Home / Headline / Tidak Ada Perhatian Pemerintah Daerah Untuk Wayang Palembang

Tidak Ada Perhatian Pemerintah Daerah Untuk Wayang Palembang

BP/DUDY OSKANDAR
Seminar ” Eksistensi Wayang Kulit Palembang Masa Pra Kesultanan hingga Sekarang” yang diselenggarakan oleh Komunitas Pecinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang di Aula Fakultas Adab dan Humaniora. Sabtu,(15/12).

Palembang, BP

 

Di era 70 an dunia perwayangan Kota Palembang masih kerap menggelar kegiatan pentas di tengah masyarakat Palembang, seperti resepsi perkawinan serta khitanan.

Namun kebiasaan masyarakat asli Palembang tidak menular ke generasi saat ini yang lebih mengenal kebudayaan luar.

Saat ini Wayang Purwa dari Jawa masih terus digandrungi dan digemari masyarakat di Jawa. Bahkan bukan saja pada even tertentu saja, tetapi pementasan wayang purwa kerap diadakan oleh masyarakat Jawa khususnya yang tinggal di perkampungan. Seperti hiburan masyarakat, antara lain untuk acara khitanan dan resepsi perkawinan, bahkan perayaan syukuran kepala desa, maupun setelah selesai panen padi, masyarakat kerap menanggap wayang purwa ini.

Berbeda dengan Wayang Palembang, agaknya era Wayang Palembang sudah tenggelam. Ironisnya, sebagian besar anak-anak di Palembang tidak begitu mengenal peninggalan leluhurnya ini.

Hal ini diperparah dengan tidak adanya perhatian dari Pemerintah Daerah termasuk Pemkot Palembang dalam upaya menyelamatkan wayang Palembang, jangankan untuk menyelamatkan wayang Palembang untuk memfasilitasi kegiatan wayang Palembang dari pemerintah daerah dinilai minim atau malah tidak ada sama sekali.

“ Selama ini tidak ada kesejahteraan untuk kita, misalnya untuk  memberikan tunjangan dan segala macam, disegi pagelaran saja, dari pertama saya menjadi dalang hingga sekarang, setiap kita kerjasama dengan dinas, tandatangan untuk pegelaran itu tiga lembar , minimal tiga lembar, disini saja mereka tidak terbuka dengan kita, bagaimana kita menjadikan bapak kita atau ibu kita, orangtua tidak jujur dengan anaknya, bagaimana anak percaya dengan orangtua,” kata  Dalang wayang Palembang,  Kgs. Wirawan Rusdi saat menjadi nara sumber dalam seminar ” Eksistensi Wayang Kulit Palembang Masa Pra Kesultanan hingga Sekarang” yang diselenggarakan oleh Komunitas Pecinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang di Aula Fakultas Adab dan Humaniora. Sabtu,(15/12).

Baca:  16 Orang Mendaftar Ke Bawaslu Sumsel

Wirawan menambahkan kalau Pemkot Palembang melalui dinas terkait tidak ada perhatiannya dengan wayang Palembang, apakah wayang Palembang tidak menghasilkan uang.

“ Selalu setiap tahun anggaran di kurangi-dikurangi, dalam setiap rapat akhir tahun kita ikut, kita pernah ikut didinas provinsi , dianggarkan Rp200 juta  untuk ini, untuk ini, tapi setelah berjalan tahun 2018 tidak ada sama sekali , kita tidak pernah di ajak rapat, itu yang membuat kita sedikit kecewa  kepada pemerintah,” Katanya.

Namun Wirawan mengaku  mengambil jalan positipnya  setidaknya Wayang Palembang masih bisa hidup di kota Palembang itu dinilainya sudah cukup,.

“Soal nanti saya ini dikenal atau tidak dikenal dan suatu saat akan hilang, saya tidak khawatir dan saya tidak akan takut , selama saya masih ada, Insya Allah saya tetap menjalankan dan menjadi dalang wayang Palembang, karena saya tidak bertujuan mencarikan penghasilan, tapi untuk melestarikan warisan nenek monyang saya , itu yang saya pegang hingga saat ini , walaupun berarapun yang di bayar oleh mereka,  selama  rekan-rekan saya sejahtera , cukup untuk mereka, saya tidak memperhatikan ,” katanya.

BP/DUDY OSKANDAR
Seminar ” Eksistensi Wayang Kulit Palembang Masa Pra Kesultanan hingga Sekarang” yang diselenggarakan oleh Komunitas Pecinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang di Aula Fakultas Adab dan Humaniora. Sabtu,(15/12).

Selain itu waktu wayang Palembang tampil di BKB dalam satu acara beberapa waktu lalu, Wirawan mengaku mereka tidak di bayar sama sekali.

