Home / Headline / Sejarah Masjid Agung Palembang

Sejarah Masjid Agung Palembang

BP/DUDY OSKANDAR
Syafruddin Yusuf

Oleh :  Syafruddin Yusuf, Sejarawan Sumsel

SALAH satu bangunan monumental peninggalan sejarah masa kesultanan Palembang adalah Masjid Agung Palembang yang dibangun pada pertengahan abad ke 18. Pada masa kesultanan Masjid ini disebut masyarakat dengan nama  masjid Sultan. Posisi bangunan ini memang berada di luar Benteng Kuto Besak dan dahulu merupakan  pusat kegiatan keagamaan. Pasca penghapusan kesultanan Palembang (1825), masjid ini  berganti nama menjadi Masjid Agung yang dikenal masyarakat sampai saat ini. Pada tahun ini rencananya (2 Pebruari 2019) nama masjid Agung tersebut akan diganti menjadi “Masjid Sultan Mahmud Badaruddin”.

Memang bila dibaca sepintas sepertinya tak ada masalah pemakaian nama tersebut. Namun dilihat dari aspek sejarah pemberian nama tersebut sangat penting karena menyangkut figur tokoh dan peran tokoh tersebut dalam aktivitasnya di masa lalu. Sejauhmana tokoh tersebut berperan dalam menjalankan pemerintahan di kesultanan Palembang. Pengalaman kita dalam memberikan nama jalan di Palembang pernah mengalami kekeliruan. Nama tokoh yang menjadi musuh Republik di Sumsel pada masa Revolusi, justru diabadikan pada sebuah nama jalan di daerah Sukabangun. Saya sendiri tidak tahu siapa yang mempunyai kewenangan dalam pemberian nama tersebut ? Demikian pula dengan Masjid Agung Palembang menjadi  “Masjid Sultan Mahmud Badaruddin”, siapa yang berwenang apakah pengurus Masjid Agung Palembang atau Pemerintah Kota Palembang ? Karena ini menyangkut nama yang penting maka sebaiknya ada pertemuan dulu dengan tokoh-tokoh masyarakat yang berkompeten sebelum nama itu diresmikan, supaya tidak digugat oleh anak cucu kita di kemudian hari.

Baca:  4 Anggota DPRD Sumsel Maju Ke DPR RI

 

Dalam catatan sejarah Palembang  “Sultan Mahmud Badaruddin” adalah  gelar untuk raja Palembang. Orang pertama yang memakai gelar tersebut adalah Raden Lambu. Beliau adalah anak dari Sultan Muhammad Mansyur, raja kedua dari Kesultanan Palembang. Gelar yang lengkap dari Raden Lambu tersebut adalah Sultan Mahmud Badaruddin Jayowikramo. Dalam sejarah Palembang raja ini termasuk raja yang paling sukses dalam membangun kesultanan Palembang. Salah satu penyebabnya adalah keberhasilannya dalam menjalankan politik diplomasi dengan Belanda. Sikap Politik ini berbeda dengan kerajaan lain di nusantara yang pada umumnya melaksanakan politik konfrontatif dengan Belanda. Keberhasilan diplomasi inilah yang menyebabkan SMB Jayowikramo berhasil mengumpulkan kekayaan kerajaan yang luar biasa banyaknya. Kekayaan yang banyak inilah yang memungkinkan  ia dapat membangun Palembang dengan bangunan monumental seperti BKB , Kawah Tekurep dan tentu saja  Masjid Agung Palembang. Masa SMB Jayowikramo ini, kesultanan Palembang mencapai puncak kebesarannya dan berdaulat penuh atas wilayahnya

Orang kedua yang memakai gelar ini adalah Raden Hasan. Ia adalah anak dari Sultan Muhammad Bahauddin cucu dari Sultan Mahmud Badaruddin Jayowikramo. Jadi Raden Hasan adalah turunan ketiga dari SMB Jayowikramo. Pemakaian gelar Sultan Mahmud Badaruddin oleh Raden Hasan, karena ia berkeinginan untuk mengembalikan kejayaan Palembang seperti sebelumnya.  Berbeda dengan Buyutnya SMB Jayowikramo, masa Raden Hasan kedaulatan kesultanan Palembang mulai terancam dan diintervensi Belanda, karena itu ia menjalankan politik konfrontasi  dengan Belanda. Pembangunan pada masa itu diarahkan untuk kekuatan pertahanan Palembang guna menghadapi ancaman Belanda. Masa Raden Hasan ini Palembang diwarnai dengan peperangan baik melawan Inggris maupun Belanda.

