme yang pas agar diterima kembali di tengah masyarakat.

Dikatakan,   Komnas Perempuan sudah mengusulkan supaya  pengguna Pedila   dikenai hukuman, sementara untuk perempuan yang terjebak di dalam prostitusi harus dilakukan perlindungan dan pemulihan. Tidak cukup hanya menyiapkan mesin jahit , alat kosmetik atau pemberian ekonomi   tetapi juga bagaimana mekanisme di masyarakat untuk bisa menerima mereka kembali , supaya mereka bisa menikmati hak hidup. “Itu yang penting untuk dipikirkan,  supaya di dalam proses penegakan hukum, tidak hanya berhenti pada proses penegakan hukum yang memenuhi unsur tetapi pola investigasi,” jelasnya.

Anggota Komisi III Nasir Djami menjelaskan,  UU KUHP yang sedang direvisi  harus mengatur  pelaku, pengguna dan mucikari prostitusi.

“Sulit mengenakan pasal prostitusi online kepada penjajah, penikmat dan mucikari, karena belum diatur dalam KUHP,” tegas  Nasir Djamil.

Nasir mengakui bertemu dengan pejabat kepolisian soal maraknya prostitusi online. Polisi menyebutkan, sejumlah artis  penjaja seks melakukan prostitusi  untuk mendapatkan uang banyak demi gaya hidup. #duk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Royana Terharu, SLB Negeri Kabupaten PALI Mulai Belajar

PALI,  BP Kegiatan belajar-mengajar sudah dimulai di Sekolah Luar Biasa Negeri Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Untuk yang pertama ...