Baca:  Ubah TPS Jadi Taman

“Saya cuma pinjam uang Rp500 ribu dengan ibu Diajeng Kartika Sari, karena dia mengajak saya tampil disitu, untuk salah satunya  bayar ongkos mobil, jadi  untuk membayar kawan kawan saya sebanyak 10 orang itu , saya mengeluarkan uang kas pribadi, saya bayar Rp100 ribu satu orang, belum makan mereka , itu uang pribadi saya, supaya mereka tidak berpikiran negatip kepada saya ,” katanya.

Wirawan Rusdi  juga menjelaskan pertunjukan wayang menyajikan aspek-aspek seni secara total, seperti seni sastra, seni rupa, seni drama dan seni tari. Seperti halnya Wayang Palembang yang memiliki keunikan tersendiri dengan wayang yang ada di Jawa.

Apalagi menurutnya, Wayang Palembang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang memiliki fungsi sebagai hiburan maupun untuk ruwatan. Dalam perkembangannya di Jawa, wayang kulit pernah dijadikan sebagai media untuk berdakwah oleh para Wali Songo dengan tujuan agar ajaran Islam dapat mudah diterima oleh masyarakat setempat.

Pertunjukan Wayang Palembang tidak jauh berbeda dengan wayang lain. Wayang Palembang punya tokoh-tokoh pewayangan yang sama dengan wayang Jawa, cerita wayang merupakan lakon yang disadur dari kisah Ramayana dan Mahabrata dari India. Khasnya, wayang Palembang terkesan jauh dari sumber aslinya, tetapi ketika diikuti, lakon atau motif ceritanya tetap saja sama dengan wayang Jawa. Wayang Palembang diiringi oleh seperangkat gamelan berlaras pelog dengan caturan atau gendhing yang memiliki bentuk dan harmoni yang telah diolah sesuai budaya Palembang.

Baca:  DPRD Sumsel Prihatin Buku Paket Tidak Ada Di SMA I Jejawi

Wayang Palembang dikembangkan dan diwariskan turun temurun secara terbatas di lingkungan keluarga, terutama oleh nenek moyang dari Dalang Kgs Rusdi Rasyid. Adapun perbedaan antara wayang Jawa dengan Wayang Palembang dapat dilihat dari penggunaan bahasa. Wayang Palembang dimainkan dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang, yang merupakan bahasa asli Palembang dan memiliki kemiripan dengan bahasa Jawa serta perilaku tokoh-tokohnya lebih bebas.

Wayang Palembang tidak melibatkan penyanyi sinden (penyanyi tradisional) saat pementasan. Tokoh dalam pewayangan Palembang mendapat gelar sesuai nama daerah seperti Wak (paman dalam bahasa Indonesia) atau Raden, contohnya, Gareng dipanggil Wak. Sementara tokoh Bagong dalam cerita Mahabarata ditiadakan dalam wayang Palembang karena mungkin di anggap berbicaranya selalu mengkritik kebijakan pemerintah.

Wayang Palembang mengalami kemunduran mulai dari tahun 1930. Pada tahun 1978, Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Sumatera Selatan (Sumsel) berusaha membangunkan dan menampilkan kembali kesenian tradisional Wayang Palembang yang kondisinya sangat memprihatinkan dengan cara membentuk organisasi seni wayang yang bernama “Sri Palembang”. Sri Palembang diketuai oleh Kgs Abdul Rasyid Bin Abdul Roni (dalang Wayang Palembang yang terkenal pada era 1960-an) pada saat itu.

Pada tahun 2004, menurut Kgs Wirawan Rusdi yang merupakan putra pertama Kgs Rusdi Rasyid, cucu dari Kgs A Rasyid Bin Abdul Roni sebagai ahli waris, sekaligus sebagai salah satu penyelamat kesenian tradisional Wayang Palembang hingga kini.

Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) yang juga seniman Palembang Vebri Al-Lintani melihat paradigma Walikota Palembang tentang kebudayaan dan sejarah Palembang  tidak ada.

“ Tangannya apa, Dinas Kebudayaan, tidak ada orang berkompeten di dinas kebudayaan ,” katanya.

Padahal menurutnya, Wayang Palembang telah menjadi budaya Palembang dengan kekhasan yang berbeda dengan wayang dari tempat asalnya Jawa, untuk itu harus dilestarikan dan harus dilestarikan terutama oleh Pemkot Palembang melalui Walikota Palembang.

“Kesenian itu dinamis, karena itu perlu adanya revitalisasi dan kreativitas artistik terhadap wayang palembang agar lebih diminti oleh masyarakat dan generasi muda saat ini.” katanya.#osk

 

 

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pilpres  Lebih Sederhana Ketimbang  Pileg

Palembang, BP Kontestasi pemilu legislatif (pileg) tahun 2019 khususnya untuk wilayah Sumsel bakal diikuti sebanyak 9.201 calon anggota legislatif (caleg) ...