Home / Headline / Imperium Sriwijaya, Penguasa Tunggal di Asia Tenggara, dan Jawa

Imperium Sriwijaya, Penguasa Tunggal di Asia Tenggara, dan Jawa

Oleh: Dudy Oskandar (Jurnalis)

 KERAJAAN atau imperium Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara maritim. Negara ini tak memperluas kekuasaan diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara dan Madagaskar.

Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) . Kerajaan ini terdiri atas tiga zona utama daerah yang beribukota muara yang dipusatkan di Palembang, lalu ada kawasan Sungai Musi dan sekitarnya yang berfungsi sebagai daerah pendukung dan daerah-daerah muara  lainnya yang menjadi anak –anak sungai yang bermuara kesungai Musi yang mampu menjadi pusat kekuasan tandingan.

Wilayah hulu sungai Musi kaya akan berbagai komoditas yg berharga untuk pedagang.

Ibukota Sriwijaya diperintah secara langsung oleh seorang Raja,  sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh datu setempat.

Sriwijaya juga menguasai Jawa dan Semenanjung Malaya yang menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara.

Berdasarkan catatan sejarah ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja.

Di abad ke-7 pelabuhan di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang  ke  Sriwijaya.

Untuk mencegah hal tersebut Maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Sriwijaya.

BP/IST
Peta Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya meneruskan dominasi atas Kamboja sampai raja Khmer Jayawarman II pendiri imperium Khmer memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yg sama.

Baca:  Pelantikan Walikota -Wakil Walikota Palembang Ditunda

Dari Prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Jayanasa,  datang dari wilayah Minanga yang juga takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas wilayah Malayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise  Sriwijaya.

Berdasarkan Prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 682 dan ditemukan di pulau Bangka Pada akhir abad ke-7 menegaskan kalau kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan Sumatera  yaitu pulau Bangka dan Belitung hingga Lampung.

Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Dapunta Hyang Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum  bumi Jawa yang tak berbakti kepada Sriwijaya.

Peristiwa ini bersamaan dengan  runtuh Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah yg kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya.

Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka Selat Sunda Laut China Selatan Laut Jawa dan Selat Karimata.

Baca:  Soal PSU Pligub Sumsel di Palembang, Bawaslu Minta Waktu

Abad ke-7 orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera yaitu Malayu dan Kedah dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya.

Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.

Menurut catatan pada masa ini pula wangsa Melayu-Budha,  Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana.

Di abad ini pula Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan Sriwijaya.

Di masa berikutnya  Pan Pan dan Trambralinga yang terletak di sebelah utara Langkasuka juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Di abad ke-9 wilayah kemaharajaan Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka,  Semenanjung Malaya,  Jawa Barat,  Sulawesi,  Maluku,  Kalimantan dan Filipina.

Dengan penguasaan tersebut kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yg hebat hingga abad ke-13.

Setelah Dharmasetu Samaratungga menjadi penerus kerajaan Sriwijaya.

Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis,  Samaratungga tak melakukan ekspansi militer tetapi lebih  memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinan ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah yang selesai pada tahun 825.

Baca:  KPU Sumsel Tanggung Anggaran Test Kesehatan Bapaslon Kepala Daerah Capai Rp 1 Miliar

 

Kapal Sriwijaya

Pusat Pengajaran Agama Budha

 Sebagai pusat pengajaran Budha, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I-tsing yang melakukan kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studi di Universitas Nalanda India pada tahun 671 dan 695 serta di abad ke-11 Atisha seorang sarjana Budha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Budha di Tibet.

I-tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana Budha sehingga menjadi pusat pembelajaran agama Buddha.

Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan Sriwijaya. Ajaran Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana juga turut berkembang di Sriwijaya.

 

Sumber :

  1. http://www.wikiwand.com
  2. http://pengetahuankita22.blogspot.com
  3. Sejarah Runtuhnya Sriwijaya dan Majapahit (Menelusuri Jejak Sandyakala Imperium Besar Nusantara) oleh : Sri Wintala Achmad, penerbit : Araska Sekar Bakung Residence No. B1, Yogyakarta, cetakan pertama , September 2018

 

 

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Warga Kecamatan IT II dan Kecamatan IT III Minta Kolam Retensi Kepada DPRD Sumsel

Palembang, BP       Beberapa  titik di Kecamatan Ilir Timur (IT) II dan Kecamatan IT III Palembang nyaris dilanda banjir setiap musin penghujan ...