Home / Headline / Peristiwa Gembok JSC Mengancam Terpuruknya Prestasi PON 

Peristiwa Gembok JSC Mengancam Terpuruknya Prestasi PON  *Protes Keras Pelatih dan Pengurus Olahraga*

(Venue Aquatic Stadium di JSC Palembang)

Palembang, BP
Tak ada lagi suara teriakan semangat atlet yang terdengar menggema di sudut-sudut venue ketika mereka latihan setiap harinya. Perjuangan yang tak hanya lelah tapi juga kucuran keringat pun mereka korbankan hanya semata-mata demi untuk prestasi Sumatera Selatan di kancah nasional hingga Internasional.
Venue-venue nan megah di Kompleks Jakabaring Sport City (JSC) Palembang yang konon level dunia ini dipaksa distop dari pengunaan latihan atlet oleh otoritas setempat.
Hanya ada security dan petugas kebersihan di taman. Pintu-pintu kaca venue pun tertutup dan terkunci rapat.
Keramaian hanya terlihat disudut-sudut taman yang merupakan pengunjung yang sekedar untuk swafoto. Kondisi nya pun seperti usang karena tanpa keramaian kunjungan atlet.
Lagi-lagi, atlet harus menelan imbas dari kebijakan keras yang oleh banyak orang disebut berdampak buruk bagi kesiapan atlet yang tengah menghadapi PraPON di tahun ini. Salah-salah peringkat 21 di PON XIX Jabar akan semakin terperosok di PON XX Papua 2020 mendatang jika peristiwa ini berlarut-larut.

(Venue Athletic)

Pelatih Wushu Sumsel Louse Ahmad Yani mengatakan bahwa prestasi olahraga adalah prestise daerah baik di tingkat nasional maupun internasional maka dibangun veneu tersebut oleh pemerintah daerah maupun pusat untuk kemajuan olahraga di Sumsel dan pengelola JSC di angkat oleh Pemda Sumsel dengan SK Gubernur.
 “Maka persoalan penggembokan tempat latihan tdk bisa di biarkan karena latihan tidakk boleh berhenti demi mencapai prestasi nasional, kami mohon Gubernur, sebagai pembina cabang olahraga harus segera mengambil langkah yang pasti demi kelangsungan pembinaan atlit di Sumsel,”tegas Yani, saat dibincangi BeritaPagi, Kamis (10/1).

Menurutnya, atlet harus berlatih keras mempersiapkan diri menghadapi Pra Kualifikasi PON bulan Juni mendatang. “Kita diusir dari tempat latihan. Bagaimana kita mau Prestasi tempat latihan yg seadanya saja kita tidak punya apalagi yg sederhana bahkan yang memadai,”terangnya.

(Gor Ranau JSC Palembang)

Protes keras juga disampaikan oleh Pelatih Gulat Sumatera Selatan Deni Saputera yang sejak Asian Games sudah diusir untuk mengosongkan tempat latihan.

“Kalau gulat sejak setelah Asian Games tidak boleh lagi latihan di JSC, akhirnya latihan di SONS,”sesal.
Lanjut Deni, seharusnya pengurus JSC Palembang bijak dalam menerapkan aturan, karena JSC dibangun untuk latihan dan keberhasilan atlet. “Ini malah orang yang baru masuk Palembang mau menguasai Palembang,”singgungnya.
Hal senada dikatakan Pelatih Menembak Sumsel Saptono bahwa pihaknya menyesalkan langkah JSC yang melakukan kesewenang-wenangan main gembok tanpa melihat nasib atlet.
“Apalagi sebentar lagi kan PraPON, kasihan atlet. Gimana mau latihan kalau tempatnya digembok,”urainya.
Menurut Wakil Ketua Bidang II Pembinaan dan Prestasi (Binpres) KONI Sumsel Samsuramel mengaku sangat menyesalkan apa yang dilakukan otoritas PT JSC tersebut.
“Karena kita akan ada persiapan pra-PON, ada yang Maret dan April nanti. Kalau seandainya atlet kita ga latihan maka terganggu dan gagal. Kalau itu gagal, bisa-bisa kita tidak ikut PON nanti,” ujarnya.
Ia berharap, para petinggi JSC dan KONI Sumsel dapat duduk kembali menemukan solusi yang tepat agar kedua pihak tidak ada yang merasa dirugikan. Meskipun pihak JSC juga memiliki kewajiban dan hak, namun pihak KONI Sumsel juga memiliki kepentingan untuk prestasi atlet.
“Kami harapkan ada solusi. Saya dengar sudah rapat dengan Gubernur dan informasi akan dibuka, tapi tidak tahu detailnya,”urainya.

(Gor Dempo JSC)

Diluar hutang sewa latihan KONI Sumsel yang dinilai menjadi alasan penutuoan venue, ia mengaku bukan kewenangannya. Namun sebagai divisi pembinaan dan prestasi sangat kecewa dengan langkah PT JSC.
Kebijakan otoritas JSC yang dinilai menuai protes tak hanya atlet umum, tapi juga atlet difabel yang sama-sama mempersiapkan Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) Papua, seperti PON Papua bagi atlet umum.
Ketua Umum National Paralympic Committe (NPC) Sumsel Ryan Yohwari sebagai pimpinan badan olahraga disabilitas pun sangat kecewa jareba atlet difabel juga terkena imbasnya.
“Apalagi kami yang dari awal tidak ada anggaran biaya latihan, bagaimana kami harus bayar. Karena setiap latihan kami harus bayar,”keluhnya
Sebelumnya, PT Jakabaring Sport City (JSC) mengeluarkan kebijakan tegas dan keras terhadap KONI Sumatera Selatan (Sumsel). Seluruh venue yang digunakan atlet binaan KONI kini telah digembok.
Langkah ini terpaksa diambil PT JSC lantaran KONI Sumsel menunggak hutang tahun 2018 sebesar Rp 1 miliar.
“Kita sudah sangat bijaksana dan membantu untuk pembinaan olahraga di Sumsel. Bayangkan, tagihan Rp 9 miliar atas penggunaan venue olahraga atlet-atlet binaan KONI Sumsel sepanjang tahun 2018, kita pangkas hanya menjadi Rp 1 miliar,” kata Direktur Utama PT JSC Meina Fatriani Paloh.
Tagihan tersebut, diungkapkan Meina telah tiga kali diberikan ke KONI Sumsel. “Penjelasan pihak KONI macam-macam, hilang berkas, tidak ada kontrak, hingga nomor rekening JSC tidak ada. Terakhir KONI menghubungi kita pada 28 Desember 2018, dan di berkas tagihan kita pasti ada nomor rekeningnya,” pungkasnya. Osugiarto.
Baca:  JK Puji Fasilitas JSC
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pilpres  Lebih Sederhana Ketimbang  Pileg

Palembang, BP Kontestasi pemilu legislatif (pileg) tahun 2019 khususnya untuk wilayah Sumsel bakal diikuti sebanyak 9.201 calon anggota legislatif (caleg) ...