Home / Headline / Pemilu 2019: Bagaimana Nasib Partai Politik Islam?

Pemilu 2019: Bagaimana Nasib Partai Politik Islam?

Lembaga kajian strategis Center for Democracy and Civilization Studies (CDCS) pada hari minggu (25/11) melaksanakan kajian dwi pekanan jilid ke 2 bertajuk “Pemilu 2019 : Bagaimana Nasib Partai Politik Islam ?” di SB Corps jalan Joko, Talang Semut Palembang.

Palembang, BP

Lembaga kajian strategis Center for Democracy and Civilization Studies (CDCS) pada hari minggu (25/11) melaksanakan kajian dwi pekanan jilid ke 2 bertajuk “Pemilu 2019 : Bagaimana Nasib Partai Politik Islam ?” di SB Corps Jalan joko, Talang Semut Palembang.

Dalam kajian kali ini CDCS mendatangkan narasumber dari akademisi yaitu Zainul Arifin, S.H, M.H selaku dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dan praktisi politik yaitu perwakilan partai politik Islam yang pada kesempatan hari ini dihadiri oleh Partai Bulan Bintang (PBB)  Rahmadi Jakfa dan Ibu-ibu Muslimah Bulan Bintang) dan Partai Amanat Nasional (PAN) diwakili M. Asnadi dan  Fuji.

Baca:  Satgas TMMD Ke 104 Kodim 0418 Palembang, Pamitan  dengan Pak Salim

Direktur Eksekutif CDCS, Alip Dian Pratama, S.H, M.H membuka kajian ini dengan memberikan paparan hasil pemilu legislatif di Indonesia sejak tahun 1955 sampai dengan 2014.

“Dari hasil pemilu di Indonesia kami melihat tiga hal. Pertama, sejak dilaksanakannya pemilu suara partai politik Islam cendrung mengalami penurunan persentase dari 43,7% menjadi 31,4%. Kedua, jumlah penduduk muslim Indonesia tidak berbanding lurus dengan pilihan partai politik. Ketiga, pemahaman penduduk muslim masih jauh dari perkara urusan negara” ujar Alip yang juga merupakan Dosen di Universitas Taman Siswa, Palembang.

Baca:  DPC PBB Diberi Wewenang Penuh Jaring Balonbup

Zainul Arifin sebagai salah satu narasumber mengunggapkan bahwa kegagalan partai politik Islam terjadi karena, tidak adanya tokoh Islam yang menjadi icon seperti Partai Nasionalis yang memiliki tokohnya masing-masing. Kemudian sistem kaderisasi parpol Islam yang terkesan monoton dan lemahnya pendidikan politik, terakhir pragmatisme yang begitu masif baik personal politisi maupun pragmatisme partai karena kekuasaan, pendanaan, dan sebagainya.

Baca:  Ada 16 Persen Pengaruh Politik Uang Di Pilkada Palembang

Kajian berjalan interaktif dan hangat karena terjadi diskusi dua arah baik dari narasumber maupun peserta kajian.

Peserta kajian dwi pekanan sendiri terdiri dari berbagai kalangan, baik dari organisasi kemahasiswaan, organisasi kedaerahan, tenaga ahli DPR RI, pelajar, perwakilan parpol Islam, dan institusi lainnya.

Kajian diakhiri dengan steatment dari masing-masing narasumber dengan harapan kedepannya agar partai politik Islam tetap eksis dan bisa berkontribusi yang lebih signifikan dalam mengatur kebijakan dan mengelola negara.osk/ril

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pempek Palembang Di usulkan Ke Unesco

Palembang, BP Pempek yang merupakan makanan khas Palembang yang terbuat dari daging ikan yang digiling lembut dicampur tepung sagu serta ...