Home / Headline / Mengenang Kembali Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang

Mengenang Kembali Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang

BP/IST
Pasca perang lima hari lima malam di Palembang yang hancur akibat perang

72 TAHUN  lalu, atau tepatnya 1-5 Januari 1947 telah terjadi Perang 5 hari 5 Malam (PLHLM) di Palembang. Peristiwa ini sangat penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

 Banyak korban tenaga, harta, dan bahkan ribuan nyawa yang melayang. Menurut catatan PMI ketika itu, sekitar 2000-3500 orang pihak Indonesia menjadi korban dari serangan berutal pasukan Belanda.

 Namun, sepertinya banyak yang lupa termasuk Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dan masyarakat Sumsel.

 Padahal, bangsa yang besar, seperti kata Bung Karno adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

 

Hanya ada satu acara peringatan perang lima hari lima malam ini yang dilakukan oleh pencinta sejarah diantaranya Museum dr AK Gani didukung oleh Dewan Kesenian Palembang, Lembaga Budaya Ulu Melayu, dan Yayasan Kesultanan Palembang Darussalam , Komunitas Pencinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang, MGMP Sejarah kota Palembang, Selasa (1/1)  di Monpera Palembang, menggelar kegiatan sederhana dalam bentuk Doa Bersama, khususnya kepada para pahlawan yang terlibat dalam Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang.

Dalam catatan sejarah, pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang terjadi pada tanggal 1 hingga 5 Januari 1947. Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan perang tiga matra yang paling hebat dan besar di Indonesia, begitu pula pihak Belanda. Perang tersebut terjadi melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara. Belanda sangat berkepentingan untuk menguasai Palembang secara total karena tinjauan Belanda terhadap Palembang dari aspek politik. ekonomi dan militer.

BP/IST
Pasca perang lima hari lima malam di Palembang yang hancur akibat perang

Dalam aspek politik, Belanda berusaha untuk menguasai Palembang karena ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera. Ditinjau dari aspek ekonomi berarti jika Kota Palembang dikuasai sepenuhnya maka berarti juga dapat menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong. Selain itu, dapat pula perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor.

Sedangkan jika ditinjau dari segi militer, sebenarnya Pasukan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relatif mempunyai persenjataan yang terkuat, jika dibandingkan dengan pasukan-pasukan di luar kota. Front Pertempuran Lima Hari Lima Malam 1. Front Seberang Ilir Timur Front Seberang Ilir Timur meliputi kawasan mulai dari Tengkuruk sampai RS Charitas – Lorong Pagar Alam – Jalan Talang Betutu – 16 Ilir – Kepandean – Sungai Jeruju – Boom Baru – Kenten.

Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) yang juga sejarawan Sumsel, Syafruddin Yusuf  melihat di luar Jawa hanya Palembang dan Medan yang melakukan perlawanan terhadap Belanda di awal-awal kemerdekaan Indonesia dimana Medan di kenal perlawanannya dengan nama Perang Medan Area tahun  9 Oktober 1945,  sedangkan Palembang di kenal dengan nama Perang Lima Hari Lima Malam tahun 1947 dari tanggal 1 sampai 5 Januari 1947.

BP/IST
Pasca perang lima hari lima malam di Palembang yang hancur akibat perang

“Dari perang lima hari lima malam  itu  unsur persatuan dan unsur solidaritas sesama pejuang sangat kuat, kalau kita lihat dalam perang lima hari lima malam  itu tidak memandang suku, etnis dan agama, semua menghadapi Belanda , seperti Panglima Subkoss Simbolon  orang Kristen orang Batak sementara komandan Divisi II  Bambang Utoyo orang Jawa bukan orang Palembang tapi pemerintahannya Dr Ak Gani orang Padang dan yang mengepung markas Belanda di Charitas itu Dhani Effendi orang Palembang , dihilangkan semua perbedaan bersatu untuk sama-sama mengusir Belanda,” katanya, Minggu (6/1).

Untuk itu dia mengharapkan pemerintah daerah untuk memberikan informasi ini terutama menjelaskan nama-nama tokoh-tokoh  yang di pakai nama-nama jalan di Palembang.

