Home / Headline / Peresmian Plang Nama Masjid Sultan Mahmud Badaruddin  Di Protes

Peresmian Plang Nama Masjid Sultan Mahmud Badaruddin  Di Protes

BP/IST
Plang Nama Masjid Agung Palembang  yang seharusnya  dituliskan dengan nama “Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I namun hanya dituliskan Masjid Sultan Mahmud Badaruddin.

# Dianggap Bentuk Distorsi (Penghilangan) Sejarah Palembang

 

Palembang, BP

Penamaan pada Plang Nama Masjid Agung Palembang  yang seharusnya  dituliskan dengan nama “Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo namun hanya dituliskan Masjid Sultan Mahmud Badaruddin saja menuai diprotes oleh sejumlah kalangan di kota Palembang.

Karena dianggap sebagai bentuk distorsi (penghilangan) sejarah Palembang dimana Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo adalah bapak pembangunan pembuatan  Masjid Agung Palembang.

Rencananya peresmian tersebut dilaksanakan, Sabtu ( 2/2)

dan dihadiri Gubernur Sumsel H Herman Deru.

“Membaca pemberitaan di beberapa media online dan koran hari ini, yang menyatakan tentang masukan bahwa sebaiknya penamaan pada Plang Nama masjid seharusnya dituliskan dengan nama “Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I”  saya secara pribadi, menyatakan setuju dengan tulisan di beberapa media sebagai bentuk penghormatan kita terhadap SMB (I) Jayo Wikramo sebagai salah sultan Palembang, dan orang yang telah berjasa dalam pendirian Masjid Agung Palembang,” kata sejarawan kota Palembang Kemas A.R. Panji, Senin (28/1).

Menurut dosen UIN Raden Fatah ini, melihat hasil pembangunan “Taman Masjid dan Rencana Peresmian Nama (Launching) nama masjid” dengan nama Masjid Sultan Mahmud Badaruddin (tanpa angka I romawi / atau nama belakang Jayo Wikramo) menurutnya kuranglah tepat, dan dapat menjadi salah tafsir (gagal paham) bagi sebagian masyarakat, jika kita tidak mencermati dengan hati-hati.

Baca:  Perindo Gencarkan Fogging Tiap Akhir Pekan

“Seringkali masyarakat akan menapsirkan bahwa masjid ini adalah masjid yang dibangun oleh SMB II (Pahlawan Nasional dari Palembang-Sumatera Selatan) yang namanya juga diabadikan sebagai nama Bandara Internasional di Palembang, secara umum masyarakat akan gagal paham dan salah penapsiran karena tidak mengerti akan sejarah pembangunan “Masjid Sultan” ini. Penandaan angka I Romawi adalah untuk menghindari kesalahanpahaman bagi generasi saat ini dan masyarakat bahwa Masjid ini dahulu dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin (I) Jayo Wikramo,” katanya.

Sebagai usul kongkrit menurutnya, ada beberapa alternatif untuk penamaannya; Pertama, diberi nama Masjid Sultan (Nama Awal saat dibangun). Kedua, Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I disingkat “Masjid SMB I”, atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo disingkat “Masjid SMB Jayo Wikramo” atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin (I) Jayo Wikramo (untuk Penghormatan Kepada Penggagas Pembangunan).

Ketiga, memakai nama Masjid Agung Palembang, yaitu Masjid Bersejarah dan terbesar di kota Palembang serta sudah sangat melekat di lidah masyarakat Palembang.

Baca:  ESP  Sebut Kinerja Di Palembang Banyak Turun

Sedangkan Ketua Dewan Kesenian Palembang yang juga budayawan Palembang , Vebri Al Lintani menilai pemberian nama masjid Sultan Mahmud Badaruddin, dapat dipahami bahwa penamaan sultan memang tidak ada nomor di belakangnya. Mahmud Badaruddin itu adalah gelar yang disandang Sultan.

Sepanjang sejarah pada waktu itu hanya ada 2 yaitu SMB Jayo Wikramo dan SMB Raden Hasan, namun untuk kepentingan identifikasi diberikan  angka romawi yang dibaca ke 1 dan ke 2.

BP/IST
Undangan peresmian Plang Nama Masjid Agung Palembang  yang seharusnya dituliskan dengan nama “Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I namun hanya dituliskan Masjid Sultan Mahmud Badaruddin.

Apabila disebut Masjid Agung SMB 1 sebenarnya bukan mengubah nama SMB tetapi mempertegas identitas yang mana yang dimaksud dalam tulisan nama masjid tersebut. 

Hal ini penting untuk menghargai jasa SMB 1 sebagai penggagas, pemrakarsa, pembangun dan peletak batu pertama Masjid Agung Palembang. Jika hanya disebut SMB saja maka imej orang umumnya akan ke SMB II yang sudah sangat populer . Maka saya setuju ditulis angka 1, atau dikembalikan pada nama aslinya sebagai Masjid Sultan dengan klasifikasi masjid agung,” katanya.

Sedangkan Wakil Ketua Komisi I DPRD Sumsel yang juga mantan Sekda kota Palembang H Husni Thamrin  mengatakan, seharusnya untuk penentuan nama Masjid Agung tersebut harusnya dilakukan diskusi dengan pihak terkait sebagai “Second Opinion”.

Baca:  Satgas TMMD Lakukan Penimbunan Jalan Tembus Sepanjang 2 Kilometer di Pulokerto

“ Dengan diskusi ini menambah wawasan kawan-kawan yang hadir dalam diskusi tersebut, kadang dalam diskusi itu  banyak mengupas hal-hal yang orang tidak tahu lalu menjadi tahu , aku setuju sebelum di resmikan , didiskusikan dulu, saran aku  bukan berdebat tapi berdiskusi mengupas sejarah,” katanya.

      Dan dalam permasalahan ini menurutnya tidak ada yang salah jadi tidak perlu di perdebatkan, semua betul semua.

“ Jadi aku lebih setuju memilih diskusi dulu sebelum di resmikan, karena dari diskusi manfaat positipnya adalah memperoleh banyak perbendaharaan –perbendaharaan,  kita, mengetahui sejarah-sejarah lainnya, terkupas akhirnya oleh para ahli, “ katanya

Sedangkan Ketua Yayasan Masjid Agung Palembang, Ir Kgs H Ahmad Syarnubi mengatakan,  kalau tanggal 2 Februari adalah acara peresmian nama Masjid Sultan Mahmud Badaruddin yang akan dihadiri Gubernur Sumsel Herman Deru.

Mengenai protes sejumlah pihak terkait peresmian nama Masjid Sultan Mahmud Badaruddin yang harusnya Masjid  Sultan Mahmud Badaruddin I atau Masjid  Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo.

“Tidak ada SMB I atau SMB II enggak ada sebenarnya, jadi kita rangkumlah dua duanya, jadi kita tidak memilahkan SMB I, SMB II , iya khan , Masjid Agung itu didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo kemudian dirawat, dimakmurkan termasuk oleh Sultan Mahmud Badaruddin Hasan itu yang disebut II sekarang itu, jadi itu maksud kita tidak menyebut I, II dan memang tidak ada I, II,” kata Ahmad Syarnubi ketika dihubungi, Senin (28/1).#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pencuri di Rumah Kosong Babak Belur Dihajar Massa

Palembang, BP–Joni Nasudin (43), warga Komplek Sasana Patra, Plaju, Palembang babak belur dihajar massa, usai tepergok mencuri di rumah yang ...