Home / Headline / Jalan-Jalan ke Kawasan Sayangan, Sambil Belajar Sejarah

Jalan-Jalan ke Kawasan Sayangan, Sambil Belajar Sejarah

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana kegiatan Heritage Walk 8  bertemakan “Sayangan”, Sabtu (16/2).

Palembang, BP

Ragam cara bisa dilakukan untuk mengenali dan mencintai kota yang kita tinggali. Mulai dari hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga fasilitas umum, menaati peraturan lalu lintas, atau terlibat aktif dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan pemerintah setempat.

Selain itu, cara mencintai kota yang kita tinggali juga bisa dengan belajar sejarahnya. Dengan mengenal sejarahnya, diharapkan akan menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap kota tersebut.

Menyinggung soal sejarah, kalian mungkin akan terbayang buku-buku sejarah yang tebal tanpa gambar,  untuk membayangkannya saja akan membuat kita ngantuk. Namun belajar sejarah tidak harus dengan membaca buku-buku sejarah namun dengan cara jalan-jalan sambil belajar sejarah.

Di Palembang, ada sebuah komunitas yang dibentuk untuk belajar bersama mengenal sejarah kota Palembang , yakni Komunitas Cagar Budaya Palembang .

Komunitas ini mengajak semua kalangan terutama anak-anak muda  Palembang  belajar mengenal kotanya sendiri dengan cara yang kekinian dan menyenangkan. Salah satu caranya dengan mengenalkan sejarah kota Palembang mulai dari tempat-tempat bersejarah, peninggalan gedung-gedung dan bangunan-bangunan  tua berarsitektur khas Palembang tempo dulu hingga era kolonial, cerita-cerita zaman dahulu, atau ragam peristiwa yang terjadi di masa lampau.

Mungkin, kalian orang Palembang pernah berfoto atau melewati daerah  Sayangan yang dulu adalah kawasan pemukiman zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Tapi, tahukah asal mula daerah Sayangan  ini?

BP/IST
Sejarawan Palembang Kemas Ar Panji menerima penghargaan dari Komunitas Cagar Budaya Palembang, Sabtu (16/2).

Disekitar daerah Sayangan dimulai dari pangkal Simpang Empat kelurahan 17 Ilir (Jalan Segaran, Jalan . T.P. Rustam Efendi, Lorong. Gubah Laut dan Jalan Sayangan) terus membentang ke arah sungai Musi – Simpang Tiga (Jalan Sayangan, Jalan Pasar 16 Ilir, dan Jalan  Ali Gathmir) namun pembahasan akan sedikit melebar karena keterkaitan Sayangan dengan Heritage Kesultanan Palembang, dengan kata lain akan membahas juga Heritage yang ada dari Sayangan hinga ke arah Jalan Jenderal Soedirman (Sungai Tengkuruk).

Segaran, Nama Segaran berasal dari nama tempat “Gogok Segaran” yang artinya Segaran = tempat penyegaran. Wilayah Segaran ini secara administratif masuk dalam kelurahan 15 Ilir dan diabadikan menjadi nama jalan di mulai dari depan Lorong. Kebangkan (9 Ilir) hingga persimpangan Jalan T.P. Rustam Efendi dan Lorong Gubah Laut (Kelurahan 17 Ilir).

Gubah Laut, Tempat kuburan berbentuk Kubah/Gubah, yang pada saat ini lebih dikenal dengan sebutan “Gubah Laut” karena posisinya yang mengarah ke arah sungai Musi sehingga wong Palembang menyebutnya Gubah Laut atau Gubah yang berada disebelah Laut, Sayangnya Gubah ini hanya tinggal namanya saja dan dijadikan nama lorong (Lorong. Gubah Laut).

T.P. Rustam Efendi, Tentara Pelajar (T.P.) Rustam Efendi adalah salah satu tokoh pejuang Palembang yang diabadikan nama jalan yang melintasi dari simpang Sayangan hingga ke Jalan Jenderal Sudirman (Simpang Ruko Martabak HAR).

