Home / Headline / Djaja Minta Nama Baiknya  di Bersihkan

Djaja Minta Nama Baiknya  di Bersihkan

BP/Dudy Oskandar
Djaja Suryanto ( kiri baju kaos hijau ) didampingi Salim Gunawan SH  dan Ahmad Hassan SH, Minggu (28/10).

Palembang, BP

Djaja Suryanto (47) warga Sungai Bendung Palembang mengaku telah menjadi korban Kriminalisasi.
Dia mengaku merasa dizolimi lantaran kasus yang dialaminya justru mengantarkannya masuk ke jeruji besi. sakitnya lagi, dia mengaku tak melakukan kesalahan atas perkara yang menjeratnya.
Dia pun berjuang sendiri hingga keputusan Mahkamah Agung menetapkannya tidak bersalah dan semua pihak yang terkait atas kasusnya diminta segera melakukan pemutihan atau pembersihan nama baiknya.
Keputusan MA no 1212 K/PID/2016 seakan memberi angin segar kepadanya bahwa ternyata hukum di Indonesia tidak tumpul alias berat sebelah. Padahal di Pengadilan Tinggi Negeri Palembang, Djaja diputus bersalah dan harus menjalani hukuman hampir dua tahun.
Namun baru satu tahun menjalani hukuman rupanya MA memutuskan pria ini tidak bersalah dan membebaskannya dari segala tuduhan dan perkara yang menderanya.
“Saya merasakan sendiri bagaimana menjalani hari-hari di lapas Pakjo selama 360 hari atas kesalahan yang justru tidak saya lakukan,” katanya, Minggu (28/10).
Dia berupaya terus mengingat kenangan pahit yang menderanya. Sambil membawa dokumen perkaranya secara lengkap,
Djaja yang didampingi dua pengacaranya, yakni Salim Gunawan SH  dan Ahmad Hassan SH mengaku kasus dugaan penipuan bermula saat dia mengajak seorang pengacara untuk bekerjasama menagih uang pembelian sejumlah tanah kepada salah satu konsumennya. Nilai uang yang ditagih itu capai Rp 350an juta.
Lalu dibuatlah surat perjanjian kerjasama dan surat kuasa dengan sang pengacara.
Dalam surat tertera fee atau uang jasa pengacara itu sebesar Rp 50 juta. Setelah separuh waktu perjanjian berjalan, ternyata pengacara tersebut meminta fee pembayaran jasanya.
Namun, kata Djaja, lantaran kerjaan belum selesai atau separuh jalan, Djaya akhirnya memberikan pengacara tersebut cek senilai Rp 50 juta.
“Cek itu saya berikan ke pengacara ST. Cek saya tandatangani sekitar Juni 2015 dan bisa dicairkan pada Agustus 2015 atau dua bulan sesudahnya. Namun karena pekerjaan belum tuntas makanya uang di bank belum saya cairkan,”katanya.
Tidak cairnya uang tersebut, kata dia, bukan karena Djaya ingin menahan honor pengacara namun karena pekerjaan yang dilakukan pengacara itu belum tuntas. Tak heran, begitu pengacara melakukan pencairan cek, ternyata dana tidak tersedia di bank. “Padahal ini ada bukti transaksi rekening saya  disalah satu bank di Palembang itu ada. Bahkan tertulis jelas hampir Rp 2 miliar,”katanya.
Pencairan sendiri dilakukan  di salah satu bank , bukan bank yang mengeluarkan cek tersebut.
“Artinya ini ada lintas bank untuk pencairan. Dana di bank  ini namun minta dicairkan di bank lain. Lalu pihak bank mengeluarkan surat keterangan transaksi ditolak karena dana tidak ada. Saya lihat kasus ini dibawa ke ranah pidana atau dianggap sebagai penipuan. Padahal secara kasat mata ini adalah perkara Perdata,”katanya.
Yang anehnya lagi, sebut dia, pemanggilan dirinya pun terkesan dipaksakan tanpa ada BAP tertulis dari pihak kepolisian. Dirinya langsung dijemput paksa dan langsung dijebloskan ke lapas dua hari setelah laporan drai pengacara itu ke kepolisian.
“Kasusnya sangat cepat. Bukti yang diberikan pengacara juga hanya surat kuasa yang saya lihat juga dipalsukan. Hanya ada saksi ahli, yakni pihak dari Bank Indonesia, ini yang jadi saksi yang memberatkan saya. Juga ada pengakuan dari bank, kedua bank yang berkaitan dengan  masalah ini” katanya.

Akhirnya setelah melalui proses peradilan, Djaja diputus bersalah oleh Pengadilan Tinggi Negeri Palembang. Namun Djaja tak gentar. Dia terus berjuang hingga tingkat kasasi MA yang memutusnya tidak bersalah. Dalam delik putusan MA pada November 2017, lalu disebutkan Djaja tidak bersalah dan membebaskan dari semua dakwaan Penuntut Umum.

Baca:  Antisipasi Karhutbunla, Dansatgas Bersama Dansubsatgas Gelar Doa Bersama
Juga wajib memulihkan hak Djaja dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya. Juga memerintahkan agar Djaja dikeluarkan dari tahanan.
“Makanya saya minta, baik pihak pengadilan, pengacara yang melaporkan saya, pihak bank termasuk bank Indonesia agar segera melakukan pemulihan nama baik saya. Saya minta itikad baik dari mereka. Karena sudah jelas ditingkat kasasi MA dinyatakan bahwa saya tidak bersalah,” katanya.#osk
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

DPRD Sumsel Minta Inventarisir Ulang Lahan Pemprov Yang di BOT

Palembang, BP   Juru bicara Fraksi PDI Perjuangan HA Syarnubi SP MM meminta perhatian pemprov melalui BPKAD bidang aset untuk ...