Home / Headline / Memaknai Alam Bagi Orang Semende

Memaknai Alam Bagi Orang Semende

Palembang, BP
Memaknai Alam bagi orang Semende memiliki nilai nilai yang dijunjung tinggi, nilai nilai itulah yang kini menjadi pengetahuan masyarakat Semende dalan menjalani kehidupannya.

Menurut  Pengarang buku Etnoekologi Komunikasi Orang Semende Memaknai Alam Dr Yenrizal Tarmizi Msi melihat bagaimana masyarakat Semende memaknai alam yang dituangkan dalam kehidupan sehari hari seperti cara bertani, cara membuat rumah dan sebagainya.

Dia mencontohkan sawah adalah bagian integral dalam kehidupan masyarakat pedesaan, khususnya pada masyarakat
Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Sawah dianggap sebagai  bagian dari tatanan sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Semua ini adalah bagian dari proses
komunikasi lingkungan yang dilakukan masyarakat, terutama kemampuan memahami fenomena  lingkungan setempat dan kemudian memberikan pemaknaan terhadap fenomena tersebut.
“Masyarakat Semende juga memandang sawah sebagai pertanian utama.
Melalui pendekatan etnoekologi komunikasi,
menunjukkan bahwa masyarakat
melakukan proses konstruksi simbol tersendiri  terhadap sawah, yang kemudian dianggap punya  makna tersendiri, yaitu makna kesejahteraan,  makna kekuasaan, dan makna identitas, ” katanya saat talk Show di Radio BP Trijaya Palembang, Selasa (27/11) dengan tema  Etnoekologi Komunikasi Orang Semende Memaknai Alam.
Menurut Dosen UIN Raden Fatah ini, semua  makna-makna tersebut tidaklah terjadi dengan  sendirinya, namun sebuah proses komunikasi masyarakat dalam memaknai lingkungan  alamnya, khususnya eksistensi sawah.
Terdapat  mekanisme konstruksi simbolik yang berlangsung dari berbagai kelompok di masyarakat.
Karena itu disarankan bentuk-bentuk pemaknaan  lokal masyarakat harus dipahami sebagai  sebuah mekanisme komunikasi lingkungan  yang adaptif. Sangat disarankan agar  kebijakan-kebijakan modernisasi pertanian,  memperhitungkan pengetahuan lokal  yang sudah dikenal masyarakat, dan tidak  justru kemudian bertolakbelakang dengan  karakteristik lingkungan alam masyarakat setempat. Harus ada pula upaya
memperkuat kelembagaan lokal, karena ini
akan berpengaruh terhadap tatanan sosial
budaya dan ekosistem di sebuah komunitas.
Kelembagaan lokal yang utama adalah
lembaga adat tunggu tubang yang ada di setiap  keluarga besar.
Upaya memperkuatnya dapat  dengan dorongan dari dalam masyarakat
(internal) ataupun dari luar (eksternal).
 Secara  internal, ini harus dilakukan masyarakat  sendiri, terutama kalangan meraje dan tunggu  tubang dengan senantiasa mengingatkan dan  memberi arahan kepada seluruh anggota  keluarganya bahwa lembaga lokal yang  ada merupakan identitas yang tidak dapat  dihilangkan.
Meraje artinya juga “memaksa”
anggota keluarganya, yang walaupun sudah
berdomisili di luar daerah, untuk menjaga
sawah dan tanah yang ada di Semende.
Dari kalangan eksternal, harus didorong
dengan kebijakan pemerintah, di mana
setiap program pembangunan yang akan
diterapkan harus dengan memberdayakan/
melibatkan kelembagaan lokal yang ada, yang
menunjukkan “pengakuan” dari pemerintah
terhadap institusi lokal yang ada.
Hal ini  penting, karena akan semakin mengukuhkan posisi meraje dan tunggu tubang sebagai  institusi utama dalam aktivitas pertanian di  Semende Darat Tengah.
Sedangkan pengamat sosial   Tarech Rasyid melihat pengetahuan lokal perlu di catat kembali apalagi dengan tradisi tunggu tubang di Semende, Muaraenim.
Untuk kalangan perguruan harus bisa menyusun sistim pertanian di Semende sebagai contoh.
” Jadi ini mengenai masyarakat Semende melihat alam atau putaran alam mempengaruhi cocok tanam disana,” katanya.
Semua pengetahuan lokal ini menurutnya sama seperti pengetahuan lokal di Bali, ” katanya.
Dan tradisi di Semende ini berlanjut ke generasi generasi selanjutnya.
Dia melihat bagaimana masyarakat semende memaknai alam dan merumuskan pengetahuan pengetahuan lokal baik kaitan dengan sistim pertanian salah satunya dan tradisi tunggu tubang.#osk
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Warga Kecamatan IT II dan Kecamatan IT III Minta Kolam Retensi Kepada DPRD Sumsel

Palembang, BP       Beberapa  titik di Kecamatan Ilir Timur (IT) II dan Kecamatan IT III Palembang nyaris dilanda banjir setiap musin penghujan ...