Home / Headline / Tradisi Rabu Kasan Harus di Lestarikan Atau Perlahan Dibiarkan Punah?

Tradisi Rabu Kasan Harus di Lestarikan Atau Perlahan Dibiarkan Punah?

BP/IST
Rumah Budaya Nusantara Dayang Merindu Palembang Sumsel Dan Sanggar, Hj Masayu Anna Kumari tahun ini kembali akan menyelenggarakan dan melestarikan tradisi Palembang yang hampir punah yaitu tradisi Rabu Akhir atau Rebo Kasan , Rabu (7/11) nampak suasana bekela di kawasan Kambang Iwak Palembang yang dihadiri Kepala Dinas Parwisata Palembang Isnaini Madani dan jajaran, perwakilan Kesultanan Palembang Darussalam dan masyarakat umum.

Palembang, BP
Kota Palembang dengan sejarah gemilangnya yang panjang pada masa lampaunya yaitu pada masa kebesaran Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam yang merupakan warisan budaya yang mempunyai arti tinggi , salah satu kebesaran kedua masa tersebut berupa adat istiadat, sayang karena perkembangan zaman banyak tradisi dan adat istiadat tersebut yang sudah hampir menghilang bahkan nyaris punah karena tidak pernah dilaksanakan dan dilestarikan lagi oleh masyarakat setempat, tradisi tersebut diantaranya Rebu Kasan atau tradisi yang berisi rangkaian shalat sunat safar, bekela, mandi safar yang hanya dilaksanakan pada hari rabu terakhir pada bulan safar.
Dimana tujuannya untuk menolak bala atau malapetaka dengan cara melakukan shalat sunat di masjid, masjid, mushola, langgar atau surau sekaligus berdoa memohon perlindungan dari Allah SWT.
Rumah Budaya Nusantara Dayang Merindu Palembang Sumsel Dan Sanggar, Hj Masayu Anna Kumari tahun ini kembali akan menyelenggarakan dan melestarikan tradisi Palembang yang hampir punah yaitu tradisi Rabu Akhir atau Rebo Kasan , Rabu (7/11) dimulai dengan shalat sunat safar di Masjid Islah , 14 Ulu dan dilanjutkan bekela di kawasan Kambang Iwak Palembang yang dihadiri Kepala Dinas Parwisata Palembang Isnaini Madani dan jajaran, perwakilan Kesultanan Palembang Darussalam dan masyarakat umum.
Selain itu sejumlah mesjid,langgar,musholah, yang dari dulu masih melaksanakan sholat sunat safar di kota Palembang antara lain :
Mesjid Islah 14 ulu, Mesjid Jami’ di sungai lumpur 11 ulu, Langgar setia atau sabillah,langgar sepakat di kelurahan 9/10 ulu, Langgar kenduruaan di 7 ulu, Mesjid baitulrahman di silabranti, Langgar suka damai di 14 ulu, Musholah Sukalillah di 16ulu ( dilaksanakan malam Rabu lepas Magrib) , Musholah Amrullah di trikora .Dll, malahan Lr Kenduruan di 7 ulu juga melaksanakan bekela. .di lapangan dekat rumah. Mayoritas keturunan Arab dan Palembang.
Hj Masayu Anna Kumari mengatakan, tradisi Rabu Kasan ada menyebutnya Rebu Akhir atau Akhir Rebu.
“Saya menyelenggarakan acara ini ada dua tempat , di Kampung Kenduruan boleh kalau mau datang , yang hadir orang Seberang Ulu,” katanya.
Menurut Anna Kumari, dibulan safar yang banyak musibah yang didatangkan oleh Allah SWT.
“Kita sudah lihat dimana-mana ada banjir, kebakaran, yang sakit, ada tanah longsor dan macam –macam musibah yang datang bulan safar, karena itulah kami ada tradisi shalat sunat safar empat rakaat dan tidak berimam , jadi acara ini sudah hampir punah dan saya berusaha untuk menghidupkan kembali yang telah hampir punah ini ,” kata Hj Anna Kumari saat ditemui saat bekela di kawasan Kambang Iwak, Palembang, Rabu (7/11).
Menurut wanita kelahiran Palembang, 10 November 1945 ini , rangkaian kegiatan Rebu Kasan tersebut dimulai dengan shalat sunat safar dengan membaca doa tolak balak dan sebagainya dilanjutkan dengan bekelah ditepi sungai, danau atau ditempat yang sepi sambil makan-makan.
Setelah itu, dilanjutkan dengan bekelah atau makam bersama dan bergembira dan mengucapkan syukur kepada tuhan karena diberikan rahmat.
Dan terakhir adalah mandi safar tapi saat ini susah dilaksanakan , karena tempat mandinya susah saat ini karena sungai-sungai di Palembang sudah kering dan kotor.
“Kadang bawa air sendiri seperti dari shalat sunat safar tadi bawa air lalu di minum , habis shalat safar dan dimandikan atau membersihkan diri, “ kata peraih Penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto (1993), Penghargaan Perkumpulan seni Singapura (1991), Penghargaan seni dari Gubernur Sumatera Selatan (2001), Panghargaan Kebudayaan Kategori Pelestari (2015) ini.
Anna menyayangkan, tradisi ini hampir punah dan sebagian masyarakat Palembang tidak tahu dengan tradisi ini .
BP/

