Home / Headline / Fahri Hamzah: Kita Punya Mimpi Besar Menjadi Pusat Peradaban Dunia

Fahri Hamzah: Kita Punya Mimpi Besar Menjadi Pusat Peradaban Dunia

Fahri Hamzah

Jakarta, BP— Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Ralyat (Korkesra), Fahri Hamzah mengatakan,   untuk mewujudkan Parlemen modern,Tim Reformasi DPR  yang dibentuk sedang membangun tonggak lanjutan dari ikhtiar tersebut. Dengan tim tersebut, setahap demi setahap DPR, ingin mengajukan satu perubahan.

“Ketika pimpinan DPR yang baru, kita punya undang-undang yang relatif baru, yakni UU Nomor 17 tahun 2014 banyak nuansa baru dalam UU itu,” kata Fahri saat menjadi Keynote Speaker dalam  Seminar Nasional dengan tema “Penguatan Kelembagaan DPR Menuju Lembaga Perwakilan Modern” di Gedung DPR  Jakarta, Selasa (4/12).
Menurut Fahri,  secara konseptual sudah dilakukan, bahkan  ada penulisan buku Seratus Tahun DPR setebal ribuan halaman dengan sejumlah data  yang diambil  dari Volksraad (Dewan Rakyat) zaman Belanda. Sebagai satu kontineu bahwa di zaman Belanda  ada Dewan Rakyat yang anggotanya dipilih sekitar 2000 sampai 3000 orang, dan terpilihlah beberapa pribumi  menjadi anggota Volksraad. Salah seorang di antaranya  Abdul Muis yang  namanya diabadikan di salah satu ruangan  bernama Operation Room menjadi Ruang Abdul Muis di Kompleks Parlemen,
Sebenarnya, kata Fahri, banyak orang pribumi  menjadi anggota Volksraad lain waktu itu, dan mereka adalah  pribumi  vokal,  Jahja Datoe Kajo yang berasal dari Agam, Sumatera Barat.
Sebagai anggota Volksraad, Jahja Datoe Kajo  ngotot memakai Bahasa Melayu. Bahkan, dia memaksa kalau ada yang mengintrupsi pembicaraannya harus berbahasa Melayu.
“Jadi orang Belanda nggak bisa intrupsi kalau tidak bisa berbahasa Melayu. Nah, itu sedang dibuat kronologi dalam sejarah dari buku yang sedang digarap. Sementara di Tim Reformasi kita sedang merancang berbagai disain, termasuk konsep tertulisnya,” kata Fahri.
Dia menambahkan, keinginan DPR  betul-betul memiliki satu tradisi legislatif atau lembaga perwakilan  baku. Sebab kalau membaca Volksraad zaman Belanda,  kemudian di zaman kemerdekaan dibentuklah Komite Nasiponal Indonesia Pusat (KNIP), kemudian   selama demokrasi liberal (setelah Pemilu 1955), dan  setelah Dekrit. Kemudian DPR  GR, dan Orde Baru sampai era Reformasi kadang-kadang melihat seperti ada diskontiunitas konsepsi legalatif, seperti melompat.
“Apalagi tempat kita  bukan kawasan Parlemen, tetapi kawasan Conevo yang di dalam imajinasi Soekarno, Indonesia  pusat dunia atau alternatif bagi peradaban Barat dan Timur. Dan bahkan, saya  masih punya keyakinan Pancasila  bisa menjadi idelogi alternatif dunia,” tuturnya.
Diakui, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi alternatif dunia, diperlukan penjurubicaraan  sehingga  perlu satu kelambagan yang kuat agar secara bertahap kelas politik Indonesia masuk ke kelas dunia.
“Kalau kita semakin minder, menyebabkan politik kita ini tidak mampu menjangkau dunia. Padahal, kalau kita bicara generasi awal republik ini adalah politisi kelas dunia. Jadi wajar kalau kita punya mimpi besar, mimpi menjadi pusat peradaban dunia,” papar Fahri. #duk
Baca:  Ketum Golkar Ajak Semua Pihak Jaga Situasi Kondusiif
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Warga Kecamatan IT II dan Kecamatan IT III Minta Kolam Retensi Kepada DPRD Sumsel

Palembang, BP       Beberapa  titik di Kecamatan Ilir Timur (IT) II dan Kecamatan IT III Palembang nyaris dilanda banjir setiap musin penghujan ...