Home / Headline / Ekspedisi Sriwijaya Menghukum Jawa

Ekspedisi Sriwijaya Menghukum Jawa

Dudy Oskandar

Oleh : Dudy Oskandar, Jurnalis

Para sejarawan  memperkirakan, bahwa pendiri dan raja pertama  Sriwijaya adalah Dapunta Hyang. Berdasarkan prasasti Kedukan Bukit dan prasasti Talang Tuwo,  mengidentikkan Dapunta Hyang dengan Sri Jayanasa. Dapunta Hyang juga sering diidentikkan dengan Dapunta Sailendra yang merupakan leluhur raja-raja Buddha di Medang. Pendapat ini berdasarkan prasasti Sojomerto (abad ke-7) yang ditemukan di Batang, Jawa Tengah.

     Diperkirakan, bahwa Dapunta Hyang merupakan gelar Sri Jayanasa sewaktu menjadi raja pertama di Sriwijaya (671- 702). lstilah “hyang” dalam kebudayaan asli Nusantara merujuk pada keberadaan spiritual supernatural yang berhubungan dengan roh leluhur atau dewata, sehingga muncul dugaan, bahwa Dapunta Hyang gemar melakukan perjalanan suci (siddhayatra) untuk memperoleh kekuatan spiritual atau kesaktian. Kekuatan spiritual tersebut yang menjadikan persumpahan Dapunta Hyang dianggap bertuah hingga ditakuti oleh para datu (penguasa daerah) bawahannya.

Menurut I-tsing, seorang pendeta Buddha yang pernah mengunjungi Sriwijaya (671) dan tinggal selama 6 bulan memberikan kesaksian, bahwa Dapunta Hyang merupakan raja Sriwijaya dengan ibu kota di Minanga Tamwan yang penuh dengan kebajikan.

Masa Pemerintahan Dapunta Hyang Disebutkan di atas, bahwa Dapunta Hyang memerintah Sriwijaya selama 31 tahun, yaitu sejak 671 hingga 702, selama menjadi raja, Dapunta Hyang memperkuat armada penngnya. Dengan armada penngnya, Dapunta Hyang melakukan ekspansl wilayah kekuasaannya.

Misi ekspansi wilayah kekuasaan dengan bercadar perjalanan suci (siddhayatra) yang dilakukan oleh Dapunta Hyang dijelaskan pada prasasti Kedukan Bukit, Kota Kapur, Karang Berahi, dan Palas Pasemah. Menurut prasasti Kedukan Bukit, Dapunta Hyang melakukan siddhayatra dengan nail: perahu. Berangkat darl Minanga Tamwan dengan membawa satu armada berkekuatan 20.000 bala tentara menuju Matajap dan menaklukkan beberapa daerah.

Mengacu pada keterangan prasasti-prasasti tersebut, bisa disimpulkan bahwa dengan misi siddhayatra, Dapunta Hyang berhasil menguasai sebagian daerah di Sumatera, semisal Jambi, Palembang, dan selatan Lampung.

Baca:  Polisi Akan Ungkap Pelaku Pengrusakan Kapel Rantau Alay

Dalam perkembangan selanjutnya, Sriwijaya di bawah kepemimpinan Depunta Hyang mampu menaklukkan Bangka dan Tanah Genting Kra atau Melayu (Prasasti Ligor B). Dapunta Hyang juga berhasil menguasai wilayah Tulang Bawang (prasasti Palas Pasemah).

Meskipun sebagai raja yang berambisi untuk melakukan ekspansi wilayah kekuasaan, Dapunta Hyang yang memiliki spirit Buddhis tersebut senantiasa menyejahterakan rakyatnya. Fakta ini ditunjukkan melalul prasasti Talang Tuo yang menyebutkan, bahwa pembuatan Taman Sriksetra yang dilakukan oleh raja ditujukan untuk kemakmuran semua makhluk. Selain kemakmurkan, Dapunta Hyang juga mengutamakan kesatuan dan keadilan bagi seluruh rakyat Sriwijaya.

Berdasarkan Prasasti Kota Kapur yg yg berangka tahun 682 dan ditemukan di pulau Bangka menyebutkan bahwa Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum  Jawa yang tak berbakti kepada Sriwijaya peristiwa ini bersamaan dengan  runtuh Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah yg kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya.

Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka Selat Sunda Laut China Selatan Laut Jawa dan Selat Karimata.

Abad ke-7 orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera yaitu Malayu dan Kedah dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya. Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.

Menurut catatan pada masa ini pula wangsa Melayu-Budha Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana.

Di abad ini pula Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. Di masa berikut Pan Pan dan Trambralinga yg terletak di sebelah utara Langkasuka juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Di abad ke-9 wilayah kemaharajaan Sriwijaya meliputi Sumatera Sri Lanka Semenanjung Malaya Jawa Barat Sulawesi Maluku Kalimantan dan Filipina. Dengan penguasaan tersebut kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yg hebat hingga abad ke-13.