Baca:  PZP Gelar Silaturahmi

Ketandan, adalah nama Kampung yang oleh masyarakat Palembang tempo dulu dengan sebutan Gugu’ (Gogok). Nama “Gogok Ketandan” = tempat tinggal Tandha/bendahara/petugas pajak. sekarang masuk di Kelurahan 17 Ilir, nama Ketandan  diabadikan menjadi nama sebuah lorong yaitu Lorong Ketandan.

Pasar Buah, Temenggung Palembang pada tahun 1950 – 1960  pembangunan pasar dikota Palembang terus dilakukan sehingga munculah beberapa pasar alternatif dari pasar 16 ilir (Pasar Utama) : berikut ini nama-nama pasar yang dibangun Lingkis (Cinde), Kertapati, Lemabang, Kuto, dan Pasar Buah  (lokasi pasar buah berada diantara Jalan. Sayangan/ Tp. Rustam Effendi/Kol. Atmo/Masjid Lama). Kemudian pada tahu 1970-an dibangun pula Pasar 10 Ulu.

Purban, Nama purban berasal dari nama “Gogok Purban” yang artinya sebagai tempat tinggal Pangeran Purbaya. Dan secara Administratif dalam pemerintahan kota Palembang masuk di Kelurahan 16 ilir. Nama Kampung Purban ini diabadikan menjadi nama jalan yang terbentang diari persimpangan Jalan Sayangan dan Lorong Himalaya – hingga ke persimpangan Jalan Kebumen/Kebumen Darat, sehingga masyarakat Palembang menyebutnya sebagai Jalan Purban.

Himalaya, Nama Himalaya ini diambil sebagai warisan masa penjajahan Jepang, sehingga diabadikan menjadi nama sebuah lorong yang berada di persimpangan antara  Jalan Sayangan, dan Jalan Purban serta Lorong. Himalaya.

Kebumen, berasal dari nama “Kampung/Gogok Kebumen” kata Kebumen = tempat tinggal Mangkubumi (16 ilir)”.

Masjid Lama, Jalan yang membentang dari pangkal simpang tiga Sayangan dan melewati wilayah pasar burung hingga ke Bundaran Air Mancur Palembang depan Masjid Agung Palembang, kita akan ketemu dengan namaJalan Masjid Lama”. Seringkali kita dihadapi dengan kekeliruan dan salah tafsir, bahwa nama jalan Masjid Lama ini diabadikan oleh masyarakat Palembang untuk mengenang bahwa dahulu sebelum dibangunnya Masjid Agung Palembang telah ada sebuah masjid lain yang dibangun oleh Sultan Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayidul Imam, yang memindahkan Keraton kesultanan Palembang Darussalam ke kawasan Beringin Janggut serta membangun sebuah masjid.

Beringin Janggut, adalah nama tempat atau bekas wilayah Keraton Kesultanan Palembang yang dibangun oleh Sultan Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayidul Imam. Nama Kuto Beringin Janggut saat ini diabadikan oleh wong menjadi nama jalan didepan toko Jaya Raya Elektronik dan DikaShoping Center (Jalan Beringin Janggut).

Kepandean = nama kampung Kepandean berasal dari nama “Gogok Kepandean” yang artinya sebagai kampung atau tempat Pandai Besi. Secara Administratif wilayah masuk di Kelurahan 18 ilir.

Kuto Cerancangan, Istana Kuto Cerancangan adalah nama salah satu istana/keraton yang ada dan dibangun pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, berikut adalah Nama-nama istana/keraton Kesultanan Palembang yang dikenal dengan sebutan Istana/keraton Kuto Gawang (1 Ilir/Tower pertama PT Pusri), Istana Kuto Cerancangan, Istana Kuto Lamo/KutoTengkuruk (Kuto Kecik) dan Istana Kuto Anyar (Kuto Besak) yang saat ini lebih populer dengann sebutan Benteng Kuto Besak.

