Home / Headline / Ikhtiar Dalam Menggapai Cita-cita

Ikhtiar Dalam Menggapai Cita-cita

Oleh : Muhammad Ridwan, SH, MH (Caleg PKS Kota Palembang)

 

Apa Itu Ikhtiar? 

KATA ikhtiar diambil dari bahasa Arab, yakni ‘ikhtaara‘ yang artinya memilih. Sementara dalam bentuk kata kerja, ikhtiar berarti pilihan atau memilih hal yang baik (khair). Sedangkan menurut istilah, ikhtiar adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya dalam usaha mendapatkan yang terbaik, agar tujuan hidupnya selamat sejahtera di dunia dan di akhirat.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (Q.S. Ar-Ra’d:11)

“ Barangsiapa mati sedangkan ia belum pernah berjihad, dan ia tidak bercita-cita untuk berjihad, maka kematiannya pada salah satu cabang kemunafikan “ ( H.R. Muslim ).

Bercita-citalah!

Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang zuhud, senang beribadah dan berjihad, suatu kali pernah berkata. “Sesungguhnya jiwaku adalah jiwa yang mempunyai banyak cita-cita“.
Dia pernah bercita-cita menjadi amir, dia telah mendapatkannya. Dia bercita-cita menjadi seorang khalifah, juga telah didapatkannya. Selanjutnya, cita-citanya adalah surga, dan beliau berharap mendapatkannya.

Baca:  DPRD Sumsel Mengingatkan Perusahaan di Sumsel Agar Sisihkan CSR

Sejarah membuktikan, orang-orang besar umumnya memiliki cita-cita tinggi. Tapi bukan hanya itu, mereka berikhtiar mewujudkan apa yang mereka cita-citakan dengan segenap upaya dan kesungguhan, dan umumnya mereka mampu meraih cita-cita yang telah mereka canangkan.

Ada kisah lain, tentang empat pemuda dengan cita-cita mereka. Suatu kali, Abdullah bin Umar, Urwah bin Zubair, Mushab bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan ra. berkumpul di pelataran ka’bah. Mushab yang bicara pertama kali dengan mengatakan,”Bercita-citalah kalian.” Sahabat yang enggan mengatakan cita-citanya, meminta Mushab terlebih dulu menyampaikan cita-citanya. Mushab bertutur,”Aku ingin kaum muslimin bisa menaklukkan wilayah Irak, aku ingin menikahi Sakinah puteri Husein dan Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah.” Dan Allah SWT memperkenankannya memperoleh apa yang ia cita-citakan.

Urwah bin Jubair kemudian menceritakan cita-citanya. “Aku ingin menguasai ilmu fiqih dan hadits.” Subhanallah, Urwah kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh ulama fiqih dan banyak meriwayatkan hadits. Abdul Malik bin Marwan mengungkapkan cita-citanya. Ia menyatakan keinginannya untuk menjadi khalifah. Dan Abdul Malik bin Marwan kemudian menjadi khalifah di masa Daulah Umawiyah yang dikenal sebagai khalifah yang memiliki ilmu yang luas dan taat beribadah. Terakhir, Abdullah bin Umar menegaskan cita-citanya. Tahukah apa cita-cita Abdullah bin Umar? Cita-citanya adalah, surga! Dan kalian tentu tahu bagaimana akhir hidup Abdullah bin Umar.

Baca:  Angkat Kejayaan Kerajaan Sriwijaya Melalui Tehnologi Audio Visual

Ambillah hikmah terbaik dari kisah itu. Apa yang menjadi cita-cita mereka? Cita-cita yang tinggi dan besar. Apakah engkau mengetahui, bagaimana mereka bisa mencapai cita-cita itu? Mereka mencapainya dengan ikhtiar yang maksimal, penuh perjuangan dan pengorbanan yang sungguh-sungguh diiringi dengan mental yang luar biasa. Kekuatan tekad yang mereka miliki disertai dengan kerja keras juga doa kepada Allah SWT membuat mereka mampu mencapai apa yang mereka inginkan.

Karena itu, bercita-citalah! Pancangkan cita-citamu setinggi mungkin. Iringi ia dengan kesungguhan ikhtiar, perjuangan dan pengorbanan untuk menngapainya. Semoga Allah SWT merahmatimu dengan memperkenankan cita-cita itu terwujud. Satuhal, bercita-citalah! Bukan hanya untuk duniamu, tapi juga untuk akheratmu. Rasulullah bersabda, “Dan jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga firdaus, sebab dia adalah surga yang paling tinggi.”

Ingatlah bahwa untuk menggapai cita-cita, tujuan, atau harapan dalam hidupnya manusia senantiasa berusaha (ikhtiar). Agar usahanya terasa maksimal, dibuatlah berbagai program, target, atau langkah-langkah yang ditempuh, selanjutnya fokus.

Baca:  Perindo Gencarkan Fogging Tiap Akhir Pekan

Fokuskan pada kelebihan, pada apa yang kita miliki untuk mampu mendahsyatkan potensi meraih cita-cita. Seperti kaca pembesar yang mengumpulkan sinar pada satu titik untuk dapat membakar. Mengapa fokus penting? Karena setiap kita memiliki kekhasan masing-masing. Contohnya Hasan bin Tsabit ia tak pandai melantunkan adzan, karena ia bukan Bilal. Khalid bin Walid tidak pintar membagi warisan karena ia memang bukan Zaid bin Tsabit yang pakar di bidang faraidh. Imam Sibawaih yang pakar Nahwu merasa gundah saat belajar ilmu hadits karena ia bukan Imam Bukhari yang siap berhari-hari menempuh perjalanan panjang demi mendapat hadits untuk diseleksi.

Kita haruslah menyadari bahwa setiap kita memiliki keterbatasan-keterbatasan. Namun, di balik keterbatasan itulah tersimpan kelebihan. Bila kita berpikir positif, sesungguhnya dengan keterbatasan itulah seseorang bisa “bersyukur” untuk meledakkanya menjadi keluarbiasaan. Kuncinya adalah selalu bersyukur sehingga selalu fokus pada apa yang dimiliki. Karenanya fokuskan pada apa yang ada, jangan risau pada yang tiada. Bersyukurlah. Dan teruslah berikhtiar untuk sebuah cita-cita yang diridhoi-Nya.#osk

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Tak Diberi Uang Untuk Beli Shabu, Nyaris Bunuh Ibu Kandung

Palembang, BP–Lantaran tak diberi uang untuk membeli shabu dan ponsel, Priyansah alias Yansah (28) nyaris membunuh ibu kandungannya, Suwarti (80). ...