Home / Headline / DPRD Sumsel Minta Gubernur Sumsel Tunda Peresmian Nama Masjid SMB

DPRD Sumsel Minta Gubernur Sumsel Tunda Peresmian Nama Masjid SMB

BP/IST
Masjid Agung Palembang

Palembang, BP

Jajaran pimpinan dan pengurus Persatuan Zuriat Palembang (PZP) pusat bersama-sama berbagai unsur seperti Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Sumatera Selatan (Sumsel), MSI kota Palembang, Forum Beroyot  Palembang, Angkatan Muda Pembaharuan Sriwijaya (AMPS) , Lembaga Budaya Ulu, Melayu (LBUM)  yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat  Zuriat Palembang Darussalam (AMZPD), Yayasan Kesultanan Palembang Darussalam  tetap menolak atas pemberian nama Masjid Agung Palembang menjadi Masjid Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) Hal tersebut dianggap menghilangkan sejarah kota Palembang dan pendirian Masjid Agung Palembang sendiri.

      DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) prihatin dengan kondisi tersebut dan meminta  Gubernur Sumsel menunda peresmian plang nama Masjid SMB tersebut.

“Pokok masalahnya Kesultanan yang ada isinya ada SMB I, SMB II dan lainnya bagus dikembalikan kesana tekankan ,” kata anggota Komisi I DPRD Sumsel Elianuddin HB , Kamis (31/1).

      Dia mengusulkan nama Masjid Agung Palembang di kembalikan dalam registrasi nasional yang tetap mencantumkan nama Masjid Agung Palembang.

“ Kita ingin nama Masjid Agung dikembalikan ke registrasi nasional, kalau mau di ubah cakupanya  harus luas karena itu Kesultanan Palembang, harusnya jadi Masjid Agung Kesultanan Palembang , selesai khan atau dikembalikan ke nama Masjid Agung Palembang di registrasi nasional jadi tidak usah lagi diperdebatkan dan di persoalkan, kapan lagi kita maju kalau ribut soal nama,” katanya.

      Selain itu pihaknya mendesak Gubernur Sumsel menyelesaikan dulu permasalahan tersebut sebelum meresmikan plang nama Masjid Agung Palembang.

“ Jangan jadi polemik berkepanjangan ,” katanya.

      Dan DPRD Sumsel meminta permasalahan ini di selesaikan secepatnya dan sebaik-baiknya.

“ Gubernur harus menunda dulu peresmian plang nama Masjid Agung , jangan grasa grusu, ini bukan soal penamaan saja tapi milik masyarakat Sumsel yang sudah tertulis dalam regnas, kita perlu ada demo-demo ini tempat suci tempat kita menyembah Allah ,” katanya.

Baca:  KPU Sumsel Gelar Rapat Pertanggung Jawaban Pengelolaan Dana Hibah Pilgub

Sedangkan Wakil Ketua Komisi III DPRD Sumsel yang juga tokoh masyarakat Jawa di Sumsel , Agus Sutikno meminta agar permasalahan penamaan Masjid Agung Palembang cepat selesai.

      “Mestinya jujur saja  berkaca pada sejarah,”katanya.

    Sebelumnya   Ketua MSI cabang Sumsel Farida R Wargadalem mengakui kalau memang tidak ada kata I dan II namun fakta sejarah tidak bisa di nafikkan  ada SMB II yang sudah di akui sebagai pahlawan nasional.

“Kita khan mendidik masyarakat untuk masa kini dan masa akan datang , kalau kita sendiri membuat itu rancu, makmana kedepannya, itu  cara berpikir yang perlu kita pikirkan,” katanya.

       Dirinya juga menyampaikan harusnya ada diskusi sebelum memutuskan nama Masjid SMB namun mereka (Pengurus Yayasan Masjid Agung , Palembang) bilang sudah keputusan bersama dan tidak mungkin menghilangkannya.

“Betul tapi alangkah bagusnya mendengar semua pihak, buktinya ada reaksi, kalau tidak ada apa-apa tidak mungkin ada reaksi, makin banyak yang bereaksi itu menunjukkan orang memiliki perhatian yang besar, orang merasa memiliki, itu bagus,” katanya.

      Selain itu nama SMB  tidak bisa diwakilkan SMB I dan SMB II, karena sosok SMB I dan SMB II adalah sosok yang sama-sama hebat.

 “Bener,itu bener, tapi  kita ada fakta sejarah, kita punya SMB II lantas satunya kemana?, mereka menganggap kalau di buat satu dan dua adalah anaknya, tidak bisa macam begitu, aku paling tidak suka dengan menulis SMB  itu sudah mewakili keduanya , tidak bisa,  fakta sejarah itu tidak bisa di wakili, apalagi menyangkut tokoh, tidak bisa,” katanya.

      Dia juga mengritik prasasti peresmian plang Masjid SMB dianggap dibuat secara subjektif.