BP/IST
Masjid Agung Palembang

Dari uraian singkat di atas, maka kedua nama tersebut layak diabadikan pada bangunan monumental di Palembang. Lantas nama siapa yang akan digunakan terhadap Mesjid Agung Palembang ? Ada empat kemungkinan yang akan dan dapat diberikan atas Masjid Agung  tersebut , yaitu :

  1. Sultan Mahmud Badaruddin (tanpa angka satu atau dua romawi)
  2. Sultan Mahmud Badaruddin I
  3. Sultan Mahmud Badaruddin Jayowikramo
  4. Sultan Mahmud Badaruddin II
Baca:  Massa  KAUKRP Tuntut Ke Gubernur Penyelesaian Sengketa Ketenaga Kerjaan Hingga Turunnya Harga Kelapa

Bila kita kaji, kalau nama pertama yang diberikan akan menimbulkan kerancuan dan kebingungan dari masyarakat. Dalam konteks sejarah Sesuatu yang tidak jelas merupakan pengaburan sejarah dan itu tidak boleh dilakukan. Pengaburan akan memungkinkan diteliti ulang dan akan mengalami perubahan sesuai dengan data terbaru yang ditemukan. Bukankah akan lucu jadinya nama yang sudah diresmikan kemudian berganti lagi ?

Bila nama Sultan Mahmud Badaruddin I yang digunakan, kurang tepat karena istilah satu hanyalah dipakai oleh masyarakat  sesudah naiknya SMB II. Tidak ada dokumen sejarah yang menyebutkan nama Sultan Mahmud Badaruddin  I., yang ada hanya nama SMB Jayowikramo.

Baca:  Aswari Resmi Gandeng Irwansyah

Bila nama SMB II, juga tidaklah tepat. Karena dari aspek sejarah kurun waktu memerintah SMB II tidak sezaman dan tidak mempunyai peran dalam pembangunan dan pengembangan Masjid Agung. Masa pemerintahannya lebih banyak disibukkan dengan persiapan perang menhadapi Inggris ataupun Belanda.

Menurut hemat saya, nama Sultan Mahmud Badaruddin Jayowikramo lebih tepat digunakan di bandingkan dengan yang lain, dengan pertimbangan:

  1. SMB Jayowikramo adalah orang yang membangun masjid tersebut.
  2. Pada masa pemerintahannya Palembang menjadi pusat kajian Islam dan Sastra Melayu Nusantara
  3. Pada masa pemerintahannya Palembang menjadi kota yang Darussalam ?
  4. Untuk memperkenalkan juga pada masyarakat bahwa SMB Jayowikramo tokoh besar dalam sejarah Palembang dan tidak sama dengan SMB II.
  5. Jangan menghilangkan nama dan peran tokoh tersebut, sehingga tokoh yang berjasa justru hanya sebagai pelengkap saja. Jadi jangan ragu untuk menggunakan nama Sultan Mahmud Badaruddin Jayowikramo sebagai nama Masjid Agung Palembang.

 

Demikian sebagai sumbangan pemikiran dalam polemik tentang nama baru Masjid Agung Palembang, semoga bermanfaat, dan kiranya dapat menjadi pertimbangan sebelum diputuskan dan diresmikan nama masjid agung tersebut. #

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Babinsa Sukamulya Sosialisasikan TMMD Ke Gapoktan Marjasuma

Palembang, BP Personel Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 418-08/Sako Peltu Dadang Dj melakukan sosialisasi kepada TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ...