Home / Headline / Operasi Boomerang, Operasi Militer Amerika ke Palembang Yang Gagal

Operasi Boomerang, Operasi Militer Amerika ke Palembang Yang Gagal

BP/Dudy Oskandar
Dudy Oskandar

Oleh: Dudy Oskandar, Jurnalis

Operasi Boomerang adalah operasi militer dalam bentuk serangan udara yang gagal yang dilancarkan oleh Komando Pengebom XX Pasukan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (USAAF) terhadap fasilitas kilang minyak di Palembang yang diduduki Jepang pada malam 10/11 Agustus 1944 pada masa Perang Dunia II.

Sebanyak 54 pesawat pengebom berat diberangkatkan dari lapangan terbang di Ceylon, dengan 39 mencapai daerah sasaran.

Upaya untuk mengebom sebuah kilang minyak tidak berhasil, dengan hanya satu bangunan kecil hancur. Ranjau laut yang dijatuhkan di sungai yang menghubungkan Palembang ke laut menenggelamkan tiga kapal dan merusak dua lainnya.

Pasukan Britania (Inggris)  menyediakan dukungan pencarian dan penyelamatan untuk pesawat-pesawat pengebom Amerika. Ini merupakan satu-satunya serangan USAAF terhadap fasilitas minyak strategis yang penting di Palembang.

Pada saat Perang Pasifik, Palembang di Hindia Belanda adalah pusat produksi minyak utama. Kota dan kilang minyaknya direbut oleh pasukan Jepang pada pertengahan Februari 1942 selama Pertempuran Palembang.

Pada awal tahun 1944, intelijen Sekutu memperkirakan bahwa kilang Plaju di Palembang merupakan sumber 22 persen bahan bakar minyak Jepang untuk kapal dan fasilitas industri dan 78 persen dari bensin penerbangan untuk pesawat terbang.

Pada akhir tahun 1943, Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat menyetujui proposal untuk memulai kampanye udara strategis terhadap Kepulauan Jepang dan Asia Timur dengan mengandalkan pesawat pengebom berat Boeing B-29 Superfortress di India dan membangun lapangan terbang perintis di Tiongkok.

Unsur utama dari strategi ini, dinamakan Operasi Matterhorn, adalah membangun landasan udara besar di dekat Chengdu di pedalaman Tiongkok yang akan digunakan untuk mengisi bahan bakar B-29 yang melakukan perjalanan dari pangkalan di Bengal dalam rutenya menuju target di Jepang.

Operasi Matterhorn dilancarkan oleh Komando Pengebom XX dari Angkatan Udara Kedua Puluh. Tidak biasanya, kepala USAAF, Jenderal Henry H. Arnold, juga menjabat sebagai kepala Angkatan Udara Kedua Belas. Brigadir Jenderal Kenneth Wolfe memimpin Komando Pengebom XX.

Komando Pengebom XX melancarkan misi tempur pertamanya terhadap Bangkok pada 5 Juni 1944. Selama operasi ini, dua B-29 kehabisan bahan bakar semasa penerbangan kembali ke India di atas Teluk Benggala dan terpaksa mendarat di atas air.

BP/IST
Lokasi pangkalan bomber B-29 di India dan Ceylon serta target utama yang mereka serang di Asia Tenggara.

Perencanaan

Serangan terhadap Palembang muncul dari perdebatan tentang bagaimana menggunakan pesawat-pesawat pengebom berat B-29 hingga pangkalan-pangkalan dalam jangkauan seluruh Jepang siap, yang mendahului persetujuan Operasi Matterhorn. Selama akhir tahun 1943 dan awal 1944, pertimbangan serius diberikan yang awalnya menggunakan B-29 untuk menyerang pengiriman pedagang dan fasilitas minyak di Asia Tenggara dari pangkalan di Australia bagian Utara dan Pulau Papua.

Baca:  Bawaslu Sumsel Petakan Potensi Disabilitas di Sumsel

Rencana akhir untuk Operasi Matterhorn disetujui oleh Kepala Staf Gabungan pada bulan April 1944 menetapkan bahwa B-29 akan berpangkalan di lapangan terbang di sekitar Calcutta di India, dari sana mereka terutama akan digunakan untuk menyerang Jepang barat yang dilancarkan melalui lapangan terbang di Tiongkok. Rencana ini menyebutkan bahwa pasukan itu juga menyerang Palembang, dengan serangan dilancarkan melalui lapangan terbang di Ceylon.

Dimasukkannya Palembang dalam rencana ini merupakan kompromi antara ahli strategi yang ingin memfokuskan kekuatan menghadapi Jepang dan mereka yang ingin fokus pada target minyak. Untuk tujuan perencanaan, tanggal untuk serangan pertama terhadap Palembang ditetapkan pada 20 Juli 1944.

Sebuah landasan udara dampai mengakomodasi B-29 disiapkan untuk mendukung serangan-serangan yang direncanakan di Palembang. Pada Maret 1944, pengerjaan dimulai pada empat landasan udara termodifikasi di Ceylon untuk memenuhi standar untuk B-29, dengan Landasan Pacu China Bay dan Landasan Pacu Minneriya diberi proioritas tertinggi.

Dua landasan udara tersebut dijadwalkan siap pada bulan Juli, namun pada bulan April, mereka memutuskan untuk berkonsentrasi di China Bay saat kedua landasan pacu tersebut nampak tak dapat diselesaikan bersamaan pada masa itu. Pada pertengahan Juli, China Bay dapat mengakomodasi 56 B-29 namun masih memerlukan banyak pengerjaan lanjutan.

Tak lama setelah serangan pertama XX Bomber Command di Jepang, menyerang Tawata pada malam 15/16 Juni, Arnold mendorong Wolfe untuk menyerang Palembang sebagai bagian dari serangan susulan. Tanggapannya, Wolfe menyatakan bahwa mereka tak akan mungkin melakukan serangan sampai landasan duara di China Bay telah siap pada 15 Juli.

Arnold mengerahkan XX Bomber Command dengan pengarahan target baru pada 27 Juni yang menspesifikasikan agar 50 B-29 dikerahkan ke Palembang saat landasan udara tersebut telah rampung. Wolfe ditransfer ke sebuah jabatan di Amerika Serikat pada 4 Juli. Brigjen LaVern G. Saunders mengambil alih komando atas basis temporer.[10] Saunders memutuskan untuk menunda serangan ke Palembang sampai pertengahan Agustus untuk membuat XX Bomber Command dapat membuat upaya serangan maksimum ke Anshan, Tiongkok, yang dijadikan prioritas tertinggi oleh Arnold.

BP/IST
Foto udara dari tempat pengisian bahan bakar Pladjoe yang diambil pada tanggal yang tak diketahui.

 Persiapan

Baca:  Ketika Ibu-Ibu Datangi Kantor Kejati Sumsel, Soroti Tender Proyek LPSE

Amerika Serikat

Perencanaan serangan ke Palembang dimulai pada Mei 1944.Karena jarak yang sangat jauh untuk terbang dan perlu dilakukan bertahap melalui Ceylon, operasi tersebut mengharuskan perencanaan dan persiapan lain ketimbang seranagn lain yang dilakukan oleh XX Bomber Command. Personil USAAF dan Royal Air Force bekerja sama untuk menyelesaikan persiapan tersebut.

Inggris mensuplai bahan bakar untuk operasi tersebut dan membiayai pembaharuan landasan udara Ceylon di bawah aransemen Reverse Lend-Lease. RAF China Bay, termasuk fasilitas akomodasinya dan kendaraan transportasi, secara virtual diberikan kepada USAAF. RAF juga menyumbangkan ratio besar kepada Amerika.

Rencana untuk operasi tersebut berubah sepanjang waktu. Twentieth Air Force awalnya diperintahkan agar serangan tersebut melibatkan seluruh 112 pesawat XX Bomber Command, dan dilakukan pada hari tersebut.

Komando tersebut menyatakan bahwa pengarahan tersebut harus dimodifikasi atas dasar bahwa terlalu banyak pesawat yang dikerahkan dari landasan udara tunggal yang menandakan bahwa pasukan harus dipisahkan dalam beberapa gelombang. Mengerahkan pasukan cengan cara ini akan makin mengkomplikasikan operasi tersebut, dan nampaknya dianggap berujung kekalahan yang lebih besar.

Arnold menerima pernyataan tersebut, dan pengarahan targetnya pada tanggal 27 Juni mengkhususkan serangan ke tempat tersebut saat fajar atau mendung dan melibatkan setidaknya 50 pesawat.

Meteorologis yang dikerahkan pada operasi tersebut merekomendasikan agar serangan tersebut dilakukan pada malam hari sehingga pesawat-pesawat B-29 dapat bergerak pada gelombang angin yang diinginkan.

XX Bomber Command meraih kesepakatan Twentieth Air Force untuk perubahan tersebut.

Pada periode dimana rencana tersebut disiapkan, beberapa agensi intelijensi AS memajukan pandangan mereka terkait pengaruh Palembang. Asisten Kepala Staf Udara, Intelijensi dan Komite Analis Operasi USAAF menyatakan bahwa situasi taktikal yang berubah di Pasifik dan kekalahan besar perkapalan Jepang menandakan bahwa tempat pengisian bahan bakar Pladjoe tak lagi sangat berpengaruh bagi upaya perang Jepang. Staf XX Bomber Command nampaknya akan menunda misi tersebut, yang mereka pandang sebagai penjauhan dari upaya utama melawan industri baja Jepang. Namun, Joint Chiefs of Staff masih ingin Palembang diserang dan Arnold mencantumkannya dalam pengarahan target lainnya yang dikeluarkan pada bulan Juli.

Setelah itu, mereka mengkonfirmasikan bahwa fasilitas-fasilitas di China Bay akan rampung pada 4 Agustus, Arnold mengarahkan bahwa penyerbuan dilakukan pada tanggal 15 bulan tersebut. Tanggal serangan direncanakan pada 10 Agustus.

Beberapa target ditentukan. Target primer adalah tempat pengisian bahan bakar Pladjoe dan target sekunder adalah sekitaran tempat pengisian bahan bakar Pangkalan.

Baca:  Desak Pemkot Bertindak Tegas Soal Hotel Ibis

 

Pabrik Semen Indarung di Padang adalah target tetap terakhir untuk pesawat yang tak dapat mencapai Palembang. Selain itu, sebagian pasukan ditugaskan terjun ke pertambangan-pertambangan angkatan laut untuk memblokade Sungai Musi dimana semua minyak bumi yang diproduksi di Palembang dikirim.

Karena jarak perjalanan ekstrim dari Ceylon menuju target-target dan arah pulang (3855 mile (6204 km) ke Palembang dan 4030 mile (6490 km) ke Musi), setiap pesawat pengebom hanya membawa satu ton bom atau tambang dan tempat bahan bakar mereka diisi penuh.

Perencanaan serangan dirampungkan pada 1 Agustus.[15] Ini merancang Operasi Boomerang, mungkin dengan harapan bahwa semua pesawat akan kembali dari penerbangan panjang mereka.

Sebuah serangan dari XX Bomber Command di kota Jepang Nagasaki dijadwalkan dilakukan pada malam yang sama dengan penyerbuan ke Palembang.

Catatan sejarah resmi USAAF menyatakan bahwa mereka mengharapkan serangan dua target yang berjarak 3000 mile (4800 km) yang akan memiliki dampak psikologi terhadap Jepang.

Jepang

Angkatan Darat Kekaisaran Jepang bertanggung jawab untuk mempertahankan ladang minyak di Sumatera melawan serangan udara. Markas Besar Pertahanan Udara Palembang dibentuk pada Maret 1943 untuk keperluan tersebut, dan awalnya terdiri dari Resimen-resimen Pertahanan Udara ke-101, 102 dan 103 dan Batalion Meriam Mesin ke-101. Setiap Resimen Pertahanan Udara dipersenjatai dengan 10 meriam Tipe 88 75 mm AA. Mereka juga meliputi baterai meriam mesin dan baterai lampu sorot. #osk

 

Sumber:

Wikipedia

Correll, John T. (March 2009). “The Matterhorn Missions”. Air Force Magazine. hlm. 62–65. ISSN 0730-6784.

Craven, Wesley; Cate, James, ed. (1953). The Pacific: Matterhorn to Nagasaki. The Army Air Forces in World War II. Volume V. Chicago: The University of Chicago Press. OCLC 256469807.

Fuller, John (2015). Thor’s Legions: Weather Support to the U.S. Air Force and Army, 1937-1987. Berlin: Springer. ISBN 9781935704140.

Hackett, Bob (2016). “Oil Fields, Refineries and Storage Centers Under Imperial Japanese Army Control”. combinedfleet.com. Diakses tanggal 22 July 2018.

Headquarters United States Army Japan (1959). Japanese Monograph No. 45 : History of Imperial General Headquarters Army Section (Revised Edition). HyperWar Project.

Mann, Robert A. (2009). The B-29 Superfortress Chronology, 1934-1960. Jefferson, North Carolina: McFarland & Company. ISBN 9780786442744.

Naval Analysis Division (1946). The Offensive Mine Laying Campaign Against Japan. Washington, D.C.: The United States Strategic Bombing Survey. OCLC 251177565.

Ness, Leland S. (2014). Rikugun: Guide to Japanese Ground Forces, 1937–1945. Volume 1: Tactical Organization of Imperial Japanese Army & Navy Ground Forces. Solihull, United Kingdom: Helion. ISBN 9781909982000.

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Bupati Muba Dodi Reza Lantik Tiga Pejabat Eselon II 

Sekayu, BP–Setelah mengikuti tahapan pelaksanaan seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Eselon II beberapa waktu lalu, akhirnya Bupati Musi Banyuasin ...