Baca:  DCT DPRD Provinsi Sumsel 1014 Orang

“ Misalnya ada tulisan masjid Agung di bangun  Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Bin Muhammad Mansyur Bin Sultan Susuhunan Abdurahman Candi Walang, menambahkan Candi Walang di Abdurahman didalam prasasti, itu patal, dasarnya apo menambahkan Candi Walang ke Sultan yang begitu luar biasa membangun Palembang  diatas puing-puing kehancuran akibat perang dengan VOC,” katanya.

      Kesalahan lain di prasasti tersebut adalah SMB Jayo Wikramo ini  adalah alim ulama , Khalifatul Mukminin Syaidul Imam menurutnya dasarnya apa?

      “Dalam prasasti itu juga dijelaskan kalau Masjid Agung Palembang ini sudah di restorasi dan di  kembalikan pada bentuk aslinya.

“ Asli yang mana yang asli, apa dasar kita bilang dikembalikan pada bentuk aslinya, aku tanya , siapa yang mampu menunjukkan ini aslinya, namanya asli tidak ada perubahan, itu asli, “ katanya.

Malah Ketua PZP Pusat Iskandar Sulaiman ketika akan memberikan komentarnya sempat tidak bisa berbicara lantaran menahan emosinya atas kondisi Masjid Agung Palembang saat ini.

Dan meminta rekannya Abdul Roni untuk memberikan komentarnya namun akhirnya Iskandar Sulaiman berkomentar.

“ Kami jelas-jelas menolak  pemberian nama SMB  itu sangat sangat tidak tepat, karena pendirian Masjid Agung itu SMB I Jayo Wikramo, itu tidak bisa di tolak dan bahan bangunan pembuatan Masjid Agung bukan semen tapi dari kapur, kalau mereka menyatakan nama itu Masjid SMB kami jelas menolak,” katanya.

Selain itu SMB I saat itu sebagai sultan dia juga mengembangkan Islam disitulah beliau memiliki pemikiran membuat Masjid Agung atau Masjid Sultan.

        “ Kalau mereka sebut itu Masjid SMB itu hal yang melecehkan dan mereka tidak paham siapa pendiri Masjid Agung Palembang, masalah Sultan SMB I itu sudah jelas punya peran besar di Kesultanan Palembang karena Sultan SMB I sebetulnya dari Sultan Muhammad Masyur ke Pangeran Purboyo sebagai sultan pertama pada saat  mau dilantik Purboyo meninggal diambil alih oleh Sultan Muhammad Mansyur dan diserahkan ke adiknya Pangeran Komarudin, tidak mampu dikembalikan Sultan Muhammad Mansyur lalu diserahkan  kepada SMB I dan antara SMB I dan SMB II itu jaraknya terlalu jauh dan kenapa mereka harus samakan,  tidak bisa, kami menolak tegas , dan saya harapkan tidak ada peresmian tanggal 2 Februari,” katanya.

Baca:  Pemuda NKRI Sumsel Gelar Dialog Interaktif Peringati May Day

Sedangkan sejarawan kota Palembang Kemas Ar Panji  mengatakan,  dalam registrasi nasional nama Masjid Agung Palembang sudah terdaftar dengan keluarnya nama Masjid Agung Palembang menjadi Masjid SMB maka posisinya akan makin repot.

“ Polemik ini muncul kalau tidak ada keinginan untuk mengganti itu tidak ada masalah, menjadi masalah ketika mengganti ingin merubah dan salah, sehingga menimbulkan reaksi kalau hanya Masjid SMB itu menimbulkan salah tapsir dan gagal paham tadi, “ katanya.

Menurutnya pengurus Masjid Agung Palembang membuat blunder sendiri, kalau pihak Yayasan Masjid Agung Palembang membuka pikiran  ada space kosong antara nama dan logo tinggal tambah angka I  dan masalah ini bisa selesai.

“ Kalau mereka tidak mendengar , terpaksa kita menggunakan cara seperti, makin banyak orang menolak makin banyak orang yang memiliki Masjid Agung  ini, jelas Masjid Agung ini bukan milik pribadi, Yayasan sekarang ini mereka hanya pengelola, Masjid Agung itu adalah masjid sultan yang diwarisakan turun temurun ke anak cucu , ya kita-kita ini  namun dikelola atas nama Yayasan Masjid Agung Palembang, jangan gagal paham , kalau mereka mengklaim sebagai pengurus dan berhak , tidak bisa mereka klaim seperti itu, kita semua berhak atas Masjid Agung Palembang,” katanya.#osk

     

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

431 Jamaah Haji Kloter 5 Tiba di Baturaja

Baturaja, BP — Sebanyak 431 dari 432 jamaah haji asal Kabupaten OKU yang tergabung dalam Kloter 5 hari ini tiba ...