BP/DUDY OSKANDAR
Anna Kumari

“Jadi maksud saya mengadakan kegiatan ini setiap tahun agar masyarakat tahu , apa itu Rebu Kasan, jadi tujuan saya untuk memperkenalkan kepada mereka yang belum tahu , memberitahukan, kita angkat kembali tradisi yang hampir punah ini, karena ada hubungannya dengan agama,” katanya.
Anna mengaku, berusaha sekuat tenaga dengan keluarganya untuk tetap dan terus melestarikan tradisi ini dengan dana sendiri.
“ Umur saya sudah di ujung senja tapi saya masih mau berbuat mengangkat tradisi yang hampir punah ini,” kata pencipta Tari Tepak Keraton tahun 1966 .
Anna berharap, agar agar tradisi Rebu Kasan dapat dilestarikan di kota Palembang dan berharap pemerintah dalam melestarikan tradisi ini agar bisa lestari di kota Palembang.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata kota Palembang Isnaini Madani berjanji akan terus mentradisikan dan melestarikan Rebu Kasan ini .
Menurutnya kedepan Rebu Kasan akan dijadikan agenda wisata seperti ziarah kubro , Haul Kiyai Zawawi dan Haul Kimerogan .
“ Ini perlu kolaborasi dengan kesra karena ini ada kaitan dengan tradisi Islam,” katanya ditemui di sela-sela acara Bekela di kawasan Kambang Iwak, Palembang, Rabu (7/10).
Pihaknya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Anna Kumari yang sudah melestarikan Rabu Kasan ini , dan dia berharap tradisi ini bisa menjadi agenda wisata sehingga anggaran pemerintah bisa membantu tradisi Rabu Kasan .

BP/IST
Tradisi shalat sunat safar di salah satu masjid di Palembang

“ Kalau sudah masuk kalender wisata yang hadir kalangan wisatawan bukan hanya dalam negeri juga mancanegara akan kita undang, ini nak senianan nian kagek,” katanya.
Dan kedepan tradisi Rabu Kasan menurutnya akan dikemas dalam bentuk meriah, lebih besar dan atraksinya akan diperbanyak tapi yang Islami dengan mengundang juga komunitas UIN Raden Fatah, kesenian gambus dan lainnya sehingga menjadi bernilai wisata.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

DPRD Sumsel Minta Inventarisir Ulang Lahan Pemprov Yang di BOT

Palembang, BP   Juru bicara Fraksi PDI Perjuangan HA Syarnubi SP MM meminta perhatian pemprov melalui BPKAD bidang aset untuk ...