Home / Headline / Masyarakat Harus Membuat  Sensor Mandiri Terhadap Tontonan Film

Masyarakat Harus Membuat  Sensor Mandiri Terhadap Tontonan Film

BP/Dudy Oskandar
Ketua LSF RI, DR. Ahmad Yani Basuki dan Ketua MSI cabang Sumsel Farida R Wagadalem berpoto bersama dalam acara Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri, di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Sabtu (27/10).

Palembang, BP

MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) cabang Sumatera Selatan  (Sumsel)dan LSF (Lembaga Sensor Film) RI menggelar Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri, di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Sabtu (27/10) yang melibatkan stakeholder terkait, di Aula Fakuktas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, Sabtu (27/10) dengan tema  “Masyarakat Sensor Mandiri, Wujud Kepribadian Bangsa”.

Sebelum  setelah acara sosialisasi dianjutkan pelantikan pengurus MSI cabang Sumsel periode 2018-2023.

Hadir dalam Kegiatan tersebut  Wakil Rektor III Universitas Sriwijaya, Ketua LSF RI, HUMAS UINRF,  para Dosen dan Guru Sejarah, serta Mahasiswa dari beberapa dari perguruan tinggi di Sumsel seperti Unsri dan UMP.

Baca:  Tidak Ada Perubahan Rekomendasi Di Pilkada Sumsel

Menurut Rektor Universitas Islam Negeri Raden Fatah (UINRF) Palembang, Prof. Drs. H. M. Sirozi, M.A., Ph.D.   acara Sosialisasi LSF dan MSI seperti ini sangat baik bila digelar disini, selain secara akademik menunjang beberapa Fakultas disini, juga berkaitan dengan Distingsi UIN tentang Sejarah dan Peradaban Islam Melayu.

Sirozi menambahkan  dengan Distingsi UINRF yang akan menjadikan Peradaban Islam Melayu, tentu harus ditunjang oleh banyak kegiatan dan kerjasama antar lembaga, serta kompetensi Fakultas-fakultas kearah peradaban Islam Melayu Nusantara, salah satunya dengan ikatan kerjasama antar lembaga seperti LSFRI dan MSI.

“Kedepan, UIN raden Fatah dan LSF RI serta MSI dapat meningkatkan kerjasamanya, sesuai dengan motto bersama kita bisa,  bersatu kita teguh” Ujarnya Rektor yang disambut tepuk tangan para hadirin.

Sedangkan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel)  yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Priwisata Sumsel, Irene Sinaga memberikan apresiasi yang baik bahwa denga kegiatan yang dalaksanakan di Fakultas adab, dan menyampaikan permohonan maaf gubernur yang belum dapat hadir karena ada agenda pada kegiatan ditempat yang lain.

Baca:  Keith Duffy dan Brian McFadden Kagumi Kota Palembang

Dr. Ahmad Yani Basuki, M.Si., selaku Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) RI menilai, kesadaran masyarakat, untuk memilih film sebagai tontonan yang layak, masih sangat jauh dari yang diharapkan, oleh karena itu LSF hadir ditengah masyarakat untuk mengingatkan tentang persoalan ini dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjadikan budaya sensor mandiri, yaitu prilaku sadar dan cerdas untuk memilih film sebagai tontonan.

“Kesadaran inilah yang kita ingin bangun bersama, dari situlah kami mengajak berbagai pihak,termasuk hari ini di Palembang,”  katanya.

Menyikapi masalah sangsi, Ahmad Yani menjelaskan, sebenarnya undang-undang perfilman sudah ada, namun belum semuanya diatur dan semuanya juga belum di tata melalui peraturan pemerintah maupun peraturan menteri terutama yang mengatur tentang sangsi.

Baca:  Media di Sumsel Lebih Baik Dalam Jaga Profesionalisme, Independensi dan Netralitas

“Memang dijelaskan di undang-undang, apabila melanggar peraturan akan di kenai sangsi, nah bagaimana pelaksanaannya, siapa eksekutornya, itulah yang masalah sekarang ini,  sementara LSF tidak berdiri sebagai eksekutor,” Kata Mantan Anggota TNI yang pernah bertugas di Karang Endah Prabumulih.

Sedangkan Ketua MSI cabang Sumsel Farida R Wargadalem mengatakan, masyarakat saat ini terpapar dengan film asing yang jauh dari kearipan lokal dan tidam ada yang bisa menghentilannya.

Padahal film mampu menurutnya mempengaruhi prilaku manusia.

Dengan adanya sensor mandiri bagi kita semua dapat menimbulkan  pemahaman bertahap tentang film sehingga sensor mandiri  masyarakat dapat di laksanakan.

 Selain itu kearipan lokal menurutnya bisa menjadi pembendung pengaruh budaya asing yang cenderung negatip di masyarakat.

“Bagaimana kita bisa  menciptakan film berkonsepkan kearipan lokal, jika sebuah film berlandaskan kearipan lokal dan dibuat serius berdasarkan riset yang benar maka semuanya akan tertarik menonton film ini, ” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

DPRD Sumsel Minta Inventarisir Ulang Lahan Pemprov Yang di BOT

Palembang, BP   Juru bicara Fraksi PDI Perjuangan HA Syarnubi SP MM meminta perhatian pemprov melalui BPKAD bidang aset untuk ...