Home / Headline / Masjid Agung Palembang Buatan Sultan Mahmud Badaruddin I

Masjid Agung Palembang Buatan Sultan Mahmud Badaruddin I

BP/IST
Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I 

Palembang, BP

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau biasa disebut Masjid Agung Palembang adalah sebuah masjid paling besar di Kota Palembang, Sumatera Selatan  (Sumsel).

Masjid Agung pada mulanya disebut Masjid Sultan. Perletakan batu pertama pada tahun 1738, dan peresmiannya pada hari Senen tanggal 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748. Masjid Agung didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang dikenal pula dengan Sultan Mahmud Badaruddin Djaya Wikrama  (1724-1758) atau merupakan bapak Pembangunan pembuat Masjid Agung Palembang.

Menurut Sejarawan Sumsel, Syafruddin Yusuf,  Masjid Agung didirikan atau dibuat oleh  Sultan Mahmud Badaruddin I atau atau Sultan Mahmud Badaruddin Djaya Wikrama atau merupakan bapak Pembangunan pembuat Masjid Agung Palembang

“Kalau masa Kesultanan , Masjid Agung di sebut Masjid Sultan kalau sekarang orang menyebut Masjid Agung,” katanya, Minggu (27/1).

Jika nantinya ada plang nama Masjid Agung Palembang ,  menurutnya  harus dituliskan nama Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I, karena dibuat di masa keemasan Kesultanan Palembang Darussalam  dan merupakan bapak Pembangunan pembuat Masjid Agung Palembang.

Baca:  Fitnah Meluas dari Pintu ke Pintu, Ray Rangkuti : Tanda Suara Jokowi Sulit Dibendung

“ Kalau Sultan Mahmud Badaruddin II lebih dimasa perlawanan melawan Belanda,  kalau untuk  Sultan Mahmud Badaruddin I itu yang membuat Masjid Agung Palembang, jadi bagus namanya menjadi Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I,  justru kalau di buat namanya  hanya Sultan Mahmud Badaruddin saja jadi rancu, Badaruddin yang mana, selama ini Badaruddin dikenal dua , Sultan Mahmud Badaruddin I dan Sultan Mahmud Badaruddin II ,” katanya.

Apalagi Dosen FKIP Sejarah Unsri ini menilai kalau Masjid Agung Palembang telah banyak mengalami pasang surut sejarah di Palembang.

“ Pada Perang  Lima Hari Lima Malam , Masjid Agung sempat tidak menggelar Sholat Jumat , lagi berperang,” katanya.

Selain itu menurutnya renovasi Masjid Agung Palembang yang telah dilakukan beberapa kali terakhir di masa Presidennya Megawati.

Hal senada dikemukakan Ketua Lembaga Kajian Naskah Melayu, Pasca Sarjana UIN Raden Fatah Palembang Dr M Adil MA menilai karena Masjid Agung adalah masjid negara dan lebih bagus kalau ditulis dalam plang namanya lengkap Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Djaya Wikrama.

Baca:  Sejumlah Anggota DPRD Sumsel Dipanggil Kejagung

“Bagus kalau ditulis dalam plang namanya lengkap Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Djaya Wikrama atau bisa Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I saja karena orang lebih mengenal nama ini,” katanya.

Apalagi  ketika menjadi UIN Raden Fatah, UIN Raden Fatah  menjadikan Masjid Agung Palembang ini sebagai lambangnya  (ikonik)  dan itu menunjukkan dalam kontek akademik kajiannya akan lebih banyak dan lebih bermanfaat kalau menggunakan  Masjid Agung Palembang , karena simbol keIslamannya ada di Masjid Agung.

“ Masjid Agung itu adalah simbol budaya, Keagamaan Keislaman , jadi pembentukan masyarakat di simbolkan Masjidnya ,” katanya.

Seperti tampak dari namanya, masjid ini  merupakan warisan Kesultanan Palembang Darussalam. Bangunan ini pertama kali didirikan pada periode 1738-1748 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I. Saat pertama kali dibangun, luas masjid tersebut mencakup 1.080 meter persegi.Daya tampungnya mencapai 1.200 orang jamaah.

Baca:  Peraturan Sekolah Gratis di Sumsel Masih Simpang Siur

Selanjutnya, Pangeran Nataagama Karta Mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin memimpin perbaikan masjid ini.Proyek tersebut dikerjakan atas dukungan dua orang tokoh agama Islam, yakni Sayid Umar bin Muhammad Assegaf At-Toha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab.

Pemerintah kolonial Belanda, yang saat itu mulai membawahi Kesultanan Palembang, melakukan renovasi Masjid Agung Palembang pada periode 1819-1821.Oleh karena jumlah jamaah yang terus membesar, proyek renovasi dan perluasan masjid itu mulai dilakukan kembali berturut-turut pada 1893, 1916, 1950, 1970, dan 1990-an.

Setelah Republik Indonesia merdeka, perbaikan Masjid Agung Palembang tidak surut.Pada kurun tahun 1966-1969, Yayasan Masjid Agung mendukung pembangunan lantai dua masjid ini.Demikian pula dengan penambahan luas lahan menjadi 5.520 meter persegi sehingga dapat menampung 7.750 orang jamaah.

Pada 1970-an, badan usaha milik negara (BUMN) Pertamina ikut menyumbang renovasi atas Masjid Agung Palembang, khususnya pada pendirian menara masjid. Renovasi teranyar berlangsung pada 2000- 2003 dan diresmikan di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.#osk

 

 

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Jelang Porprov Percasi PALI Gelar Piala Bupati Kelima

PALI,  BP Komite Olahraga  Nasonal Indonesia (KONI) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) melalui Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) kembali ...