Baca:  Pelabuhan Orang TAA Pindah Ke Pelabuhan Boom Baru

Kuto Cerancangan merupakan kelanjutan keraton Palembang pasca Keraton Kuto Gawang di Palembang Lamo atau tepatnya di lokasi Pabrik PT Pusri saat ini yang dibakar habis oleh VOC akibat pertempuran melawan VOC Belanda dalam tahun 1659.

Sultan Abdurrahman (1659-1706), kemudian memindahkan Keraton kesultanan Palembang Darussalam ke kawasan Beringin Janggut serta membangun masjidnya. Selanjutnya tidak lama kemudian, oleh Sultan Agung Komarudddin (1714-1724) anak Sunan Abdurrahman Candi Walang dibangunlah keraton Kuto Cerancangan.

Nampak suasana yang akrab dam menyenangkan saat kegiatan tersebut berlangsung, selama perjalanan banyak  peserta acara bertanya kepada nara sumber seputar kawasan Sayangan dan sekitarnya , kebanyakan mereka malah belum mengetahui sejarah kawasan Sayangan tersebut.

Menurut Robby Sunata didampingi Anita Raharjeng yang merupakan  pelaksana kegiatan Heritage Walk 8 ini menjelaskan kegiatan Heritage Walk 8 yang bertema “Sayangan” kali ini  sesuai dengan namanya, kegiatan ini dilaksanakan dengan berjalan menyusuri lokasi lokasi bersejarah di daerah sayangan.

“Narasumber kegiatan ini adalah Bapak Kemas A R Panji, S.Pd.M.Si seorang penggiat budaya Palembang. Beliau adalah dosen di fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang,” katanya.

Kegiatan ini menurutnya, mendapatkan dukungan penuh dari Komunitas Cagar Budaya Palembang, Komunitas Himpunan Pramuwisata Palembang, Genpi Palembang  termasuk Komunitas Pecinta Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Univesitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah (RF) Palembang.

“Acara dimulai pukul 09.00 dan diakhiri dengan makan siang bersama di rumah makan Padang Kharisma. Kak Agus sebagai pemilik Rumah makan Padang Kharisma dan Kak Agus sebagai pemilik toko kopi dan rumah makan Padang Kharisma dan P.O Batanghari Wisata berkesempatan juga untuk memperkenalkan produk wisatanya berupa jalan-jalan di daerah wisata di kota palembang,” katanya.

Selain itu menurutnya, peserta kegiatan ini diikuti sekitar 70 orang dari berbagai kalangan seperti dari  mahasiswa dan dosen UIN Raden Fatah, Sahabat Cagar Budaya, Himpunan Pramuwisata Indonesia dan masyarakat umum lainnya.

Sejarawan Palembang, Kemas A.R. Panji menjelaskan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam (KPD), Palembang adalah Ibukotanya, akan tetapi pada masa pemerintah kolonial Belanda dirombak secara total dari sisi penggolongan kotanya dengan sistim penomoran.

Pada awalnya wilayah pemukiman penduduk kota Palembang, di zaman Kesultanan lebih dari sekedar pemukiman yang terorganisir.

Pemukiman pada waktu itu adalah suatu lembaga persekutuan dimana patronage dan paternalis terbentuk akibat struktur masyarakat tradisional dan feodalistis. Keseluruhan sistem ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi.

Sistem ini dikenal dengan nama gugu’ (gogok). Kosakata gugu’ berasal dari jawa – Kawi yang berarti; diturut, diindahkan. Setiap gogok mempunyai sifat sektoral ataupun aspiratip.

“Sekedar untuk pengertian meskipun tidak sama, bentuk gogok ini dapat dilihat dengan sistem gilda pada abad pertengahan di Eropa. Contoh nama wilayah pemukiman yang dikenal sebagai Sayangan, adalah wilayah dimana para Miji dan Alingan (struktur paling bawah dari golongan penduduk kesultanan) yang memproduksi hasil-hasil dari bahan tembaga. Sayangan artinya pengerajin tembaga (Jawa Kawi),” katanya.