“ Kenapa diberi nama Jalan Merdeka , banyak tidak tahu  apakah di Jakarta ada nama Jalan Medan Merdeka, ternyata kalau ditelusuri dari sejarah itu dari tanggal  25 Agustus 1945 disitu pertama kali diumumkan kalau Indonesia merdeka di Palembang, itu muncul nama jalan Merdeka sebelum itu  di pakai nama Belanda saya tidak tahu apa nama Belandanya,” katanya.

Selain itu pertempuran lima hari lima malam di Palembang merupakan perang tiga matra yang pertama kali kita alami, begitu pula pihak Belanda. Perang tersebut terjadi melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara. Belanda sangat berkepentingan untuk menguasai Palembang secara total karena tinjauan Belanda terhadap Palembang dari aspek politik. ekonomi dan militer.

Dalam aspek politik, Belanda berusaha untuk menguasai Palembang karena ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera. Ditinjau dari aspek ekonomi berarti jika Kota Palembang dikuasai sepenuhnya maka berarti juga dapat menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong.

BP/IST
Komandan Belanda, Kol Molinger saat bertemu perwakilan TNI Kol Simbolon dalam satu perteman

Selain itu, dapat pula perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor. Sedangkan jika ditinjau dari segi militer, sebenarnya Pasukan TRI dan pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relatif mempunyai persenjataan yang terkuat, jika dibandingkan dengan pasukan-pasukan di luar kota. Selain itu korban yang tewas dalam perang tersebut sangat banyak.

Senada dikemukakan Ketua Dewan Kesenian, Palembang (DKP) Vebri Alintani mengatakan, perang lima hari lima malam diawali pada hari Rabu, tanggal 1 Januari 1947, sekitar pukul 05.30 pagi. Ketika itu sebuah kendaraan Jeep yang berisi pasukan Belanda mabuk karena pesta malam tahun baru, keluar dari Benteng dengan kecepatan tinggi.

Mereka melampaui daerah garis demarkasi yang sudah disepakati. Kendaraan Jeep itu melintasi Jalan Tengkuruk membelok dari Jalan Kepandean (sekarang Jalan TP. Rustam Efendi) lalu menuju Sayangan, kemudian melintasi ke arah Jalan Segaran di 15 Ilir, yang banyak terdapat markas pasukan RI/ Lasykar seperti Markas Napindo, Markas TRI di Sekolah Methodist, rumah kediaman A.K. Gani, Markas Divisi 17 Agustus, Markas Resimen 15 dan markas Polisi Tentara.

Aksi Belanda yang melampaui batas ini disambut oleh pihak republik, maka dimulailah perang yang kemudian berlanjut dengan perang gerilya di wilayah bukit barisan Sumbagsel.

BP/IST
pasukan belanda saat beristirahat di Palembang

“Jika melihat betapa gigihnya para pejuang dalam perang lima hari lima malam, sudah selayaknya peristiwa ini dijadikan momen bersejarah oleh pemerintah Sumatera Selatan dan kota Palembang. Seharusnya diperingati setiap tahun agar masyarakat tahu, bahwa daerah ini juga memberikan sumbangan besar terhadap kemerdekaan RI. Bukankan dengan mengingat sejarah, rasa kecintaan terhadap Negara ini (nasionalisme) akan semakin kuat. Bahkan jika dikemas dengan baik, peringatan bersejarah seperti ini dapat juga bermanfaat dari sisi kepariwisataan,” katanya.

Para pejuang tersebut menurutnya telah melewati jalan yang sangat sulit untuk kemerdekaan, keterlaluan sekali pemerintah daerah,  masyarakat Palembang jika tidak dapat menyelenggarakan kegiatan yang sekadar mengingat jasa-jasa mereka.#Dudy Oskandar

 

 

 

 

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Bawa Sajam Alex dan Kelvin Diangkut Ke Polrestabes Palembang

Palembang, BP Alexander alias Alex (22) dan Kelvin Suandi (17) diamankan oleh Tim Khusus Anti Bandit (Tekab) 134 Satreskrim Polrestabes ...