Home / Headline / Delman Palembang Pernah Jadi Transportasi Sultan  Dan Residen Palembang

Delman Palembang Pernah Jadi Transportasi Sultan  Dan Residen Palembang

BP/IST
Sketsa saat Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II  keluar dari Kraton Kuto Besak di Palembang tahun 1821 ketika akan di asingkan ke Ternate dengan menggunakan kereta kencana dengan dikawal petinggi Kesultanan Palembang dan pasukan Belanda.

Palembang, BP

Pemerintah Kota (Pemko) Palembang melalui Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Palembang, menyediakan Delman yang akan membawa pengunjung berkeliling kawasan Kambang Iwak, Palembang.

 LAUNCHING delman wisata Kambang Iwak dilakukan Walikota Palembang H Harnojoyo, Jumat (11/1). Dimana pada tahap awal ini, telah tersedia tiga unit delman di Kambang Iwak.

 Dalam catatan sejarah perkembangan kota Palembang, transportasi di tarik kuda ini pernah terlihat di Palembang, malah pada zaman Kesultanan Palembang, hanya bangsawan dari  Kesultanan Palembang Darussalam yang memiliki transportasi yang ditarik kuda ini atau biasa disebut Kereta Kencana .

 

Menurut, Sultan Mahmud Badaruddin IV Djaya Wikrama bin Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja, RM Fauwaz Diradja, SH. Mkn saat Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II  akan diasingkan ke Ternate dan keluar dari Kraton Kuto Besak di Palembang tahun 1821 malah menggunakan kereta kencana dengan dikawal petinggi Kesultanan Palembang dan pasukan Belanda.

“Zaman Kesultanan Palembang  hanya kalangan bangsawan yang memiliki kereta kuda, “katanya, Minggu (13/1).

        Dan setelah masuk zaman kolonial Belanda, selain residen Palembang memiliki kereta kuda , masyarakat juga memiliki kereta kuda karena sudah menjadi transportasi umum,” katanya.

                Sekretaris Yayasan Kesultanan Palembang Darusalam RM Rasyid Thohir menambahkan,  Kereta Kencana  milik SMB II terakhir ada sebelah rumah H Akib yang sekarang jadi lapangan di daerah 18 Ilir.

Baca:  Komitmen Politik Gubernur Sumsel H Alex Noerdin Harus Jadi Contoh

“ Setelah SMB II di asingkan ke Ternate, Kereta Kencana itu masih ada , malah terakhir Kereta Kencana itu ada di sebelah rumah H Akib, yaitu rumah Pangeran Astradiningrat (pangeran jakso),” katanya.

Dan menurutnya, leluhur H Akib lah yang mengurusi kuda dan kereta kencana itu.

      Apalagi menurutnya zaman Kesultanan Palembang Darussalam hanya bangsawan Kesultanan Palembang saja yang memiliki kereta kuda saat itu.

      Setelah masa kolonial Belanda di Palembang penggunaan kereta kuda selain digunakan oleh Residen Palembang juga digunakan masyarakat umum sebagai sarana transportasi.

Hal senada dikemukakan pengamat sejarah kota Palembang, Rd Moh Ikhsan, “Menurut ibu Frieda Amran (Antropolog Sumsel yang tinggal di Belanda) dalam tulisannya di Koran Beritapagi minggu lalu , dia menuliskan, mestinya harusnya harus  ada kereta kuda pengangkut barang di tulisannya itu sekitar tahun 1850 yang mengutip tulisan Teijsmann, tapi  yang ada satu kepunyaan residen Palembang, kita tidak tahu apa sebabnya, ada yang bilang, saya tidak tahu siapa yang bilang katanya kuda  kurang pas di Palembang, tapi kita tidak tahu , tidak paham, karena itu cerita orang ,” katanya.

Jika melihat poto-poto lama,  delman ini terlihat di tahun 1900 awal, namun ketika tahun 1930, delman tidak terlihat lagi namun semua ini menurutnya hanya perkiraan saja tidak bisa dipastikan  karena dirinya tidak memiliki data pasti namun hanya menapsirkan poto-poto lama.

Namun menurut versi pengamat sejarah kota Palembang lainnya, Andi Syarifuddin , menurut Ikhsan memang ada kereta kuda tapi jumlahnya tidak banyak.

Baca:  Penggugat Adalah Pemilih Yang Berhak Menggugat Jika Penyelenggaraan Pemilukada Melanggar UU

“ Artinya  Sultan Palembang, residen punya kereta kuda,” katanya.