Baca:  Ini Progres TMMD Ke 104 Di Kampung Sungai Rengas Hingga Kini

Produksi ini dilakukan atas perintah dari bangsawan yang menjadi pimpinan gogok yang menjadi pelindung terhadap kedua golongan baik miji maupun alingan (orang yang dialingi/dilindungi).

Hasil produksi ini merupakan income bagi sultan dan kesultanan. Contoh lain dalam adalah wilayah pemukiman mengindikasikan wilayah gogok, yaitu kepandean adalah rajin atau pandai besi, pelampitan adalah perajin lampit, demikian juga dengan kuningan adalah perajin pembuat bahan-bahan dari kuningan. Pemukiman ini dapat pula bersifat aspiratif, yaitu satu gogok yang mempunyai satu profesi atau kedudukan yang sama, seperti gogok Pengulon, pemukiman para pendahulu dan alim ulama disekitar Mesjid Agung.

BP/IST
Suasana diskusi di salah satu rumah makan di kawasan Sayangan, Palembang bersama komunitas Cagar Budaya Palembang

Demikian pula dengan kedemangan, wilayah dimana tokoh demang tinggal, ataupun kebumen yaitu tempat tempat dimana Mangkubumi menetap. Disamping ada wilayah-wilayah dimana kelompok tertentu bermukim, seperti Kebangkan adalah pemukiman orang-orang dari Bangka, Kebalen adalah pemukiman orang-orang dari Bali.

Setelah Palembang dibawah adminstrasi kolonial, maka oleh Regering Commisaris J.I Van Sevenhoven sistem perwilayahan gogok harus dipecah belah.

Pemecahan ini bukan saja memecah belah kekuatan kesultanan, juga sekaligus memecah masyarakat yang tadinya tunduk kepada sistem monarki, menjadi tunduk pada administrasi kolonial.

Gogok dijadikan beberapa kampung. Sebagai kepala diangkat menjadi Kepala Kampung, dan di Palembang dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Untuk mengepalai wilayah tersebut diangkat menjadi Demang.

Demang adalah pamongraja pribumi yang tunduk kepada controleur. Kota Palembang pada waktu itu terdiri dari 52 kampung, yaitu 36 kampung berada di seberang ilir dan 16 kampung di seberang Ulu. Kampung-kampung ini diberi nomor yaitu dari nomor 1 sampai 36 untuk seberang ilir, sedangkan seberang ulu dari 1 sampai 16 ulu.

Pemberian nomor-nomor kampung ini penuh semangat pada awal pelaksanaannya, tetapi kemudian pembagian tidak berkembang malah menyusut. Pada tahun 1939 kampung tersebut menjadi 43 buah kampung, dimana 29 kampung berada diseberang ilir dan 14 kampung berada di seberang ulu.

Dapat diperkirakan penciutan adminstratif kampung ini karena yang diperlukan bukanlah wilayahnya, tetapi cacah jiwanya yang ada kaitan dengan pajak kepalanya. Sehingga untuk itu digabungkanlah beberapa kampung yang cacah jiwanya minim, dan cukup dikepalai oleh seorang Kepala Kampung.

Oleh karena Kepala Kampung hanya mengurus penduduk pribumi, maka untuk golongan orang Timur Asing, mereka mempunyai Kepala dan wijk tersendiri. Untuk golongan Cina, kepalanya diangkat dengan kedudukan seperti kepangkatan militer, yaitu Letnan, Kapten dan Mayor.

“Demikian pula dengan golongan Arab dan Keling (India/Pakistan) dengan kepalanya seorang Kapten. Untuk kedudukan kepala Bangsa Timur Asing, biasanya dipilih berdasarkan atas pernyataan jumlah pajak yang akan mereka pungut dan diserahkan bagi pemerintah disertai pula jaminan dana begi kedudukannya,” katanya. Dudy Oskandar

 

 

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Satgas TMMD Ke 104 Kodim 0418Palembang Buat Tugu TMMD di Pulokerto

Palembang, BP   Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 104 Kodim 0418/Palembang membuat tugu TMMD yang berlokasi di RT 23 ...