Baca:  Money Politik Sulit Diproses

Sriwijaya Menghancurkan Tarumanegara

Tarumanegara merupakan kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat Pulau Jawa dari abad ke-4 hingga ke7. Dalam catatan sejarah, Tarumanegara yang didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 itu merupakan kerajaan Hindu beraliran Wisnu. Sepeninggal Jayasingawarman, takhta kekuasaan Tarumanegara dikuasai oleh Dharmayawarman (382-395).

Sepeninggal Dharmayawarman, takhta kekuasaan Tarumanegara diduduki oleh Purnawarwan (395434). Semasa pemerintahan Purnawarman, ibu kota Tarumanegara dipindahkan di dekat pantai pada tahun 397. Name ibu kota kerajaan tersebut adalah Sundapura. Dari situlah nama Sunda pertama kali digunakan.

Masa kerajaanTarumanegarayang berlangsung selama 311 tahun tersebut dikuasai oleh 12 raja yang memerintah secara berurutan. Keduabelas raja tersebut yaitu Jayasingawarman, Dharmayawarman, Purnawarman, Wisnuwarman, lndrawarman, Candrawarman, Suryawarman, Kertawarman, Sudhawarman, Hariwangsawarman, Nagajayawarman, dan Linggawarman.

Linggawarman yang berkuasa di Tarumanegara pada tahun 666-669 tersebut memiliki dua orang putri. Putri sulungnya yang bernama Manasih menikah dengan Tarusbawa dari Sunda. Sementara putri bungsunya yang bernama Sobakancana menikah dengan Dapunta Hyang (raja Sriwijaya). Sesudah Linggawarman mangkat (669), takhta Tarumanegara jatuh di tangan Tarusbawa.

Terdapat dugaan, bahwa semasa pemerintahan Tarusbawa yang lebih memilih menjadi raja di Sunda tersebut sebagai pemicu runtuhnya Tarumanegara. Menurut para sejarawan, runtuhnya kerajaan tersebut dikarenakan Dapunta Hyang yang merupakan menantu Linggawarwan berhasrat menguasai wilayah warisan mertuanya.

Bila merujuk pendapat para sejarawan, Kalingga yang merupakan kerajaan tertua di Jawa dengan pusat pemerintahan di Keling (sekarang antara Pekalongan dan Jepara) tersebut dikuasai oleh Kartikeyasingha (648-674). Sementara itu, prasasti Sojomerto (1 670-700) menyatakan. bahwa Dapunta Hyang yang identik dengan Dapunta Saiiendra tinggal di Jawa pada tahun 674. Prasasti tersebut juga menyebutkan raja Santana yang merupakan raja bawahan Sriwijaya.

Baca:  Jokowi Optimis, Akhir Desember Surveynya di Sumsel di angka 50 persen Ke Atas

Terdapat beberapa sejarawan yang menyebutkan, bahwa Kartikeyasingha menikahi Ratu Jay Shima, putri Dapunta Sailendra (raja Sriwijaya) yang lahir dari Sempula. Bila teori tersebut selaras dengan fakta sejarah, maka hubungan Kartikeyasingha dengan Dapunta Sailendra adalah menantu dan mertua. Oleh karena itu, sangat wajar, bila semasa pemerintahan Ratu Jay Shima (paska kemangkatan Kartikeyasingha) pada tahun 674-732, Kalingga menjalin persahabatan dengan Sriwijaya.

Paruh terakhir masa pemerintahan Ratu Jay Shima, Dapunta Sailendra yang meninggal pada tahun 702 tersebut tidak terdengar Iagi namanya. Namun, semasa pemerintahan Rakai Panangkaran Dyah Pancapana yang berhasil menggulingkan kekuasaan Ratu Sanjaya (cicit Ratu Jay Shima) di Medang, nama Depunta Sailendra kembali mengemuka. Mengingat Rakai Panangkaran diperkirakan sebagai keturunan Dapunta Sailendra.

Nama Dapunta Sailendra semakin dielu-elukan ketika keturunannya, yaitu Rakai Panangkaran Dyah Pancapana, Rakai Panunggalan Dyah Dharanendra, Rakai Warak Dyah Samaragrawira, dan Rakai Garung Dyah Samaragriwa (Dyah Samaratungga) berturut-turut menjadi raja Sriwijaya dengan ibu kota di Medang. Dari fakta inilah, para sejarawan kemudian menyebutkan, bahwa Medang sejak pemerintahan Rakai Panangkaran Dyah Pancapana hingga Rakai Garung Dyah Samaragriwa dikuasai oleh Dinasi Sailendra. #

 

Sumber:

 

  1. http://www.wikiwand.com
  2. http://pengetahuankita22.blogspot.com
  3. Sejarah Runtuhnya Sriwijaya dan Majapahit (Menelusuri Jejak Sandyakala Imperium Besar Nusantara) oleh : Sri Wintala Achmad, penerbit : Araska Sekar Bakung Residence No. B1, Yogyakarta, cetakan pertama , September 2018

 

 

 

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pelantikan Ketua DPRD Sumsel Tunggu SK Kemendagri

Palembang, BP Kapan pelantikan Ketua DPRD Sumsel belum dapat dipastikan. Pasalnya hingga kini, sekretaris DPRD Sumsel belum menerima Surat Keputusan ...