Namun kereta kuda zaman dulu di Palembang menurutnya, seperti untuk Sultan Palembang untuk kereta kencana, kalau residen Palembang dipakai untuk inspeksi, karena kita khan kontur daerahnya sungai, lebih mudah naik perahu.

“ Seperti saya bilang, Palembang itu jangan di bayangkan zaman sekarang, kalau kita bayangkan sekarang khan daratan, dulu itu sungai,” katanya.

BP/IST
Launching delman wisata Kambang Iwak dilakukan Walikota Palembang H Harnojoyo, Jumat (11/1).

Namun dia menyambut positip apa yang dilakukan Pemkot Palembang menyediakan Delman di kota Palembang sebagai sarana wisata.

“ Tapi kalau kulo ngusul, kalau biso ada aksesoris khusus delman di Palembang, bedakan delman di kota lain, apo dibuat apo, kalau orang liat selintas , oh ini delman Palembang,” katanya.

Sedangkan pengamat sejarah kota Palembang, H Andi Syarifuddin  mengatakan, kalau di zaman Kesultanan Palembang dan zaman Kolonial delman di gunakan sebagai sarana transportasi di Palembang.

“Delman itu di Palembang dulu jadi transportasi di darat, selama ini orang pakai perahu, kapal sebagai sarana transportasi, tapi untuk di darat masyarakat naik delman atau juga di tarik oleh sapi selain kudo untuk mempermudah angkutan umum,” katanya.

Delman ini menurutnya mulai hilang dari kota Palembang sejak zaman Kemerdekaan.

“Hilangnya delman dari kota Palembang mungkin untuk modernisasi kota, iklim di Palembang tidak cocok untuk kudo, karena kudo didatangkan dari tempat lain,” katanya.

Sedangkan Walikota Palembang, H Harnojoyo menyambut positif keberadaan Delman ini. Dirinya berharap kehadiran delman semakin menambah daya tarik wisata di Palembang.

Baca:  PKS Hilang Satu Kursi DPR RI di Dapil Sumsel II

“Satu lagi tambahan bagi yang ingin menikmati Kambang Iwak ini. Kusir delmannya juga harus dibekali pengetahuan tentang sejarah tentang tempat-tempat yang mereka lewati,” ujarnya.

Walikota berpesan agar para pemilik delman menjaga kebersihan dan keindahan delmannya. Sehingga keberadaan delman ini dapat sesuai dengan tujuan pariwisata yang diharapkan.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, Isnaini Madani menjelaskan, di Palembang dulu pernah ada sado (delman/andong) yang beroperasi di sekitar wilayah Pasar 16 untuk melayani pedagang dan pembeli.

Oleh karena itu, untuk mendorong wisata di Palembang dan menghadirkan kembali nuansa tempo dulu, dihadirkan kembali delman di Palembang.

“Di Delman ini akan disiapkan lagu daerah Palembang, dan kusirnya menggunakan pakaian khas Palembang. Delman ini dilarang menaikan dan menurunkan di sembarang tempat, selain tempat khusus yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Tiap penumpang yang naik delman akan akan dikenakan biaya Rp 10 ribu perorang. Isnaini menjamin, delman tersebut akan senantiasa bersih terutama dari kotoran karena telah dilengkapi pampers khusus kuda.

 

Sedangkan Ketua Komunitas Kuda Pariwisata Kota Palembang, Mamad mengatakan, untuk tarifnya biaya naik Delman ini yakni Rp 10 ribu dan weekend Rp 15 ribu.

“Rutenya diseputaran kambang iwak, kurang lebih waktunya 15 menit,” ujarnya.

Untuk kapasitas Delman ini bisa dinaiki oleh 5 orang dewasa dan satu kusirnya.

“Kuda beserta andongnya ini kita datangkan dari luar Sumsel. Dan kusirnya juga kita masih pakai dari luar ,” katanya.

Saat ini, Delman ini baru ada tiga dan rencana jika animo masyarakat tinggi akan ditambah menjadi sepuluh delman. Rencananya kuda pariwisata ini akan hadir setiap hari di Kambang Iwak mulai pukul 8 pagi hingga 10 malam.#Dudy Oskandar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

FGD Rembuk Aktivis Se-Sumsel  Bahas Kisah Lama Hingga Aktivis Menjadi Pejabat

Palembang, BP   Focus Group Discussion (FGD) acara Rembuk Aktivis se Sumsel di hotel Benston berlangsung seru, Kamis (19/9). Berbagai ...