Home / Headline / Paduan Rima Puisi Dengan Nada Musikal Dalam  Perahu Tak Lagi Ketambatkan”

Paduan Rima Puisi Dengan Nada Musikal Dalam  Perahu Tak Lagi Ketambatkan”

BP/Dudy Oskandar
Seorang pecinta seni puisi, Amanda Maida Lamhati yang juga dikenal dengan sapaan akrab Fir Azwar,  bersama Iir Stoned  mengenalkan  beberapa karyanya melalui pentas antologi dan album musikalisasi dalan buku antologi dan album musikalisasi  berjudul “Perahu tak lagi ketambatkan” yang diadakan di Auditorium RRI Palembang, Jalan Radio, 20 Ilir Kota Palembang, Sabtu  (27/10).

Palembang, BP

Seorang pecinta seni puisi, Amanda Maida Lamhati yang juga dikenal dengan sapaan akrab Fir Azwar,  bersama Iir Stoned  mengenalkan  beberapa karyanya melalui pentas antologi dan album musikalisasi dalan buku antologi dan album musikalisasi  berjudul “Perahu tak lagi ketambatkan” yang diadakan di Auditorium RRI Palembang, Jalan Radio, 20 Ilir Kota Palembang, Sabtu  (27/10).

Acara tersebut terlaksana atas dukungan dan kerjasama berbagai pihak seperti Dewan Kesenian Palembang , Lembaga Budaya Ulu Melayu (LBUM), RRI Palembang, serta Hutan Tropis Band, Dll.

Dalam pagelaran tersebut ratusan orang yang rata rata pelajar ramai menyaksilan pagelaran tersebut, sampai sampai membludak hingga tak kebagian kursi.
Dalam peformanya, Iir Stoned yang berusaha mengolaborasi unsur nada kata dengan nada musikal diragap cukup apik. Sedangkan latar belakang musik pengiring, menampilkan unsur nada cadas, atau rock yang menggelegar.
Latar belakang  pergelaran musikalilasasi puisi itu dibarengi peluncuran buku puisi Perahu tak Lagi Kutambatkan karya Amanda Maida Lamhati.
Tampaknya seluruh syair yang menghiasi musikalisasi puisi itu sengaja diambil dari antologi puisi tersebut.
“Saya mencoba mengekspresikan kemampuan musikal yang dipadu dengan syair puisi karya Bung Fir Azawar, Mas,”  kata Iir Stoned.
Memasukkan unsur diksi puisi ke dalam nada-nada musikal tidak gampang. “Karena kendala paling utama adalah jumlah kata dengan baris-baris nada. Jika jumlahnya cocok, barulah kita aransir, sehingga menjadi paduan unsur yang menarik,” katanya.
Mengangkat unsur puitik ke dalam nada bukan hal baru. Pada dekade 1980-an, Ebit G Ade telah memulai bagaimana cara melagu-lagukan syair puisinya yang berisi nasihat tentang kehidupan, sekaligus mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta (Tuhan).
Penampilan  Iir Stoned dan kawan-kawan kemarin, lebih cenderung mengatraksikan nilai pementasan teatralitas. Sebab latar belakang tampilannya tak ubahnya pentasan teater.
Paduan atraks lakon teater yang menyajikan unsur unjukrasa, tari,  pantomim, orang melukis, serta sejumlah peralatan yang mencerminkan latar belakang Batanghari Sumbilan, lebih kuat mengilustrasi kewilayah Sumatera Selatan.
Dari ungkapan musik yang disajikan cukup menjelaskan tentang unsur kedaerahan. Apalagi saat pementasan tampil pembaca puisi Vebri Al-Lintani dan Yanti, yang mengenakan busana Sumatera Selatan, ini menujukkan kecintaannya terhadap daerah.
Seperti dikatakan Korrie Layun Rampan, sebagian besar orang sulit untuk melupakan bentuk dan corak daerah  tempat ia dilahirkan.
Unsur musikalisasi puisi Iir Stoned itu tidak menunjukkan pembaruan corak musikal. Kalau Ebit mengilustrasi puisinya dengan musik balada, Iir lebeih cenderung menggunakan unsur musik rock.
Ini bukan kreatifitas, tapi pilihan awal untuk  menunjukkan kreatifitasnya sebagai seniman musik Sumsel.
Sedangkan Fir Azwar atau nama penanya Amanda Maida Lamhati secara jujur mengungkap lewat puisinya, Aku Bukan Penulis Puisi secara jujur tidak berharap untuk disebut  sebagai penyair. Tapi proses dan eksperiencenya akan menentukan apakah dia layak untuk tampil sebagai penyair Indonesia.
Pergelaran itu diawali penanpilan Iir dan Amanda. Sayangnya paduan suara keduanya hanya menyajikan satu suara. Tak ada suara dua sebagai unsur estetika dalam sebuah lagu. Yang kita dengar hanya suara satu yang dilantunkan dalam dua suara (Iri dan Amanda).
Menurut Tarech Rasyid, harmonisasi dalam melantunkan lagu harus ada suara I, II dan suara III seperti lagu- lagu Koes Plus, misalnya.
“Apabila saat pementasan itu ada suara seorang wanita, alangkah sedapnya,” ujar Tarech yang juga aktifis kemasyarakatan dan penulis puisi Sumsel.
Seperti dikatakan penyair Arab, Zuhayr bin Abi Sulma, dalam rangkaian kata itu akan muncul diksi yang menebarkan rhtym and rime.
Nada dan irama inilah yang menyegarkan nilai-nilai estetika sebentuk puisi. “Jika dirangkai ke dalam gambus (alat petik musik Arab), syair itu menyentuh sebagai bentuk seni yang kompleks,” ujar Zuhayr dalam jurnal puisi dunia 1952 halaman III.
Menurut Fir Azwar ( Amanda Maida Lamhati), pada dekade 1980-akhir ia sudah menulis puisi. Bahkan, sembari melukis Fir merasakan tiap kata yang ia tulis mengajak dirinya untuk memahami nilai-nilai kehidupannya.
“Makanya, sembari melukis, saya juga menulis puisi. Tapi terserah, apakah puisi itu akan menjadi kelengkapan puisi-puisi lain seperti yang ditulis Anwar Putra Bayu, Anto Narasoma atau penyair Arif Permana, saya serahkan saja ke proses alam selama kreatifitas saya masih terus berjalan,”  katanya.#osk
Baca:  Tiga Penumpang Tinggal Jasad, Jurumudi Speedboat Jadi Tersangka
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Belman Karmuda Tutup Usia

Palembang, BP Mantan Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang juga Kepala Biro Kesra Setda Sumsel Belman Karmuda meninggal ...